Senin, 22 Ramadhan 1440 / 27 Mei 2019

Senin, 22 Ramadhan 1440 / 27 Mei 2019

Mengapa Koalisi Internasional Gagal Hancurkan ISIS?

Senin 08 Jun 2015 06:00 WIB

Red: Maman Sudiaman

Ikhwanul Kiram Mashuri

Ikhwanul Kiram Mashuri

Foto: Republika/Daan

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ikhwanul Kiram Mashuri

Selama ini kelompok radikal, apalagi teroris, hanya berbentuk organisasi atau milisi. Mereka sekumpulan orang yang mempunyai ideologi sama. Mereka, meminjam istilah dalam perang, adalah gerakan bawah tanah. Mereka bergerak sembunyi-sembunyi dan menyerang siapa saja yang dianggap lawan.

Dalam kamus teroris, yang disebut lawan adalah siapa saja yang dianggap merintangi, menghalangi, atau bahkan hanya berbeda pandangan atau ideologi dengan mereka. Bagi mereka, tujuan bisa menghalalkan segala cara. Lihatlah apa yang dilakukan kelompok al Qaida, Bako Haram, Taliban, Jabhatu as Nasra, Ansharu as Syariah dan seterusnya.

Mereka bukan hanya menyerang orang-orang Barat atau non-Muslim yang mereka sebut sebagai kafir. Namun, kelompok radikal dan teroris itu juga ‘menghabisi‘ orang-orang Islam yang tidak sepaham dengan mereka. Segala cara mereka lakukan, termasuk yang paling keji sekalipun: membunuh, membakar, menyiksa, dan melakukan bom bunuh diri yang korbannya bisa puluhan orang tak berdosa.

Lalu bagaimana bila kolompok radikal/teroris itu bukan hanya organisasi atau milisi, tapi berbentuk negara? Misalnya  seperti yang dinyatakan oleh mereka yang  menamakan diri sebagai Negara Islam di Irak dan Suriah alias ISIS?

ISIS tadinya hanyalah tandzim (organisasi). Ia merupakan anak ideologis dari al Qaida. Ketika al Qaida -- yang bahu-membahu dengan Taliban di Afghanistan -- dihantam koalisi pimpinan  Amerika Serikat (AS), mereka pun melarikan diri ke  berbagai negara. Di Indonesia, beberapa mantan ‘pejuang’  al Qaida Taliban Afghanistan kemudian menjadi pelaku sejumlah pemboman di Bali dan Jakarta.

Di Timur Tengah, tempat yang nyaman buat berlindung orang-orang al Qaida adalah negara yang sedang konflik. Negara seperti ini bak hutan belantara. Ia tak bertuan. Siapa kuat, ia berkuasa. Irak dan Suriah di antaranya.

Serangan AS dan sekutunya untuk menghabisi rezim Saddam Husein pada 2003 telah menyeret Irak dalam konflik berkepanjangan. Tragisnya, senjata pemusnah masal yang dituduhkan ke Saddam Husein dan yang menjadi alasan utama penyerangan AS itu hingga kini tak berbukti.

Pasca kejatuhan rezim Saddam Husein, Irak pun berubah. Demokratisasi ala Barat telah mengantarkan penganut Syiah yang mayoritas menjadi penguasa. Sedangkan penganut Sunni yang dulu penopang rezim Saddam Husein justeru terkucilkan. Bahkan para pengikut Sunni sering menjadi sasaran serangan milisi Syiah dan militer AS sebelum yang terakhir ini meninggalkan Irak.

Kondisi inilah yang kemudian dimanfaatkan para ‘pejuang’ al Qaida yang melarikan diri dari Afghanistan. Tokoh al Qaida, Abu Musab al Zarqawi misalnya, menjadikan wilayah Sunni sebagai basis serangan terhadap berbagai kepentingan AS dan pemerintahan Irak. Al Zarqawi merupakan pendiri al Qaida di Irak. Organisasi inilah yang kemudian menjadi cikal bakal Negara Islam di Irak dan Suriah. Al Zarkawi sendiri kemudian terbunuh dalam serangan udara militer AS pada 2006.

Sepeninggal al Zarqawi, al Qaida di Irak pun berganti nama beberapa kali. Setelah mereka berhasil menguasai sejumlah wilayah di Irak, organisasi radikal ini pun berganti nama menjadi Tandzimu ad Daulah al Islamiyah fi al Iraq (Organisasi Negara Islam di Irak).  Ketika terjadi konflik di Suriah antara rezim Bashar Assad dan kelompok-kelompok oposisi, Tandzimu ad Daulah pun memanfaatkan kondisi ini. Mereka berhasil merebuat sejumlah wilayah di Suriah.

Wilayah di Suriah dan Irak ini kemudian mereka gabungkan dan dinyatakan sebagai wilayah Da’isy singkatan dari ad Daulah al Islamiyah fi al Irak wa  as Suriyah alias Islami State of Iraq and Syria (ISIS). Pada Juni tahun lalu, negara itu mereka deklarasikan sebagai negara khilafah dan Abu Bakar al Baghdadi diangkat sebagai sang khalifah.

Sejak itu ISIS bukan lagi sebuah organisasi atau milisi bawah tanah. Mereka pun secara terang-terangan menyerang siapa saja yang dianggap lawan. Sejumlah warga asing --antara lain wartawan dan relawan kemanusiaan --mereka eksekusi mati. Pilot pesawat tempur Yordania yang berhasil ditangkap mereka bakar hidup-hidup. Bahkan warga Sunni yang menolak membaiat al Baghdadi pun mereka bunuh. Inilah yang dialami 15 orang pengurus Masjid Agung Mosul setahun lalu.

Untuk menghentikan kebiadaban ISIS ini, masyarakat internasional yang dipimpin AS pun membentuk koalisi militer. Hampir semua negara Arab jadi anggota. Namun, hampir setahun terbentuknya koalisi internasional itu ISIS bukannya habis atau melemah.  Pada pertengahan bulan lalu, ISIS justeru berhasil memperluas wilayah kekuasaannya. Yaitu: Tadmur (kota tua di gurun Suriah,  sekitar 215 kmu timur laut Damaskus) dan Ramadi (kota terbesar ketiga di Irak setelah Baghdad dan Mosul). Kini ISIS telah berhasil menguasai separoh wilayah Suriah dan sepertiga Irak.

Pertanyaannya, bagaimana ISIS terus berhasil memperluas wilayah di tengah gempuran pesawat-pesawat tempur koalisi? Apakah negara itu mempunyai personil militer sebanyak Cina atau persenjataan canggih seperti dimiliki AS?

Mengutip media al Sharq al Awsat, Aljazeera.net, dan al Hayat, ada beberapa sebab mengapa koalisi internasional gagal menghabisi ISIS. Pertama,  tentara Irak kurang terlatih dan mentalnya juga payah. Mereka adalah rekrutan baru. Sedangkan para mantan tentara Saddam Husein yang meyoritas Sunni tidak dipakai lantaran diragukan loyalitasnya.

Akibatnya sangat memalukan.  Di Mosul dan Ramadi misalnya, ribuan tentara Irak langsung lari tunggang langgang meninggalkan gelanggang ketika menghadapi pasukan ISIS yang jumlahnya tidak lebih dari sepertiga tentara Irak. Semenara di Suriah, angkatan bersenjata Presiden Bashar Assad sudah semakin melemah. Mereka dikepung dari segala arah, baik oleh kelompok-kelompok oposisi maupun oleh ISIS sendiri. Tidak mengherankan bila ISIS relatif lebih mudah memperluas kekuasaanya di Suriah.

Kedua, koalisi internasional untuk menyerang ISIS boleh dikata sebagai koalisi setengah hati, terutama bagi negara-negara Arab dan lebih khusus lagi buat negara-negara Teluk. Bukan rahasia lagi negara-negara Arab sangat khawatir dengan pengaruh Syiah. Bila ISIS bisa dihancurkan maka yang berkuasa adalah Syiah. Karena itu bisa dipahami bila koalisi internasional, terutama negara-negara Arab, setengah hati untuk menghancurkan ISIS.

Ketiga, AS, seperti ditulis media al Sharq al Awsat, dengan peralatan militernya yang sangat canggih sebenarnya tahu segala gerak-gerik pasukan ISIS. Namun, mereka sengaja membiarkan pergerakan pasukan ISIS hanya dihadapi militer Irak. Padahal, tulis al Sharq al Awsat, bila AS mau mereka bisa langsung menggempur pasukan ISIS lewat serangan udara dan darat.

Tidak diketahui dengan pasti apa alasan AS. Namun, yang bisa diprediksi adalah bahwa AS telah mengambil keuntungan dari konflik yang terjadi baik di Irak maupun Suriah. Bahkan di kawasan Timur Tengah pada umumnya. Terutama lewat perdagangan senjata maupun minyak, baik terang-terangan maupun lewat perdagangan gelap.

Dengan alasan-alasan tadi, tidak mengherankan bila pengamat Timur Tengah, Abdul Rahman al Rasyid dan Nadi Qatisy, memperkirakan ISIS akan tetap eksis dalam waktu lama. Bahkan, menurut mereka,  negara itu akan terus bisa mencaplok wilayah-wilayah lain di Irak dan Suriah, serta bisa mengancam negara-negara yang kini berbatasan langsung dengan mereka seperti Turki, Arab Saudi, dan Yordania.

Eksistensi ISIS yang terus menguat tentu akan semakin mengancam keamanan masyarakat internasional, terutama  di Timur Tengah dan negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim. Radikalisme akan semakin tumbuh subur, yang pada gilarannya bisa  mengganggu ketenangan masyarakat, termasuk di Indonesia.

 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA