Tuesday, 15 Syawwal 1440 / 18 June 2019

Tuesday, 15 Syawwal 1440 / 18 June 2019

Resonansi

Dilema Arab dan Skenario Zionis Israel

Senin 04 Mar 2013 07:00 WIB

Red: M Irwan Ariefyanto

Ikhwanul Kiram Mashuri

Ikhwanul Kiram Mashuri

Foto: Republika/Daan

REPUBLIKA.CO.ID,Oleh Ikhwanul Kiram Mashuri

Kesamaan bahasa tampaknya masih belum mampu mempersatukan 22 negara yang tergabung dalam keluarga besar Liga Arab. Juga kesamaan agama. Tidak percaya? Mari kita tengok dunia Arab kini.

Arab menjadi bahasa resmi dan bahasa sehari-hari negara-negara Arab. Meskipun berbeda lahjah atau logat di masing-masing negara, secara penulisan maupun gramatika bahasa mereka selalu merujuk pada Alquran. Begitu pula dengan agama.

Islam merupakan agama resmi negara-negara Arab. Bahkan, di negara-negara Teluk--Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait, Oman, dan Bahrain--hampir seratus persen warga aslinya beragama Islam. Di negara-negara Arab tidak ada yang namanya pluralitas pemeluk agama, kecuali di beberapa negara seperti Lebanon dan Mesir. Karena itu, Anda tidak akan menemukan yang namanya gereja, wihara, atau sinagog di sejumlah negara Arab.

Namun, apakah dengan kesamaan bahasa dan agama tersebut lantas menjadikan mereka bersatu dalam sikap maupun tindakan?

Dalam masalah bangsa Palestina, misalnya. Hingga sekarang--dan sudah berlangsung puluhan tahun--sebagian besar wilayah Palestina masih dijajah oleh Zionis Israel. Ada negara-negara Arab yang menghendaki cara penyelesaian dengan perundingan langsung maupun tidak langsung dengan Zionis Israel. Ada pula yang menginginkan bahwa untuk memerdekakan Palestina dan Madinatul Quds (Yerusalem) tidak ada cara lain kecuali dengan perang. Atau, minimal dengan gerakan intifadah (perlawanan rakyat) seperti yang pernah dilakukan beberapa kali oleh rakyat Palestina.

Atau istilahnya, merujuk pada pendapat yang terakhir tadi, tidak ada tempat buat kaum Zionis Israel di kawasan Timur Tengah. Atau, dengan kata lain, ‘‘Lempar saja Zionis Israel ke laut (irmi ilal bahri)," sebuah perkataan yang seringkali diucapkan para pejuang Palestina.

Cara pertama--lewat perundingan--sudah sering dilakukan, baik secara langsung lewat juru runding Palestina maupun melalui perantara/negara ketiga. Intifadah juga sudah beberapa kali dijalankan yang hasilnya sangat dahsyat dan sempat membuat ciut Israel. Namun, seiring perjalanan waktu, intifadah dan bahkan perang ternyata hingga kini juga tidak berhasil memerdekakan Palestina.

Perbedaan cara pandang mengenai penyelesaian bangsa Palestina seringkali menimbulkan gesekan atau bahkan perselisihan di antara negara-negara Arab sendiri. Dari KTT Liga Arab ke KTT berikutnya tidak pernah ada kesepakatan bulat. Yang muncul justru ‘perang kata-kata’ antarpemimpin Arab.

Belum usai masalah Palestina, muncul masalah baru: gejolak rakyat Suriah. Tidak seperti negara-negara Arab lain yang dihantam ar Robi’ul Araby--di mana revolusi rakyat telah berhasil menggulingkan rezim diktator-otoriter seperti di Tunisia, Mesir, Yaman, dan Libia--Presiden Suriah Bashar Assad hingga kini masing tegak berkuasa. Korban tewas maupun luka-luka jumlahnya sudah puluhan ribu. Belum lagi jutaan rakyat yang kini mengungsi di beberapa negara tetangga Suriah.

Negara-negara Teluk pada umumnya, plus sejumlah negara Arab lain seperti Mesir, menginginkan agar Presiden Assad turun dari kekuasaannya. Mereka mendukung tokoh-tokoh oposisi. Sedangkan yang lain, seperti negara-negara Arab yang menjadi sekutu Iran, tetap membela kekuasaan Presiden Assad. Masing-masing pihak didukung kekuatan besar dunia. Penolak Presiden Assad didukung Barat, sementara di belakang pembelanya ada Cina dan Rusia. Belum diketahui bagaimana akhir dari gejolak yang terjadi di Suriah sekarang ini.

Hal lain yang tidak kalah peliknya selain bangsa Palestina dan gejolak di Suriah adalah problematika nuklir Iran. Bukan rahasia lagi, dunia Arab terpecah dua dalam memandang program nuklir Iran. Sejumlah negara Arab, terutama negara-negara Teluk, menentang program nuklir yang dikembangkan Republik Islam Iran itu, meskipun yang terakhir ini berkali-kali menyatakan program nuklirnya adalah untuk perdamaian (energi listrik).

Di balik program nuklir tersebut sebenarnya ada yang mereka sangat khawatirkan, yaitu semakin meluasnya pengaruh Syiah Iran di kawasan Timur Tengah. Dan, pada gilirannya akan dapat mengganggu stabilitas kawasan yang mayoritas rakyatnya menganut Sunni. Kekhawatiran ini pula yang pernah disampaikan oleh Grand Sheikh Al Azhar, Dr Ahmad Thayyib, ketika Presiden Iran Ahmadinejad berkunjung ke Kairo beberapa pekan lalu.

Masalah Sunni-Syiah ini sebenarnya sudah menjadi persoalan lama di dunia Arab. Di Bahrain, misalnya, penguasanya Sunni, sementara mayoritas rakyatnya Syiah. Di Suriah, Presiden Assad adalah Syiah Alawiyah, sedangkan sebagian besar rakyatnya Sunni. Saddam Husein ketika memerintah Irak adalah Sunni, tapi mayoritas rakyatnya Syiah. Di Lebanon, rakyatnya sangat plural. Ada Katolik, Kristen Maronit, Druze, Sunni, Syiah, dan lain-lain. Namun, pengaruh Syiah di Lebanon semakin berkembang seiring dengan menguatnya peran politik kelompok Hizbullah.

Tidak bisa dimungkiri persoalan-persoalan di atas--yang kemudian menyebabkan perselisihan dan bahkan konflik--telah memperlemah negara-negara Arab. Apalagi, sejumlah negara Arab yang baru saja dihantam ar Robi’ul Araby kini juga menghadapi masalah pelik di dalam negeri masing-masing. Ini belum lagi mengenai tingkat ekonomi negara-negara Arab yang sangat timpang. Negara-negara Teluk sangat kaya dan yang lainnya sangat miskin.

Karena itu, meskipun negara-negara Arab mempunyai kesamaan bahasa dan agama, kedua hal tersebut tampaknya belum mampu mempersatukan mereka. Tiadanya persatuan inilah yang telah lama melemahkan posisi Liga Arab terhadap dominasi negara kecil Zionis Israel. Atau boleh jadi, kelemahan bangsa Arab ini karena mereka mengikuti skenario Zionis Israel dan sekutunya. Wallahu 'alam.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA