Sabtu, 9 Syawwal 1439 / 23 Juni 2018

Sabtu, 9 Syawwal 1439 / 23 Juni 2018

Teman Ghaib Buya Hamka

Senin 26 Februari 2018 06:00 WIB

Red: Fitriyan Zamzami

Buya Hamka.

Buya Hamka.

Foto: Twicsy.com
Buya Hamka merasakan keganjilan di sel Cipanas.

Oleh Yusuf Maulana*)

Ramadhan 1383 Hijriah harus dijalani Hamka di ruang pesakitan. Tuduhan terlibat dalam persekongkolan jahat melawan penguasa membuatnya harus terpisah dan istri dan anak-anaknya berikut para jamaah Masjid Al Azhar yang biasa menyimkan ceramah-ceramahnya saban subuh. Tanggal 12 puasa, bertepatan 27 Januari 1964, hari-hari Hamka adalah berteman sepi. Ia dipisahkan dari tahanan lain yang juga dikelompokkan sebagai anasir kontra-revolusi. 

Hamka yang terbiasa membaca berasa, kian merasakan sepi itu di penjara. Kelak, permintaannya kepada penguasa, yakni agar ia diizinkan membawa buku-bukunya ke dalam sel, dikabulkan. Bahan-bahan bacaan keislaman inilah yang kelak menemaninya hingga melahirkan Tafsir Al Azhar.  

Rasa sepi yang dirasa itu sejatinya manusiawi. Bahkan, bisa saja, sepi itu berubah menjadi takut; lebih-lebih deraan siksa menanti di ujung waktu. Hamka tak memungkiri soal ini. Tapi tak banyak yang mungkin tahu kalaulah sang dai cum pujangga ini terobati dari rasa sepinya, sepi dalam arti tidak merasa hidup sempit seorang diri, dari hari-hari awal di ruangan penjara. Sepi yang bukan karena jenuh tiadanya aktivitas—jenuh ini yang diobati oleh Hamka dengan melanjutkan kebiasaan membacanya.

Malam pertama di sel di Cipanas berasa bakal biasa bagi Hamka. Ia hendak tertidur dengan diawasi para penjaga yang cukup berjarak tempat duduknya. Kepala hendak direbahkan. Tapi ada sesuatu yang ganjil.

“Serasa ada orang yang tidur di tempat tidur kosong di sampingku,” cerita Hamka tentang malam itu, kelak di salah satu halaman tafsirnya. 

“Sampai tertidur dan sampai terbangun kembali buat makan sahur, orang itu masih tetap ada menemaniku. Saya merasa bawa saya ditemani!” Kisah Hamka. Siapa “peneman” Hamka itu?

Delapan bulan dalam tahanan di Bogor dan Sukabumi, penyakit Hamka muncul. Disentrinya tidak bisa dibiarkan begitu saja. Penguasa pun memutuskan: Hamka ditahan di rumah sakit “Persahabatan”. Diobati sembari ditahan; atau bisa juga dilihat sebagai penahan yang diikuti tindak pengobatan. Barangkali di sini membawa hikmah tersendiri bagi empunya raga. Diobati di kamar kelas 1 pula. Kendati insan relatif berumur dan menderita sakit, Hamka tetap dijaga ketat. Saban hari ada petugas piket menjaganya. Entah mengapa, penjagaan ketat itu tak sampai sebulan lamanya. Tak terpikirkan di benak Hamka penyebabnya.

Bila malam tiba, sekira pukul 9, perawat mengontrol kesehatan Hamka. Para perawat ini akan ditemani petugas kepolisian yang piket malam mengawasi kamar Hamka.

“Kalau saya orang yang berjiwa jahat, bisa saja saya lari karena tidak dijaga,” ujar Hamka. Nyatanya, ia memilih di atas pembaringan; berzikir, membaca, menulis, lalu tidur.

Sampai sebulan kemudian seorang perawat yang bertugas mau berterus terang pada Hamka atas tiadanya polisi pengawas. Rupanya bukan soal atasan mereka di kekuasaan melarang untuk mengawasi lagi Hamka.

“Banyak juru rawat yang takut datang lagi ke kamar Bapak ini malam hari,” kata perawat, polos saja. Sebabnya, para polisi penjaga tidak ada lagi yang menemani mereka. Ke mana mereka?

Hamka pun terheran. “Mengapa takut? Apakah kalian ragu-ragu kepada saya, orang tua ini. Kerja saya sebelum tidur hanya membaca al-Quran,” sergah Hamka.

“Bukan itu Bapak, jangan Bapak salah terima. Polisi yang menjaga Bapak itu mengatakan kepada kami beberapa hari yang lalu bahwa mereka tidak berani lagi pergi mengawal kamar sakit Bapak di luar. Karena ketika mereka datang, didapatinya ada orang yang duduk di bangku tempat mereka biasa duduk. Orang berbaju putih, berserban. Melihat wajah orang itu hilang saja keberanian pak polisi itu mendekati kamar Bapak,” jelas si perawat. “Sejak itu Bapak jarang dijaga di waktu malam. Kalau ada polisi datang menjaga, dia duduk bersama-sama penjaga-penjaga keamanan rumah sakit, jauh di luar sana,” tambahnya lagi.

Siapa “peneman” Hamka itu?

Hamka menjawabnya begini, “Saya tidaklah berani memastikan apakah itu malaikat yang merupakan diri. Saya cuma memohon bahwa semuanya itu adalah kawan yang baik belaka. Dan tidaklah mereka itu pernah membisikkan bisikan yang jahat ke dalam hati atau telinga saya. Cuma yang saya rasakan ialah bahwa saya tidak merasa takut bahaya apa yang akan menimpa saya, sebab saya yakin bahwa yang saya perjuangkan selama ini lain tidak hanyalah agama Allah, sekedar tenaga yang ada pada saya.”  

Hamka menceritakan pengalamannya itu dalam uraiannya tentang kandungan surat al-Fushshilat  ayat 30 di Tafsir Al Azhar (Juz 24 halaman 226-229), Sesungguhnya orang-orang yang berkata: “Tuhan kami adalah Allah”, kemudian itu mereka teguhkan pendirian mereka, akan turunlah kepada mereka malaikat-malaikat: “Agar kami jangan merasa takut dan jangan merasa dukacita, dan gembiralah kamu dengan syurga yang telah dijanjikan allah kepada kamu.” 

Menurut Hamka, dengan menyebutkan beberapa dalil, kehadiran malaikat di alam dunia ini tidaklah semata-mata ketika di ujung hayat seorang hamba.

“Dan beranilah pula saya menyatakan,” terang Hamka, “bahwa boleh juga agaknya kita tafsirkan bahwa malaikat itu datang bukan seketika orang akan meninggal saja, bukan ketika nyawa akan cerai dengan badan saja, bukan ketika Munkar dan Nakir menyambut kubur saja, dan bukan ketika mendengar tiupan serunai sangkakala di hidup kedua kali saja, bahkan ketika kita masih hidup ini. Sebab banyak sekali Hadits-hadits Nabi menyatakan bahwa malaikat datang.”

Dalam fananya zaman, angkuhnya kekuasaan, dan sepinya kawan seperjuangan, adakah yang lebih baik dari hadirnya peneman yang didatangkan Allah buat kita meski tak kasatmata? Ini tentang tak bolehnya seorang Muslim mengerdilkan keberanian di tengah kezaliman di depan mata. Akan selalu ada kisah-kisah irasional yang sukar dinalar tentang peneman yang membisikkan kebaikan dan keberanian, di tengah lautan kemungkaran di tengah kita. 

Perhatikan pula sebaliknya, orang-orang yang bekerja di kekuasaan zalim akan mudah terombang-ambing oleh hal “ajaib” itu. Ini tentang kokohnya jiwa dalam menjalankan amanah. Ada keberkahan dalam amanah yang membisikkan keberanian; bukan malah menyemai ketakutan. n

*) Kurator buku lawas Perpustakaan Samben, Yogyakarta; penulis buku "Mufakat Firasat", dan "Nuun, Berjibaku Mencandu Buku".

    

 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES