Tuesday, 20 Zulqaidah 1440 / 23 July 2019

Tuesday, 20 Zulqaidah 1440 / 23 July 2019

Konspirasi Itu Seperti Orang Buang Angin

Senin 17 Jun 2019 06:03 WIB

Red: Elba Damhuri

Ikhwanul Kiram Mashuri

Ikhwanul Kiram Mashuri

Foto: Republika/Daan
Arab Saudi dan UEA telah bertekad untuk menghancurkan Houthi Syiah.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ikhwanul Kiram Mashuri

Ramadhan lalu saya sengaja tidak menulis masalah-masalah panas yang terjadi di kawasan Timur Tengah. Saya juga tak menulis tentang isu-isu kontemporer tentang Islam dan umat Islam.

Saya lebih suka menulis hal-hal yang adem, yang menginspirasi, contoh baik, teladan yang bisa kita anut. Semuanya tokoh perempuan. Mereka adalah Umi Kalsum, Rabi’ah al-Adawiyah, Siti Hawa, dan Khadijah.

Umi Kalsum berhasil memersatukan bangsa-bangsa Arab lewat lagu-lagunya. Ia juga sosok nyata yang mencintai negaranya. Saat Mesir mengalami defisit anggaran pascaperang dengan Israel pada 1967, ia langsung menggelar konser keliling dunia, yang seluruh hasilnya ia serahkan kepada negara.

Sementara itu, Rabi’ah al-Adawiyah merupakan sufi perempuan yang mencetuskan tren baru dalam tasawuf, bernama hubb atau mahabah. Bukan melalui pendekatan khauf (khawatir atau takut) atau raja’ (harapan) dalam berinteraksi dengan Allah SWT. Khauf dan raja’ dianggap masih berjarak dengan Sang Pencipta. Sedangkan hubb atau mahabah adalah cinta yang menyatu terhadap Zat Allah ‘Azza wa Jalla.

Sedangkan Siti Hawa merupakan manusia kedua yang diciptakan Allah SWT setelah Nabi Adam AS. Ia merupakan ibu seluruh umat manusia. Ia adalah istri pertama dalam sejarah. Ia juga perempuan pertama yang melahirkan di muka bumi. Ia dijamin masuk surga.

Berikutnya adalah Siti Hajar, yang merupakan contoh nyata bahwa ‘berusaha atau bekerja keras yang disertai doa akan menghasilkan yang terbaik’. Lihatlah, saat dia berusaha mencari air dengan lari-lari dari Bukit Safa ke Marwa dan sebaliknya hingga tujuh kali, lalu Allah SWT memunculkan air zamzam dekat kaki bayinya, Ismail. Dari sumur zamzam itu lalu terbentuk komunitas, yang sekian ribu tahun kemudian menjelma menjadi Kota Makkah.

Selama Ramadhan, ternyata banyak peristiwa besar terjadi di berbagai belahan dunia. Perang dagang antara AS dan Cina semakin sengit. Perang dagang yang dikhawatirkan akan berimbas ke banyak negara lain, yang pada gilirannya akan memperlambat perkembangan ekonomi global.

Kawasan Timur Tengah masih membara. Beberapa kali Israel telah menyerang Gaza, tapi masyarakat internasional sudah semakin tak peduli. Bahkan, ketika zionis Israel menyerang Suriah, dunia pun diam. Sementara di Irak, beberapa kali bom masih meledak.

Di kawasan Teluk, tanda-tanda berbaikan antara Qatar dan negara-negara Teluk lain plus Mesir juga belum tampak. Hampir setiap hari mereka yang berseteru terus saling serang di media.

Perang di Yaman antara kelompok Houthi dan beberapa negara Arab yang dimotori Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) semakin menegangkan. Hingga kini, belum ada tanda-tanda kelompok Houthi akan kalah atau menyerah. Sementara pihak Saudi dan UEA telah bertekad untuk menghancurkan Houthi Syiah.

Hubungan Arab Saudi dengan Iran juga semakin buruk. Itu sebabnya Saudi dan beberapa negara Teluk sangat semangat mendukung kebijakan Presiden Donald Trump ketika ia membatalkan secara sepihak perjanjian nuklir dengan

Iran. Perjanjian nuklir ini telah disepakati para pemimpin negara-negara Eropa Barat plus AS pada masa Presiden Barack Obama. Bahkan, Trump kini telah memperkuat kehadiran militer AS di Timur Tengah, guna menggertak para ayatullah di Iran.

Di Afrika Utara, konflik antarkelompok di Libia juga terus memanas. Belum ada kelompok dominan yang bisa berkuasa penuh sejak pemimpin Qadafi digulingkan. Di Aljazair, para pengunjuk rasa hanya berhasil menurunkan Presiden Abdul Aziz Bouteflika dan rezimnya dari kekuasaan 20 tahun. Namun, mereka belum mampu membentuk pemerintahan sipil seperti yang mereka inginkan.

Sama dengan di Aljazair, di Sudan para demonstran yang telah berunjuk rasa sejak Desember lalu juga baru berhasil menurunkan Presiden Omar al-Bashir yang telah berkuasa 30 tahun. Namun, negara itu justru semakin kuat dicengkeram militer.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA