Monday, 4 Zulqaidah 1442 / 14 June 2021

Monday, 4 Zulqaidah 1442 / 14 June 2021

Peradaban dan Keadaban Ada di Tangan Kita

Kamis 13 May 2021 17:13 WIB

Red: Joko Sadewo

Akhlak mulia (ilustrasi)

Akhlak mulia (ilustrasi)

Foto: republika
Peradaban dan akhlak, tak bisa terpisahkan.

Oleh : Nashih Nashrullah, Jurnalis Republika.co.id

REPUBLIKA.CO.ID, Keruntuhan peradaban itu, tak harus memusnahkan eksistensinya secara sekejap. Bisa saja perlahan, tapi sendi-sendi kehidupan yang awalnya kokoh, sedikit demi sedikit keropos. Kisah kehancuran yang demikian, ternyata bukan elegi masa lalu, atau legenda di era kuno.

Apa yang membuat Jared Diamond, berani memprediksikan kemungkinan tumbangnya sejumlah peradaban. Dan Anda mau tahu? Indonesia adalah salah satu negara yang ia sebut berada di tubir kehancuran itu, seperti ia tulis dalam bukunya yang bertajuk “Collapse: How Societies Choose to Fail or Succeed.”

Selain negara kita, guru besar Geografi di University of California, Los Angeles ini mencolek juga nama Kolombia dan Nepal. Mungkin kita agak sedikit beruntung, tetapi tetap perlu mawas dan waspada, negara seperti Somalia, Rwanda, dan Zimbabwe, ia sebut sebagai peradaban yang tumbang pada era modern sekarang.

Faktor penghancur peradaban itu sangat beragam, dan mungkin kompleks. Satu sama lain saling berkaitan. Diamond menyebut ada lima faktor. Kelima-limanya itu merujuk pengalaman Norse Greenland, Eropa yang pernah berjaya dari 984 M hingga akhirnya tumbang pada 1450 M.

Perilaku yang bermuara pada akhlak, ikut bersumbangsih pada keruntuhan Greendland. Seperti tampak dari penggundulan tanah yang dilakukan oleh Viking, yang menyebabkan erosi dan berdampak fatal bagi kelangsungan hidup mereka.

Menurut Diamond, secara umum, sebuah peradaban runtuh setelah mencapai puncak kejayaannya. Begitulah siklus peradaban. Dalam beberapa kasus, ada pula peradaban yang runtuh dengan begitu cepat, setelah kejayaan berhasil diraih selama beberapa dekade, tetapi dalam tempo yang begitu cepat peradaban itu tumbang, seperti peradaban Maya Klasik di Yucatan.

Secara teori, sebetulnya paparan Diamond tak begitu mengangetkan. Ia tidak berangkat dari kesimpulan nol. Teori yang sama tentang siklus peradaban yang melemah akibat merosotnya moralitas pernah disampaikan, antara lain oleh para cendekiawan Muslim.

Dalam “Muqaddimah”-nya, Ibnu Khaldun menegaskan bahwa jika Tuhan berkehendak memberangus peradaban, mereka akan diuji dengan seberapa jauh konsisten dan komitmen memegang nilai serta moralitas tersebut di saat kemaksiatan merebak di mana-mana. “Inilah yang terjadi terhadap runtuhnya peradaban Islam di Andalusia, Spanyol,” tulis Ibnu Khaldun.

Wajar bila kekhawatiran Diamond muncul terkait nasib Indonesia, demikian pula dengan saya dan mungkin saja Anda. Perhatikan dengan saksama betapa nihilitas nilai serasa sayup dan kini beranjak terang-terangan, mulai tampak dalam tatanan masyarakat kita. Intrik politik para elite yang sarat ambisi dan oportunisme, korupsi di berbagai lini, inkonsistensi penguasa, kerakusan, eksplorasi alam yang tak bertanggung jawab, dan perilaku Barbar di level akar rumput.

Anak tega membunuh orang tua dan begitu sebaliknya. Oknum guru malah bertindak tabu, menghujat di ranah publik menjadi lumrah, pencari keadilan diasingkan, maling teriak maling,  Bila peradaban dianggap pula sebagai tatanan nilai, sejatinya bangunan tersebut telah rapuh. Jika peradaban dinyatakan sebagai batas-batas kesopanan, tentulah mulai memudar. Dan seandainya peradaban itu dipandang sebagai akumulasi sistem, peradaban bangsa kita sekarang tengah melepuh.

Bagi Diamond, persoalan mendasar yang dihadapi oleh masyarakat global saat ini sebenarnya ada dalam kendali diri. Ancaman terbesar adalah ancaman yang dibuat oleh manusia itu sendiri. “Maka itu, berarti penyelesaian masalah ini semua ada dalam kemampuan kita. Khususnya, apa yang dapat kita lakukan?,” katanya.

Peradaban dan akhlak, tak bisa terpisahkan. Keduanya ibarat jasad dan roh, bila roh itu sirna, sirna pula jasad yang fana itu. Di sisi lain, keresahan dan keprihatinan muncul dari para sastrawan yang disebut-sebut kerap melihat dunia dengan mata hati mereka, seandainya kita tak segera sadar dan memperbaiki akhlak itu, kekhawatiran tersebut bukan sekadar teori dan isapan jempol.

“Selama moralitas masih bertahan pada suatu kaum, ia akan bertahan. Bila sirna, lenyap sudah eksistensi kaum itu. Solusinya adalah kembali ke moralitas. Perkuat jiwa dengan akhlak maka akan kokoh. Peradaban tumbang dan runtuh ketika akhlak nihil. Tipu daya, dusta, korupsi, dan kerusakan merajalela,” demikian keresahan Ahmad Syauqi, sastrawan dan budayawan terkemuka asal Mesir. Anda, saya, dan kita semualah pelestari peradaban itu.

Berkaca pada tragedi Baghdad menyisakan kisah pilu bagi dunia Islam. Ujian yang teramat berat. Kesedihan dan duka mendalam dirasakan oleh Muslim di berbagai wilayah saat itu. Luka dan lara di relung hati yang paling dalam tergoreskan lewat susunan kata dan frase. Tak sedikit sastrawan yang meluapkan kesedihan menggunakan cara mereka, berpuisi dan berprosa.

Lewat gubahan syairnya yang terkumpul dalam kasidah yang bertajuk “Fi Ratsai Baghdad”, Syamsuddin al-Kufi (1226-1276 M) meluapkan betapa ia sangat terpukul dengan peristiwa tragis tersebut. Dalam kepiluannya, al-Kufi menulis:

Rumah..rumah..di mana mereka tinggal
Kemana keagungan dan kebesaran itu
Wahai rumah kemana kemuliaanmu
Dan panjimu yang terhormat dan agung itu
Wahai orang yang telah pergi dalam hati dan rusukku
Terdapat cahaya yang tak akan pernah padam karena kepergian kalian

Meski al-Kufi teramat larut dalam kesedihan, ia harus berbuat sesuatu. Jasanya tercatat sejarah, ia membeli anak-anak yang ditawan oleh Mongol dan merawat mereka.

Keruntuhan kejayaan Islam di Baghdad memang tinggal sejarah. Tetapi, sejarah adalah cermin bagi generasi mendatang. Pelajaran yang berharga tentunya adalah bagaimana umat Islam tetap waspada terhadap konspirasi musuh yang terkadang kasat mata, tetapi kadang pula senyap.

Agama kita mengajarkan untuk menguasai dunia, bukan 'mempertuhankanya'. Berbangga dengan kejayaan masa lalu dan melupakan masa depan, bukanlah ajaran agama. Islam adalah agama masa lalu, sekarang, dan esok. Faidza faraghta fanshab, tak ada kata lengah dan jaga konsistensi selalu.

 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 

BERITA TERKAIT

 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA