Wednesday, 14 Rabiul Akhir 1441 / 11 December 2019

Wednesday, 14 Rabiul Akhir 1441 / 11 December 2019

Ketika Obama Marah kepada PM Israel

Senin 21 Jan 2013 06:30 WIB

Red: M Irwan Ariefyanto

Ikhwanul Kiram Mashuri

Ikhwanul Kiram Mashuri

Foto: Republika/Daan

REPUBLIKA.CO.ID,Oleh : Ikhwanul Kiram Mashuri

“Ancaman Iran terhadap keamanan Israel hanya bersifat sementara. Sedangkan, kebijakan politik Netanyahu justru telah dan akan membahayakan negara itu dalam waktu lama.'”

Bila kalimat di atas disampaikan pemimpin Arab atau lawan politik Netanyahu tentu sudah biasa. Yang luar biasa alias di luar kebiasaan, yang menyatakan adalah Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama. Apalagi, Obama menyampaikannya dengan nada marah.

Netanyahu yang dimaksud adalah Benjamin Netanyahu, Perdana Menteri (PM) Israel, yang juga ketua Partai Likud. Ia kini sedang bersiap mengikuti pemilu parlemen (Knesset) yang digelar besok (22/1). Dalam pemilu kali ini, Partai Likud berkoalisi dengan Partai Yisrael Beiteinu pimpinan Avigdor Lieberman dan akan menghadapi koalisi tiga partai. Yakni, Partai Ha Tnuah pimpinan Tzipi Livni, Partai Buruh pimpinan Shelly Yachimovichm, dan Partai Yesh Atid yang diketuai Yair Lapid.

Pernyataan Obama yang di luar kebiasaan itu tentu saja memanaskan suasana politik menjelang pemilu. Disebut “di luar kebiasaan” karena “biasanya” Presiden AS akan selalu membebek alias membenarkan dan bahkan mendukung apa saja sepak terjang para pemimpin Zionis Israel. Yang terakhir adalah ketika AS harus berseberangan dengan 138 negara yang menyetujui Palestina sebagai negara pengamat non-anggota di PBB, demi mengikuti kehendak Zionis Israel.

Seperti dilaporkan koran berbahasa Arab Al Sharq Al Awsat edisi 16 Januari 2013, mengutip media online Bloomberg, Obama mengatakan kepada beberapa pembantunya, kebijakan yang diambil Netanyahu sangat membahayakan Israel sendiri. “Kebijakan Netanyahu telah menyebabkan Israel dikucilkan dunia,” ujar Obama dalam pertemuan tertutup dengan para pembantunya di Gedung Putih. “Dia (Netanyahu) tidak paham kalau kebijakannya telah membuat Israel pada posisi sulit, bahaya, dan terkucil dari dunia,” lanjut Obama dengan nada marah penuh emosi.

Kebijakan Netanyahu yang dimaksud Obama, antara lain, pembangunan permukiman Yahudi di zona sengketa E-1 yang terletak antara Yerusalem Timur yang diduduki Israel dan Maaleh Adumim, permukiman utama Yahudi di Tepi Barat. Sebuah kebijakan yang bukan hanya ditentang oleh negara-negara Arab, tapi juga ditolak oleh para pemimpin masyarakat Eropa dan Obama sendiri.

Obama menuturkan, dia sudah terbiasa dengan kebijakan Netanyahu yang menggiring Israel ke jurang bahaya. Namun, kebandelannya untuk terus membangun permukiman Yahudi kali ini telah membuatnya jengkel. Israel bisa ditinggalkan negara-negara sahabat, termasuk AS.

Karena itu, tidak mustahil Obama akan mengubah kebijakannya terhadap Israel. Bukan dengan mengendorkan tekanan terhadap Iran, tapi menyangkut kebijakan diplomasinya tentang Palestina, termasuk di Sidang Umum PBB. Sebagai misal, kalau sebelumnya AS menolak upaya keanggotaan Palestina di PBB, meskipun harus berseberangan dengan banyak negara, termasuk negara-negara utama di Eropa, di masa mendatang kebijakan Gedung Putih bisa berbeda.

Menurut para pembantunya, dalam pandangan Obama solusi konflik di kawasan Timur Tengah dan juga demi kepentingan negara ZIonis Israel adalah berdirinya dua negara, yaitu Israel yang hidup berdampingan dengan Palestina. Israel untuk mayoritas Yahudi dan Palestina untuk sebagian besar warga Arab/Palestina. “Inilah kepentingan sebenarnya untuk bangsa Israel menurut pandangan Obama,” tulis Bloomberg, sebagaimana dikutip Al Sharq Al Awsat. “Bisa jadi bila Netanyahu tetap ngotot membangun permukiman Yahudi, ia (Obama) akan menyetujui Yerusalem Timur sebagai ibu kota negara Palestina.”

Sikap Obama tak pelak telah membuat situasi politik Israel menjelang pemilu semakin panas. Apalagi, pernyataan orang nomor satu di Gedung Putih itu juga dikutip berbagai media di Israel. Kubu Netanyahu menganggap sepi ancaman Obama tesebut. Namun, tidak dengan lawan politiknya.

Tzipi Livni, mantan Menlu Israel yang kini menjadi pesaing kuat Netanyahu, langsung menyerang sang perdana menteri. “Boleh saja Anda suka atau tidak suka terhadap Presiden AS. Namun, yang jelas hubungan dengan AS adalah sangat penting dan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari keamanan dan keberadaan Israel,” kata Livni.

Livni menyatakan setuju dengan pendapat Obama bahwa Israel harus hidup berdampingan dengan Palestina. Kalau partainya menang, ia berjanji bahwa perundingan damai dengan Palestina akan menjadi prioritas utama pemerintahannya. “Saya akan segera mengundang Presiden Palestina untuk berunding,” katanya.

Pernyataan Nyonya Livni harus dibaca sebagai janji politik jelang pemilu. Kita juga masih menunggu pelantikan Barack Obama sebagai Presiden AS periode kedua. Yang jelas, konflik Arab/Palestina dengan Israel akan terus menjadi problem utama di Timur Tengah dan dunia Islam. Munculnya radikalisme di kalangan masyarakat Islam, antara lain, bersumber dari kebiadaban kaum Zionis dan ketidakberdayaan para pemimpin Islam

sumber : Resonansi
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA