Sabtu, 9 Syawwal 1439 / 23 Juni 2018

Sabtu, 9 Syawwal 1439 / 23 Juni 2018

Anak-Menantu Trump ‘Berpesta’ di Atas Para Mayat Palestina

Senin 21 Mei 2018 05:08 WIB

Red: Elba Damhuri

Ikhwanul Kiram Mashuri

Ikhwanul Kiram Mashuri

Foto: Republika/Daan
Keputusan Trump membuat marah besar bangsa Palestina dan bangsa-bangsa lain.

REPUBLIKA.CO.ID  Oleh: Ikhwanul Kiram Mashuri

Sebuah foto ‘selfie’ menampakkkan Jared Kouchner dan isterinya Ivanka Trump serta Benjamin Netanyahu dan isterinya. Foto lain menggambarkan para warga Palestina yang berjatuhan terkena peluru militer Israel di perbatasan timur Jalur Gaza.

Ketika melihat kedua foto itu -- dua foto yang sebenarnya satu rangkaian -- mungkin tidak berlebihan bila editor sebuah situs web berita the Huffington Post memberi judul: ‘Mereka Berdansa di Atas Para Mayat Orang-orang Palestina’.

Kalau saya yang membuat judul, maka akan lebih fokus lagi, yaitu ‘Anak-menantu Trump Berpesta di Atas Para Mayat Palestina’.

Peristiwa itu terjadi tepat sepekan lalu (15/05/2018). Amerika Serikat (AS)  yang diwakili oleh menantu Presiden Donald Trump, Jared Kouchner dan isterinya Ivanka Trump, datang ke Israel untuk  menghadiri upacara — disusul dengan pesta — pemindahan Kedubes AS ke Jerusalem.

Di antara tamu undangan adalah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan isterinya. Selain menantu, Kouchner juga merupakan penasihat Gedung Putih dan utusan khusus Presiden Trump untuk Timur Tengah. Pemindahan Kedubes AS itu juga sekaligus untuk memperingati 70 tahun kemerdekaan Israel.

Di sisi lain, peringatan 70 tahun itu merupakan Yawm Nakbah bagi bangsa Palestina. Nakbah berarti petaka atau kehancuran. Petaka lantaran negara Israel merdeka didirikan di atas wilayah bangsa Palestina yang disokong penuh  AS.

Jutaan warga Palestina terusir dari Tanah Airnya. Sejumlah 80 persen wilayah Palestina telah dijarah dan kini diakui Israel sebagai wilayahnya, termasuk Yerusalem Timur, ibu kota abadi Palestina. Bangsa Palestina kini tinggal di wilayah sisanya. Itu pun di bawah kepungan militer Israel.

Setiap tahun Yawm Nakbah diperingat bangsa Palestina dengan serangkaian aksi demonstrasi damai. Namun, aksi-aksi unjuk rasa kali ini lebih besar. Pemindahan Kedubes AS dari Tel Aviv ke Jerusalem penyebabnya.

Keputusan Presiden Trump telah membuat marah besar bangsa Palestina dan bangsa-bangsa lain di banyak negara. Namun, seperti biasanya, Israel menghadapi aksi-aksi demo itu dengan senjata canggih yang mematikan.

Sebagai akibatnya, hanya dalam dua hari, Senin dan Selasa pekan lalu — bersamaan dengan pesta peresmian Kantor Kedubes AS yang baru di Jerusalem — sedikitnya 70 warga Palestina meninggal dunia terkena peluruh tajam, dan tak kurang dari tiga ribu lainnya terluka, berat dan ringan. Banyak dari mereka yang terjatuh dan terkena  kawat berduri dan sengatan listrik di perbatasan timur Jalur Gaza-Israel itu.

Serangan biadab militer Israel dan pemindahan Kebubes AS itu bukan hanya telah melukai perasaan bangsa Palestina serta umat Islam dan Kristen di seluruh dunia, namun juga telah mengubur harapan penyelesaian damai dua negara. Yaitu, Palestina dan Israel sebagai dua negara merdeka yang hidup berdampingan secara damai, di mana masyarakat internasional telah menyepakati Jerusalem sebagai kunci penyelesaian.

Bukan hanya itu. Pengakuan Presiden Trump terhadap  Yerusalem sebagai ibu kota Israel juga telah mengubur berbagai keputusan sah internasional dan sejumlah resolusi Dewan Keamanan PBB. Berbagai keputusan dan resolusi itu telah menyerukan  solusi dua negara, penarikan mundur Israel ke batas-batas negara sebelum Perang 1967, dan berdirinya Negara Palestina Merdeka dengan ibu kotanya al Quds as Syarqiyah alias Yerusalem Timur.

Anehnya, kendatipun masyarakat dunia telah tergoncang dengan kebiadaban tentara Israel dan mengecam tindakan brutal itu, menantu Presiden Trump dan juga penasihatnya, Jared Kouchner enteng saja mengatakan, ‘’Mereka yang menyebabkan kekerasan adalah bagian dari masalah, bukan solusi!’’ Ia merujuk pada aksi-aksi unjuk rasa ribuan warga Palestina yang memprotes pemindahan Kedubes AS ke Yerusalem.

Yang lebih mengejutkan lagi adalah pernyataan Nikki Haley, Dubes AS untuk PBB. Dalam pidato di depan anggota Dewan Keamanan PBB, ia menolak hubungan apa pun antara kekerasan yang terjadi di perbatasan Gaza dengan pemindahaan Kedubes AS ke Yerusalem. Bahkan ia memuji militer Israel yang ia sebut telah ‘menahan diri’. ‘’Tidak ada satu negara di ruangan ini yang bisa menahan diri melebihi Israel,’’ katanya.

Tidak hanya itu. Haley bahkan menarik diri dan keluar dari pertemuan anggota Dewan Keamanan PBB, begitu delegasi Palestina menyampaikan sambutan.

Menurutnya, apa yang terjadi di Gaza — puluhan meninggal dunia dan ribuan lainnya terluka — tidak layak alias terlalu remeh untuk  jadi bahasan sesi Dewan Keamanan PBB. Termasuk, lanjutnya, menyerukan pembentukan komisi independen untuk menyelediki penggunaan kekuatan senjata oleh Israel.

Presiden Trump tampaknya tidak peduli dengan berbagai pandangan yang memperingatkan agar tidak memindahkan Kedubes AS ke Yerusalem. Pemindahan Kedubes yang berarti pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel adalah pelanggaran terhadap hukum internasional, pelanggaran terhadap resolusi PBB, dan telah menyakit hati bukan saja warga Palestina, tapi juga umat Islam dan Kristen di seluruh dunia. Yang ia pedulikan adalah janji kampanyenya.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES