Sabtu, 11 Jumadil Akhir 1440 / 16 Februari 2019

Sabtu, 11 Jumadil Akhir 1440 / 16 Februari 2019

Parenting Zaman Now

Sabtu 19 Jan 2019 06:03 WIB

Red: Elba Damhuri

Asma Nadia

Asma Nadia

Foto: Daan Yahya/Republika
Seorang teman menceritakan kedukaannya saat anak batitanya didiagnosis leukemia

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Asma Nadia

Baca Juga

Di bandara transit dalam perjalanan menuju Rusia, saya mendapati sepasang orang tua berkulit putih berkebangsaan Eropa, yang asyik dengan telepon pintar di genggaman.

Keduanya sibuk memandang layar tanpa berbincang satu sama lain. Di sisi mereka, dua anak balita tak kalah asyik menyimak tontonan di tab, lalu pindah ke aplikasi bermain, tanpa keterlibatan orang tua.

Mendadak saya yang bukan siapa-siapa disergap sedih. Potret masyarakat demikian belakangan makin lumrah tersapu mata. Sebelumnya, saya pernah melihat keluarga keturunan Afrika terpaku pada hal serupa, juga keluarga berkebangsaan Arab, Asia Timur, dan tentu saja di tatanan masyarakat Indonesia.

Rasanya, tanpa memandang suku, bangsa, agama, sebagian besar orang tua, keluarga menengah ke atas, ringan saja menyediakan gawai sebagai ‘mainan’ bagi anak-anak bahkan sejak batita, tanpa secara serius mempertimbangkan konsekuensinya.

Harus diakui, gawai sangat mempermudah orang tua. Dalam konteks agar para ayah bunda tidak diganggu. Begitu memegang benda elektronik itu, bocah-bocah kesayangan seolah tersihir, berselancar, bermain, menonton, terpaku pada nyaris semua aktivitas daring (online).

Sementara itu, memanfaatkan ketenangan ananda, orang tua akhirnya mampu memiliki aneka rupa kegiatan sendiri, banyak di antaranya mendekatkan mereka dengan ponsel.

Dulu, ketika si bunda asyik di dapur, atau ayah asyik mengerjakan tugas akhir pekan, mungkin ananda akan bolak balik bertanya tentang berbagai hal. Lambat laun pemandangan serupa semakin langka.

Pada masa lalu, seorang ibu yang tidak memiliki pramusiwi (baby sitter), sulit melakukan aktivitas yang disukai karena harus menjaga anak yang berlarian ke sana kemari. Sekarang para ibu bisa tenang beraktivitas, atau sekadar berbincang sebab putra putri mereka duduk tenang setelah disuapi gawai seperti hari-hari sebelumnya.

Di satu sisi benar terlihat kualitas hidup keluarga di Tanah Air meningkat, tapi sungguhkah demikian?

Beberapa kisah berikut mungkin akan membuat kita tercenung. Seorang teman menceritakan kedukaannya saat anak batitanya didiagnosis leukemia. Putri kebanggaan yang saat berusia satu tahun sudah sangat piawai mengutak atik gadget.

Pada usia tiga tahun, ananda sudah memahami tab lebih dari kebanyakan orang dewasa. Wajar sebab tab menjadi bagian kehidupannya sejak bayi. Bahkan, tidur pun didampingi tab, ipad, atau ponsel.

Kegiatan mendongeng, juga nyanyian nina bobo seolah terisap zaman. Tiba-tiba sulit ditemukan keberadaannya. Dari bangga karena kecerdasan batita, vonis dokter yang bergaung, kemudian terasa petir di siang bolong.

Kebanggaan yang selama ini didekap sangat mungkin merupakan kesalahan. Ditambah dokter yang ditemui menerangkan bahwa anak yang terkena leukemia meningkat belakangan ini. Sebagian besar yang terjangkit, terpapar gadget sangat intensif pada usia dini.

Benar tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan gawai memicu kelainan darah, akan tetapi sudah menjadi rahasia umum bahwa gawai memancarkan radiasi, dan radiasi memicu sesuatu dalam tubuh.

Kesehatan bukan satu-satunya ujian. Seorang ibu di Amerika sangat waspada akan pengaruh internet. Sengaja ia meletakkan komputer di ruang tengah agar gadis remajanya yang sekaligus anak tunggal, tidak sendirian saat berselancar di dunia maya. Suatu hari sang anak meminta izin untuk membuka akun media sosial walau berat ibunya menyetujui.

Sejak itu lebih banyak terdengar celoteh riang dan gelak tawa ananda seiring interaksinya dengan teman-teman yang dikenal dalam jejaring sosial. Namun, keceriaan perlahan berganti kediaman. Remajanya tampak lebih murung setelah membuka akun media sosial pribadi.

Suatu hari sang anak menyendiri di kamar cukup lama. Betapa kaget sang ibu menemukan buah hatinya telah tewas gantung diri. Selidik demi selidik berdasarkan sepak terjun putrinya secara daring, ternyata gadis remaja itu kerap menjadi korban perisakan (bullying) di media sosial.

Kasus-kasus di atas masih ditambah banyak permasalahan lain. Isu anak yang menjadi korban trafficking atau direkrut organisasi terorisme. Anak dan remaja kita larut dalam dunia mereka sendiri karena orang tua sibuk dengan gawai.

Bagaimana cara untuk kembali menumbuhkan kebiasaan terkait tradisi dulu agar anak-anak punya gaya hidup lebih sehat dan teratur? Apa saja yang sanggup kita lakukan?

Kunci pilihan berada di tangan setiap orang tua. Pertama adalah membiarkan saja putra putri mereka sedari kecil menjadi korban zaman now. Kedua, sebaliknya, mulai membatasi penggunaan gawai di rumah dan memanfaatkan apa yang disediakan zaman untuk mempermudah, mengasah, dan memaksimalkan potensi anak tanpa ayah bunda harus kehilangan interaksi dan keakraban dengan ananda.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES

In Picture: Konflik Lahan di Jambi

Jumat , 15 Feb 2019, 21:07 WIB