Jumat, 19 Safar 1441 / 18 Oktober 2019

Jumat, 19 Safar 1441 / 18 Oktober 2019

Mendorong Lahirnya Petani Milenial

Rabu 22 Mei 2019 14:32 WIB

Red: Joko Sadewo

Lahan Pertanian

Lahan Pertanian

Foto: VOA
Sudah saatnya masalah pertanian Indonesia diserahkan diurus generasi milenial.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Erik Purnama Putra*

Salah satu masalah bidang pertanian yang dihadapi Pemerintah Indonesia, saat ini adalah para petani yang didominasi berusia tua. Jamak diketahui, menjadi petani bukan lagi sebuah pekerjaan menarik di kalangan muda. Sangat sedikit sekali anak-anak muda yang lulus sarjana, berkeinginan menjadi petani. Bahkan, kalau diadakan sebuah survei tentang cita-cita atau pekerjaan idaman pada masa depan, pasti jawaban menjadi petani akan berada di nomor urut sekian atau bahkan tidak masuk daftar sama sekali.

Kondisi itu merupakan sebuah fakta yang benar-benar terjadi. Masyarakat bisa dengan mudah menemukan para petani yang membajak sawah, mencangkul di kebun, dan menanam bibit, sudah berumur. Sulit menemukan anak muda yang bergulat di bidang pertanian.

Mengapa hal itu terjadi? Jawabannya sangat mudah! Sektor pertanian tidak lagi dipandang bisa memberikan kesejahteraan bagi masyarakat. Petani saat ini dinilai sebagai pekerjaan kelas dua yang tidak menawarkan masa depan cerah. Belum lagi, keberpihakan pemerintah yang seolah kerap menganaktirikan petani dengan mengeluarkan kebijakan kontraproduktif.

Satu lagi, kalau mau menjadi petani maka harus siap selalu menerima kenyataan menyedihkan atau menderita, misalnya gagal panen, harga panen jatuh, hasil panen kalah bersaing dengan produk impor, dan sebagainya. Tidak mengherankan pula, banyak orang yang menjadi petani mengharapkan anaknya tidak mengikuti jejaknya.

Hal ini jelas menimbulkan persepsi di masyarakat bahwa menjadi petani tidak memiliki masa depan cerah. Para petani yang seyogianya posisinya dimuliakan pemerintah, faktanya terkesan malah diremehkan sama sekali. Kadang saking jengkelnya, mereka sampai harus meninggalkan lahan garapan dengan pergi berdemo menentang kebijakan pemerintah yang dianggap proimportir.

Meski pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pertanian (Kementan) terus berupaya melakukan berbagai terobosan dalam meningkatkan swasembada pertanian, namun langkah yang diambil terkesan masih sporadis. Belum terlihat ada langkah holistik dan berkelanjutan untuk mengatasi benang kusut masalah di dunia pertanian, khususnya regenerasi petani.

Padahal, salah satu faktor terciptanya swasembada di sebuah negara adalah kalau para pencari kerja sangat mengidam-idamkan posisi menjadi petani. Kalau semua orang berbondong-bondong menggeluti sektor pertanian maka otomatis mereka akan bekerja dengan hati dan nyaman. Kalau hal itu terwujud, program pencanangan swasembada beras, jagung, bawang, buah, atau sayuran, bisa dengan mudah diwujudkan.

Yang juga terjadi selama ini, gairah untuk memajukan sektor pertanian masih terbentur anggapan menjadi petani itu identik dengan kemiskinan. Kondisi seperti itu yang membuat pada akhirnya anak muda, termasuk sarjana pertanian memilih bekerja di bidang lain yang lebih menyediakan kepastian dan kenyamanan bagi mereka.

Belum lagi, fakta menyedihkan selalu terjadi, sangat jarang ada cerita petani sukses dan menjadi kaya. Hal itu membuat tak ada sosok inspiratif yang menggerakkan anak muda untuk mau bekerja di sektor pertanian.

Bonus demografi
Dibandingkan negara lain, Indonesia memiliki momentum untuk mengangkat sektor pertanian menjadi pilihan di kalangan anak muda. Hal itu berkaitan dengan bonus demografi yang sedang didapat bangsa ini. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk usia produktif pada 2020-2030, mencapai 52 persen dari total penduduk Indonesia.

Kategori penduduk produktif antara 15 tahun sampai 64 tahun. Adapun bonus demografi diperkirakan akan berakhir pada 2036 atau sekitar 37 tahun lagi. Masa sesudahnya, penduduk Indonesia akan mengalami penuaan atau jumlah lansia lebih besar daripada usia produktif.

Mengacu hal itu, sudah selayaknya Kementan membuat road map yang mendorong agar anak-anak muda, khususnya lulusan kampus ternama dalam maupun luar negeri untuk berkompetisi masuk di sektor pertanian. Perlu ada insentif bagi mereka yang mau menjadi petani atau bergelut di bidang pertanian, supaya sektor ini tidak hanya menjadi pekerjaan kalangan tua.

Kementan perlu membuat program khusus supaya sektor pertanian yang selama ini dipandang sebelah mata bisa naik kelas. Kalau sekarang anak muda pada keranjingan masuk bisnis start up, Kementan harus mengarahkan mereka untuk bisa tertarik terjun di dunia pertanian.

Dengan langkah menyinkronkan passion anak muda di bidang usaha rintisan terkini dengan sektor pertanian, diharapkan banyak yang tertarik untuk melirik, bahkan terjun langsung menggarap lahan untuk meningkatkan produktivitas hasil tanaman. Dengan langkah integrasi dan adanya sentuhan teknologi, ditargetkan pertanian Indonesia yang masih tertinggal jauh bisa berkembang.

Ujungnya, sektor pertanian tidak lagi diurusi golongan tua yang bekerjanya serba manual, melainkan diganti kalangan muda yang ingin serba cepat dengan hasil menggembirakan. Untuk itu, satu masalah utama yang wajib ditangani Kementan adalah menyiapkan generasi milenial agar mereka tertarik mengembangkan pertanian Indonesia.

Karena jika regenerasi pertanian tidak kunjung dilakukan, jangan kaget kalau bangsa ini ke depannya semakin memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap negara lain. Kalau sudah begitu, impor menjadi solusi untuk mengatasi krisis pangan dalam negeri yang tidak bisa dihentikan.

Sudah saatnya masalah pertanian Indonesia diserahkan diurus oleh generasi milenial. Karena bagaimana pun, masa depan bangsa ini tergantung dengan pencapain anak muda sekarang ini. Kalau bonus demografi tidak dimanfaatkan, jangan kaget nanti seluruh petani merupakan orang-orang tua. Dan, kisah kejayaan petani Indonesia akan tinggal kenangan, lantaran tidak ada anak muda yang tertarik menggantikan golongan tua.

Terobosan Kementan
Salah satu upaya Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman menarik minat generasi muda menjadi petani adalah dengan pembagian alat dan mesin pertanian (alsintan) modern. Menurut dia, strategi menggunakan teknologi modern menjadi salah satu kunci menggaet generasi muda tertarik terjun ke lahan sawah.

Pasalnya, kalau metode pertanian masih dilakukan secara manual, pemuda tidak akan tertarik menjadi petani. Menurut Amran, pemberian alsintan modern dari pemerintah telah mengubah paradigma lama bahwa petani menggunakan cangkul dan sekop untuk menanam jagung di sawah.

Namun, dengan bantuan traktor roda empat serta alat penanam benih (corn planter), petani masa kini bisa membajak sawah dan menanam benih lebih cepat. Berdasarkan penelitian Kementan, modernisasi alsintan pertanian juga dapat menurunkan biaya produksi sekitar 40-50 persen.

Sehingga petani dapat melakukan efisiensi hasil panen. Pun misalnya, produksi jagung dapat meningkat dua kali lipat dari lima ton menjadi 10 ton per hektare, didukung dengan penggunaan bibit unggul.

Sebagai negara agraris, Indonesia memang salah satunya masih mengandalkan pembangunan di bidang pertanian. BPS mencatat pada Agustus 2018, jumlah petani yang berkurang berkorelasi dengan naiknya tingkat kemiskinan di desa.

Adapun jumlah pekerja di sektor pertanian tercatat 35,7 juta orang atau 28,79 persen dari jumlah penduduk bekerja sebanyak 124,01 juta. Padahal, pada 2017, pekerja sektor pertanian masih mencapai 35,9 juta rang atau 29,68 persen dari jumlah penduduk bekerja.

Namun ada pencapaian positif yang disumbang sektor pertanian terkait pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) dalam kurun empat tahun terakhir. Kepala Pusat Data dan Sistem Informasi Kementan I Ketut Kariyasa mengatakan, selama 2013-2017, akumulasi tambahan nilai PDB sektor pertanian yang dihasilkan mencapai Rp 1.375 triliun atau naik 47 persen dibandingkan dengan tahun 2013.

Angka itu meningkat pada 2018 dengan PDB mencapai Rp 395,7 triliun atau meningkat dibandingkan triwulan III 2017 yang sebesar Rp 375,8 triliun. Dampaknya, peran sektor pertanian, termasuk kehutanan dan perikanan juga semakin berkontribusi dalam pertumbuhan ekonomi nasional.

Jika pada 2014, sektor pertanian menyumbang sekitar 13,14 persen terhadap ekonomi nasional maka pada 2017, angkanya meningkat menjadi 13,53 persen. Adapun data 2018 masih dalam penghitungan, dan diyakini bakal meningkat.

Dengan kondisi seperti itu, kesejahteraan petani ke depannya bisa meningkat dan bisa menarik perhatian kalangan lain untuk menggeluti sektor pertanian yang menawarkan masa depan cerah. Sehingga, kalau banyak orang berbondong dan tertarik untuk menggeluti sektor pertanian, upaya pemerintah dalam mewujudkan swasembada pangan bisa dilakukan secara berkelanjutan.

Karena konsep swasembada itu bisa dilakukan secara terus-menerus kalau para petani bergembira dengan aktivitas yang dilakukannya, dan hasil panen yang didapat bisa menutupi biaya hidup keluarganya.

*) Jurnalis republika

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA