Tuesday, 9 Rajab 1444 / 31 January 2023

Mencegah Silent Pandemic

Kamis 01 Dec 2022 17:34 WIB

Red: Joko Sadewo

MRSA adalah superbug yang kebal pengobatan yang dapat menyebabkan infeksi mematikan. Superbug muncul karena penggunaan antibiotik yang tidak tepat.

MRSA adalah superbug yang kebal pengobatan yang dapat menyebabkan infeksi mematikan. Superbug muncul karena penggunaan antibiotik yang tidak tepat.

Foto: Reuters/Fabrizio Bensch
WHO menyebut angka kematian karena superbug jauh melebihi Covid-19.

Oleh : Dwi Murdaningsih, Jurnalis Republika.co.id

REPUBLIKA.CO.ID, Bulan lalu, India menghadapi gelombang 'pandemi' superbug. Superbug adalah strain patogen baik itu bakteri, virus atau jamur yang resisten terhadap antibiotik. Artinya, patogen itu kebal alias tidak mati jika diresepkan antibiotik seperti biasanya.

Patogen itu memiliki kemampuan untuk melawan obat atau antibiotik yang diresepkan. Di India, kasus resistensi terhadap antibiotik umum naik 10 persen hanya dalam waktu satu tahun saja.

Dalam ilmu biologi, bakteri yang resisten artinya bakteri itu kebal terhadap antibiotik dan bersifat semakin kuat. Akibatnya, infeksi akan sulit ditangani dan tidak mungkin infeksi akan menyebar ke jaringan tubuh lain. Repot sekali. Dampak yang paling fatal adalah kematian.

Beberapa penelitian dari data surveilans WHO disebutkan angka kematian karena superbug jauh melebihi Covid-19. Inilah alasan superbug disebut sebagai silent pandemic. Diam-diam mematikan, bahkan mungkin tanpa disadari.

 

Memang telah lama resistensi antibakteri disebut sebagai ancaman kesehatan global. Setiap pekan terakhir bulan November, WHO pun mencanangkan pekan kesadaran menggunakan antibiotik atau World Antibiotik Awareness Week (WAAW). Tujuannya adalah mencegah dan mengendalikan terjadinya superbug dengan kampanye dari petugas kesehatan kepada masyarakat.

Menanggapi soal superbug, para ahli mengatakan perlunya kesadaran untuk tidak mengonsumsi antibiotik secara sembarangan. Sebab, pandemi superbug ini bisa dicegah.

Menurut penulis, saran para ahli ini juga merupakan sebuah kritik dan penginat bagi ahli kesehatan itu sendiri atau dokter. Penulis sebut autokritik sendiri lantaran mungkin tidak satu dua dokter yang mudah memberikan antibiotik kepada pasien tanpa ada indikasi memang wajib diberikan antibiotik. Coba kita bertanya: siapa yang meresepkan antibiotik? Dokter kan?

Saya ingat cerita sorang kawan tentang resep antibiotik ini. Sekitar dua bulan lalu, waktu sedang musim batuk pilek, anak teman saya diresepkan antibiotik oleh dokter tanpa dites dulu apakah anak tersebut batuk pilek karena infkesi bakteri, karena virus, karena alergi atau karena salesma.

Sayangnya, resep antibiotik itu didapatkannya ketika berada di farmasi usai berkonsultasi dengan dokter. Saat masih berkonsultasi dengan dokter, dokter tidak menjelaskan bahwa pasien anak tersebut akan diberikan antibiotik. Dokter hanya menjelaskan larangan-larangan yang harus dihindari ketika anak sedang batuk.

Karena tidak mau mengambil risiko, teman saya tidak memberikan antibiotik yang sudah diresepkan kepada anaknya. Hanya obat saja yang diberikan untuk meringankan gejala batuk dan pilek anak.

Di kasus-kasus lain, mungkin ada juga ada pasien-pasien yang diberikan resep antibiotik oleh dokter. Padahal, mungkin sebenarnya tidak berlu antibiotik.

Sebagai pasien tentu kita  tidak anti dengan atibiotik. Namun, mengonsumsi antibiotik bagi orang yang yang sakitnya karena jamur tentu ini tidak nyambung kan? Jadinya malah berbahaya.

Kalau seperti ini bagaimana? Pasien itu kan pada dasarnya awam soal kesehatan. Dia datang ke dokter karena memang orang yang berwenang untuk memberikan diagnosa suatu penyakit.

Menurt penulis, superbug ini menjadi sebuah peringatan bagi semua pihak untuk lebih berhati-hati dengan antibiotik. Bagi dokter, bagi pasien dan juga bagi apotek.

Dokter juga sebaiknya tidak dengan mudah meresepkan antibiotik kalau memang tidak diperlukan. Ketika sudah diresepkan oleh dokterpun, pasien harus lebih berhati-ketika mengonsumsinya. Caranya, hati-hati saat menakar antibiotik, agar takaran antibiotik lebih akurat.Ini agak tricky ketika antibiotik bentuk cair yang diberikan kepada anak-anak. Antibiotik sediaan ini harus diukur dengan akurat agar dosis dan penggunaannya tepat.

Selain itu, perhatikan juga durasi waktu konsumsi antibiotik. Apakah per 8 jam, atau per 6 jam atau berapa sesuai anjuran dokter.

Yang terpenting, jangan pernah melakukan self diagnose. Jangan melakukan diagnosa sendiri. Misalnya tenggorokan sakit lalu berasumsi radang tenggorokan dan membeli antibiotik sendiri tanpa resep.

Apotek seharusnya juga ketat dalam menjual antibiotik. Tidak boleh seseorang membeli antibiotik tanpa resep.

Selain itu, jangan pernah mengonsumsi antibiotik atas dasar pengalaman orang lain. Jangan pernah memberikan antibiotik resep sendiri kepada orang lain karena setiap orang memiliki kondisi tubuh yang berbeda.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA