Senin, 15 Safar 1441 / 14 Oktober 2019

Senin, 15 Safar 1441 / 14 Oktober 2019

Pemimpin Gaek Arab Ini Mulai Tersentuh Demonstrasi

Senin 11 Mar 2019 06:03 WIB

Red: Elba Damhuri

Ikhwanul Kiram Mashuri

Ikhwanul Kiram Mashuri

Foto: Republika/Daan
Pemimpin Arab ini sudah berusia 83 tahun dan maju sebagai capres Aljazair.

REPUBLIKA.CO.ID  Oleh: Ikhwanul Kiram Mashuri

Inilah penguasa Arab—di luar negara monarki (kerajaan/kesultanan)—yang tidak digoyang the Arab Spring, yang mulai bertiup kencang pada akhir 2010. Dia adalah Abdelaziz Bouteflika, 83 tahun, Presiden Aljazair sejak 1999. Kini, meskipun sudah sepuh alias gaek dan sakit-sakitan, ia masih mencalonkan kembali sebagai presiden untuk periode kelimanya.

The Arab Spring atau al-Rabi’ al-‘Araby alias Musim Semi Arab merupakan gelombang revolusi unjuk rasa melawan rezim diktator bin otoriter di sejumlah negara Arab. Slogan mereka adalah as-Sha’b yuridu isqata an nizom alias rakyat ingin menumbangkan rezim!

Revolusi rakyat itu mula-mula terjadi di Tunisia dan berhasil melengserkan Presiden Zainul Abidin bin Ali, lalu merembet ke sejumlah negara Arab lain. Presiden Mesir Husni Mubarak, Presiden Yaman Ali Abdullah Soleh, dan pemimpin Libia Moammar Qadafi pun tidak selamat dari kemarahan rakyat. Aljazair yang berbatasan dengan Tunisia dan Libia di Afrika Utara tampaknya tidak terpengaruh oleh the Arab Spring.

Kini, setelah sembilan tahun Musim Semi Arab, Bouteflika justru mulai tersentuh oleh berbagai aksi unjuk rasa. Demonstran pun bukan kelas teri. Mereka mahasiswa, dosen, guru, pengacara, dan wartawan, di samping warga pada umumnya. Demonstrasi kali ini bukan untuk menumbangkan Presiden Bouteflika yang akan habis masa baktinya, melainkan guna menghalangi pencalonannya kembali untuk periode kelima, yang tampaknya sia-sia.

Serunya lagi, yang didemo tidak ada di Aljazair. Bouteflika sedang berada di Jenewa, Swiss, sejak 24 Februari lalu. Demonstran berteriak bahwa Bouteflika sudah tua dan terserang strok.

Ia tak laik mencalonkan diri kembali jadi presiden! Ketua tim kampanye Bouteflika, Abdul Ghani Za’lan, menjawab, calonnya sedang di Jenewa untuk pemeriksaan kesehatan rutin. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, meski ia mengakui kesehatan Bouteflika memang menurun.

Za’lan pulalah yang terpaksa mendaftarkan pencalonan Bouteflika pada Ahad pekan lalu. Hingga kini sudah ada 20 orang yang mencalonkan diri sebagai presiden pada pemilu yang akan digelar 18 April mendatang. Anehnya, tak satu pun dari mereka yang merupakan calon dari oposisi. Di samping itu, sejak pencalonan Bouteflika, demonstrasi pun makin marak.

Lalu, mengapa Bouteflika yang berusia lanjut dan sakit-sakitan dipaksakan untuk mencalonkan diri lagi menjadi presiden?

Demonstran dan kelompok oposisi menyatakan Bouteflika sebenarnya hanyalah penguasa boneka dan bukan penguasa sesungguhnya. Namun, dari mereka pun tidak ada tokoh kuat.

Baca Juga

Di antara mereka pun terjadi perpecahan sangat tajam. Karena itu, meskipun sudah gaek dan sekit-sakitan, Bouteflika diperkirakan akan menang mudah tanpa ada pesaing berarti seperti yang terjadi pada pemilu tahun 2014.

Tuduhan terhadap Bouteflika sebagai boneka karena yang berkuasa di Aljazair sekarang adalah sebuah rezim yang mulai terbentuk sejak ia berkuasa pada 1999. Rezim itu terdiri atas Partai Front Pembebasan Nasional (Jabhatu at-Tahrir al-Wathony) atau FLN, yang sudah berkuasa sejak kemerdekaan Aljazair dari penjajah Prancis pada 1962.

Lalu, ada dari jenderal militer, yang perannya makin kuat ketika mereka mengambil alih kekuasaan, menyusul kemenangan Partai Front Penyelamatan Islam dalam pemilu multipartai pertama di negara itu pada 1991.

Kemenangan kelompok Islam dan pengambilalihan kekuasaan oleh militer itu kemudian menyulut perang saudara berkepanjangan di Aljazair. Lebih dari 150 ribu warga terbunuh. Perang saudara yang berakhir pada 2002 tersebut telah menyebabkan trauma bagi warga hingga pada tingkat mereka bersedia kehilangan kemerdekaan politik asal negara stabil dan aman.

Sejak itu, semua presiden harus mendapat dukungan dan restu dari para jenderal militer, meskipun Aljazair sudah kembali pada sistem demokrasi. Hal itu juga berlaku pada Bouteflika yang terpilih menjadi presiden pada Pemilu 1999 dan berkuasa hingga kini. Bouteflika merupakan pendukung kuat sekulerisasi di Aljazair.

Berikutnya, yang termasuk bagian dari rezim Bouteflika adalah para pengusaha sukses yang dekat dengan kekuasaan. Selain itu, ada juga sebagian kelompok oposisi yang tergabung dalam koalisi pemerintah atau mereka yang selalu mendukung kebijakan Presiden Bouteflika. Mereka ini kemudian dianggap susah dipercaya, bahkan menjadi bahan ejekan oleh kelompok oposisi yang lain.

Ketika kini Bouteflika sudah menua dan sakit-sakitan pula, seperti ditulis Aljazeera.net, secara diam-diam sebenarnya sedang terjadi persaingan tajam di antara kelompok-kelompok dalam rezim penguasa Aljazair, termasuk dari kelompok militer. Itulah sebabnya para pendukung rezim berkuasa tetap ngotot untuk mencalonkan Bouteflika sebagai presiden, meskipun kondisi kesehatannya sudah sangat menurun. Karena itu, jangan harap akan ada perubahan politik signifikan dalam waktu dekat.

Yang menjadi persoalan, seperti dikatakan pengamat politik Aljazair, Kamil Dawud, kekuasaan negara saat ini didominasi tokoh-tokoh lanjut usia, yang tidak banyak melibatkan anak-anak muda. Dawud melihat pencalonan tokoh yang sudah "mendekati kematian" sebagai merendahkan anak muda di negara yang tingkat penganggurannya mencapai 30 persen sebagian besar berusia di bawah 30 tahun.

Abdelaziz Bouteflika bisa saja dianggap orang yang berjasa karena ikut perang kemerdekaan Aljazair. Ia juga pernah menjadi menteri pemuda dan olahraga kemudian menteri luar negeri. Ketika menjadi menlu inilah, ia berhasil membawa Aljazair ke pentas internasional.

Namun, menurut pengamat Timur Tengah Abdul Rahman Rasyid, semua itu menjadi tidak ada artinya di mata anak muda, yang merupakan bagian terbesar dari penduduk Aljazair yang berjumlah 40 jutaan.

Karena itu, katanya, bila Bouteflika mencalonkan diri lagi untuk periode kelimanya dalam kondisi sakit, hal tersebut justru tidak akan menguntungkan yang bersangkutan sebagai seorang yang telah berjasa. Yang ada adalah gambaran orang tua yang tamak terhadap kekuasaan.

Namun, sebagaimana di negara-negara Arab lain yang bukan monarki—entah itu namanya negara republik, negara demokrasi, atau apa pun namanya—pemilu di Aljazair juga tidak lebih dari sekadar aksesori. Pemilu justru dijadikan alat legitimasi atau bahkan alat untuk melanggengkan kekuasaan. Tidak ada ceritanya presiden kalah dalam pemilu berikutnya atau berhenti karena batasan periodisasi.

Di dunia Arab, hampir tidak ada pembatasan kekuasaan. Pembatasan kekuasaan hanya ada di atas kertas, diundangkan oleh parlemen, tetapi kemudian dilipat oleh mereka yang sedang berkuasa. Oleh sebab itu, jangan heran bila presiden di negara-negara Arab bisa berkuasa lebih lama daripada seorang raja atau sultan.

Yang menjadi masalah, Aljazair merupakan negara penting di Afrika Utara. Dengan luas wilayah 2.381.741 kilometer persegi, negara ini menjadi yang terluas ke-10 di dunia serta terluas di Afrika dan Mediterania. Posisinya sangat strategis dan sensitif. Ia berbatasan dengan Tunisia, Libia, Maroko, Sahara Barat, Mauritania, Mali, dan Niger. Aljazair juga merupakan pendiri Uni Afrika, Liga Arab, OPEC, Uni Arab Maghribi, dan selalu memainkan perang penting di Perseritakan Bangsa-Bangsa.

Karena itu, Aljazair merupakan kunci stabilitas Afrika Utara dan bahkan Eropa. Dengan negara-negara Eropa, Aljazair hanya dipisahkan oleh Laut Mediterania. Dengan fakta seperti itu, banyak pihak berpendapat bahwa persoalan yang dihadapi Aljazair kini lebih besar daripada sekadar diperintah oleh presiden gaek yang sakit-sakitan.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA