Saturday, 9 Syawwal 1439 / 23 June 2018

Saturday, 9 Syawwal 1439 / 23 June 2018

Anak Indonesia Terancam Bom Bunuh Diri

Selasa 22 May 2018 05:07 WIB

Red: Elba Damhuri

Ahmad Syafii Maarif

Ahmad Syafii Maarif

Foto: Republika/Daan
“Nak, mau nggak kamu ikut Abi dan Umi ke surga? Nggak sakit kok."

REPUBLIKA.CO.ID   Oleh: Ahmad Syafii Maarif

Artikel ini masih terkait dengan Resonansi pekan lalu. Sebagaimana telah dijelaskan bahwa orang tua teroris tega mengorbankan anak-anaknya sendiri yang masih bocah untuk bersama-sama mengakhiri hidup dalam drama maut, sebagaimana diamati oleh Syekh Shabra al-Qasimi dari Mesir, baru saja terjadi di Surabaya.

Artinya, di lingkungan alam Indonesia yang relatif lebih aman dibandingkan beberapa negara Arab yang berantakan akibat perang saudara telah berlaku suatu tragedi kemanusiaan yang sangat brutal dan meluluhkan batin kita semua. Perilaku orang tua atas nama kepercayaan agama yang bersumber rongsokan peradaban yang sedang hancur telah digunakan untuk meluluhlantakkan bangunan sebuah keluarganya sendiri. Banyak orang yang menangis dan meratapi drama maut yang sungguh tak terbayangkan sebelumnya.

Kota Surabaya yang selama ini terasa aman-aman saja telah disentakkan oleh suatu malapetaka dua keluarga yang mengguncangkan jagat raya kemanusiaan semesta. Dalam hitungan detik berita ini telah menyebar ke seluruh muka bumi.

Semua orang menundukkan kepala, terisak dalam suasana keprihatinan yang sangat dalam: mengapa semuanya terjadi? Mengapa tafsiran agama telah menjadi sumber kematian bagi bocah tanpa dosa?

Tragedi ini harus dinyatakan sebagai tanda bahaya serius bagi anak-anak Indonesia. Ini adalah puncak dari ketegaan orang tua mengakhiri nyawa anak-anaknya untuk turut dalam amaliyah (istilah teroris untuk bom bunuh diri).

Pada 19 Mei, saya bersama Yasin Wijaya dari Yayasan Indonesia Sejahtera dan Barokah Surabaya dan Marbawi, Ketua Asosiasi Guru-Guru Agama Islam Indonesia, berkunjung ke gereja Pantekosta Surabaya sebagai tanda duka dan simpati kepada jamaahnya yang wafat. Pendeta Yonathan Bintoro Wahono pada pagi itu sedang bersiap untuk melayat satpam gereja yang wafat sehari sebelumnya bercerita banyak tentang tragedi di gerejanya saat akan misa pada 13 Mei yang berlumur darah itu.

Beberapa info yang kami peroleh berikut ini perlu direkamkan di sini. Adalah satpam Giri Catur Sungkowo, seorang Muslim, yang telah bekerja selama 23 tahun untuk menjaga gereja itu, termasuk yang menjadi korban luka bakar dan wafat di RS Dr Soetomo pada sore, 18 Mei.

Sewaktu kami ke sana, pimpinan gereja sedang bersiap untuk melayat alm Giri ini yang akan dimakamkan. Pdt Yonathan mengatakan bahwa Giri sudah dianggap sebagai keluarga sendiri. Giri telah menjadi penghalang bagi pelaku bom Dita Oepriarto dan mobilnya yang membawa lima bom dengan daya ledak tinggi untuk menerabas masuk ke tengah gereja.

Sekiranya bom itu meledak di tengah kerumunan jamaah, tutur Yonathan, maka yang akan tewas bisa jadi ratusan, melebihi korban bom Bali 2002. Ada lagi yang tewas tukang parkir lepas di gereja itu, juga seorang Muslim.

Yang tidak kurang tragisnya adalah dua anak Dita pada malam sebelum kejadian, saling bertangisan ketika shalat di mushala untuk besok pagi akan mengakhiri hidupnya bersama beberapa jamaah dengan bom bunuh diri di gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela di Jl Ngagel Madya. Sedangkan Ais (Aisya Azzahra Putri), putri pengebom di Polretabes Surabaya, terpelanting dari boncengan orang tuanya dan diselamatkan pihak kepolisian.

Kita doakan anak yang ditinggal mati orang tuanya akan pulih dari trauma maut yang mengerikan itu. Akrobatik nekat ini adalah salah satu pertanda bahwa doktrin Teologi Maut ini punya pengikut yang lumayan di Indonesia. Polisi dan gereja dijadikan sasaran utama.

Sofyan Tsauri, pengamat terorisme dan mantan teroris dan mantan anggota Brimob menjelaskan, cara orang tua membujuk dan meyakinkan anaknya untuk terbang ke surga: “Nak, mau nggak kamu ikut Abi dan Umi ke surga? Nggak sakit kok. Cuma tinggal pencet tombol ini, maka kita sudah terbang dan kita ke surga.” Ya, Allah, mengapa hamba-hamba-Mu ini lebih mencintai kematian brutal daripada membela kehidupan yang bermartabat?

Mengapa ajaran-Mu yang bertujuan untuk membangun peradaban yang adil dan mulia di muka bumi, di tangan teroris telah ditafsirkan untuk membangun kebiadaban hara-kiri yang mengguncangkan jagat kemanusiaan di muka bumi? Ya, Allah, mengapa kekalahan dalam perlombaan peradaban telah melahirkan hamba-hamba-Mu yang membunuh kewarasan dan akal sehatnya sebagai manusia? Daftar pertanyaan ini bisa panjang, sedangkan jawabannya tidak kunjung muncul, ya Allah!

Akhirnya, fenomena terancamnya masa depan anak-anak Indonesia oleh praktik bom bunuh diri semestinya menyadarkan kita semua bahwa agama di tangan teroris telah dijadikan alat untuk membuat fasâd (bencana dan kerusakan) di muka bumi, sesuatu yang berkali-kali dikutuk Alquran.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES