Monday, 15 Safar 1441 / 14 October 2019

Monday, 15 Safar 1441 / 14 October 2019

Surah Al-Hujurat Ayat 13 Itu

Selasa 26 Mar 2019 06:07 WIB

Red: Elba Damhuri

Ahmad Syafii Maarif

Ahmad Syafii Maarif

Foto: Republika/Daan
Ada diktum langit yang terang benderang tersimpul pada ayat 13 Surah Al-Hujurat.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Syafii Maarif

Adalah Profesor AJ Toynbee (1889-1975), sejarawan pemikir Inggris itu, yang menulis tentang tradisi Islam mengenai persaudaraan universal umat manusia puluhan tahun yang silam berikut ini: "tradisi Islam tentang persaudaraan manusia tampaknya merupakan cita-cita yang lebih baik untuk memenuhi keperluan sosial masa ini ketimbang tradisi Barat tentang kemerdekaan yang berdaulat bagi lusinan nasionalitas yang terpisah-pisah." (Lih. AJ Toynbee, Civilization on Trial and the World and the West. Cleveland and New York: The World Publishing Company, 1963, hlm 254).

Diharapkan “penyebaran wabah penyakit politik Barat ini akan dapat dibendung oleh sebuah kekuatan perasaan tradisi Islam untuk persatuan.” (Ibid.). Toynbee cukup kritikal terhadap perkembangan peradaban Barat modern yang terlepas dari kawalan nilai-nilai moral transendental yang diajarkan oleh semua agama.

Dalam masalah ini, Islam sebagai agama tauhid semestinya berada pada garda terdepan dalam upaya pengawalan ini. Sayangnya, umat Muslim telah lama berselancar di pinggir peradaban dengan sikap tertunduk, bingung, dan perasaan kalah berkepanjangan.

Toynbee juga sangat kritikal terhadap gagasan nasionalisme yang telah meruntuhkan dan merusak perumahan persaudaraan umat manusia sejagat. Tetapi harapan kepada tradisi Islam tentang persaudaraan universal itu justru kemudian telah gagal dibuktikan oleh bangsa-bangsa Muslim, utamanya di dunia Arab, yang ternyata juga mengidap virus nasionalisme yang memecah belah itu.

Baca Juga

Beruntunglah Indonesia, karena nasionalisme bangsa ini dikawal oleh ajaran “Kemanusiaan yang adil dan beradab,” sehingga nasionalisme di sini tidak boleh menjurus kepada sovinisme, sebuah paham patriotisme yang sempit dan melampaui batas yang wajar.

Sekarang mari kita tengok Alquran surah al-Hujurât (49) ayat 13 di atas yang tergolong surat yang turun pada era Madinah (622-632) tentang tujuan penciptaan manusia dengan realitas keragaman bangsa dan puak. Ini terjemahan ayat itu: “Wahai manusia! Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan; dan Kami jadikan kamu beberapa bangsa dan berbagai puak supaya kamu saling mengenal (li ta’ârafû). Sesungguhnya yang termulia di antara kamu di sisi Allah adalah kamu yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah itu Maha Mengetahui Mahasadar.”

Saya tidak tahu apakah A.J. Toynbee pernah membaca ayat yang sedahsyat ini tentang maksud penciptaan manusia untuk saling berbagi, berkenalan, saling memberi dan menerima sebagai tafsiran yang lebih mencakup dari ungkapan li ta’ârafû itu.

Sekiranya sejarawan ini pernah membacanya, tentu pengamatannya tentang persaudaraan universal Islam itu bukan semata-mata gejala sejarah yang tampak di permukaan, melainkan punya landasan teologis yang sangat kuat, sekalipun si Muslim sendiri tidak selalu hirau dengan ajaran yang begini jelas, historis, dan menukau.

Terpecah belahnya bangsa-bangsa Muslim adalah pengkhianatan terbuka terhadap konsep persaudaraan yang pernah menyejarah itu, sekalipun masih jauh dari sempurna, karena umat Muslim sendiri tidak selalu berpegang kepada ayat itu.

Tetapi setidak-tidaknya, Toynbee telah menampakkan keresahannya terhadap kultur Barat modern yang menciptakan virus nasionalisme yang memecah belah bangsa-bangsa. Dia mengusulkan agar dunia belajar dari tradisi Islam tentang persaudaraan umat manusia itu.

Sebab, jika nasionalisme ini dibiarkan merajalela tanpa ada rujukan moral tertinggi yang mempersatukan manusia sejagat, dunia modern tidak mustahil sedang menggali kuburan masa depannya yang tak terbayangkan melalui ledakan bom nuklir yang sangat ditakuti itu. Seperti kita ketahui, Toynbee adalah juga pengagum Ibn Khaldun (1332-1406) dengan karya al-Muqaddimah-nya yang fenomenal itu.

Saya ragu, apakah ada diktum Langit yang demikian terang benderang seperti tersimpul dalam ayat 13 surah al-Hujurât itu ditemukan juga dalam dokumen agama-agama lain yang pernah dikenal manusia. Tetapi, ironisnya sekali lagi, umat yang mengaku memiliki Alquran sebagai pesan Langit terakhir telah terlalu lama mengembara di dunia lain yang terlepas dari bimbingan Kitab Suci ini.

Fenomena inilah sebenarnya yang menjadi sumber krisis terberat umat Muslim sekarang dalam meneropong masa depannya yang galau dan kelabu, sekelabu mata batinnya yang terpisah dari cahaya wahyu dan ajaran kenabian.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA