Selasa, 16 Safar 1441 / 15 Oktober 2019

Selasa, 16 Safar 1441 / 15 Oktober 2019

Belajar dari Pidato Kekalahan Hillary Clinton

Sabtu 20 Apr 2019 05:01 WIB

Red: Joko Sadewo

Nur Aini

Nur Aini

Foto: dok. Republika
Pidato kekalahan Hillary tak mengungkit semua prediksi lembaga survei itu.

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Nuraini*

Hari itu, 9 November 2016, sehari usai pemilihan presiden Amerika Serikat. Saluran televisi AS menayangkan pendukung Hillary Clinton berkumpul di New Yorker Hotel, New York. Tepuk tangan menggema saat Hillary Clinton maju ke podium. Tapi, tepuk tangan itu bukan untuk merayakan kemenangan. Hillary Clinton kalah dalam pemilihan presiden AS.

Digadang-gadang untuk menjadi presiden perempuan pertama AS, Hillary Clinton ternyata gagal mengalahkan calon presiden dari Partai Republik, Donald Trump yang pencalonannya dianggap remeh banyak pihak. Perhitungan elektoral vote memenangkan Donald Trump dengan angka 306, dibandingkan Hillary yang hanya mendapat 232.

Tampil dengan blazer bernuansa ungu, Hillary tersenyum menyambut pendukungnya dan membuka pidatonya dengan mengucapkan terima kasih. Dia mengucapkan terima kasih sekaligus mengungkapkan kecintaannya kepada para pendukung. Hal pertama yang Hillary ungkapkan setelahnya adalah dia mengaku telah memberikan ucapan selamat kepada Donald Trump atas kemenangan dalam pemilihan presiden AS. Hillary bahkan menawarkan dirinya untuk bekerja sama dengan Trump demi negaranya. Ia juga berharap Donald Trump menjadi presiden yang sukses untuk seluruh rakyat AS.

Hillary mengakui kekecewaannya atas hasil Pilpres AS. "Ini menyakitkan, dan akan seperti ini untuk waktu lama," kata dia. Kekecewaan dan rasa sakit yang dirasakan Hillary itu beralasan. Jauh hari sebelum pemilihan presiden AS, berbagai lembaga survei memprediksi Hillary akan menang. Bahkan, Reuters menyebut peluang Hillary untuk menang dalam pilpres AS mencapai 90 persen. Angka itu lebih tinggi dari prediksi media pendukung Hillary, New York Times yang menyatakan peluang kemenangan di angka 85 persen.

Peluang kemenangan untuk Hillary juga disebut oleh media lain seperti Bloomberg, Fox News, CBS News, dan ABC. Selain itu, situs fivethirteight.com juga menyediakan data statistik yang memprediksi peluang besar kemenangan mantan menteri luar negeri AS itu baik untuk popular vote maupun dalam elektoral vote. Tapi semua prediksi itu meleset. Hillary kalah.

Namun, pidato kekalahan Hillary tak mengungkit semua prediksi lembaga survei itu. Dia justru menekankan pentingnya menerima hasil pemilihan presiden AS dan menyongsong masa depan kepada para pendukungnya. Dia mengingatkan para pendukungnya menjunjung tinggi nilai-nilai yang selama ini dipegang oleh AS seperti peradilan yang adil, kesetaraan hak, kebebasan berekspresi, dan proses demokrasi damai.

Pidato kekalahan Hillary juga tak luput menyebut tentang kondisi AS yang terpecah. Hal itu bisa jadi menyinggung cara Donald Trump selama masa kampanye. Donald Trump mengusung isu populis dengan membawa politik identitas. Populisme yang diusung Donald Trump memakai banyak pernyataan yang diskriminatif dan anti-imigran.

Hillary turut menekankan tentang demokrasi konsitusional AS yang harus dijunjung para pendukungnya pasca-pemilihan presiden dengan hasil Donald Trump sebagai presiden. Dia ingin semua orang tanpa kecuali dapat merasakan 'American Dream', istilah yang kerap dipakai untuk menyebut kesuksesan di AS. Hillary ingin AS dibangun secara inklusif bersama presiden baru. Meski begitu, Hillary sama sekali tidak menyebut mengenai cara Donald Trump berkampanye.

Dalam pidatonya, Hillary turut mengucapkan terima kasih pada presiden sebelumnya Barack Obama. Ia menyebut anggota keluarganya dan warga AS yang terlibat dalam kampanye pemilihan presiden AS untuk mengucapkan terima kasih. Tak ada pernyataan Hillary yang menuding pihak-pihak bertanggungjawab atas kekalahannya. Dia juga tidak menyebut dugaan kecurangan penyelenggara Pilpres AS ataupun cara kotor rivalnya dalam meraih kemenangan.

Lebih dari tiga tahun setelah pidato kekalahan Hillary itu, Indonesia menyelenggarakan pemilu serentak yang salah satunya memilih presiden. Meski memiliki sistem pemilu yang berbeda dengan AS, tapi kita juga disuguhkan dengan berbagai hasil survei yang memprediksi siapa pemenang presiden sejak sebelum hari pemungutan suara. Sayangnya, kita juga masih disuguhi hasil hitung cepat lembaga survei yang memprediksi siapa pemimpin pemerintahan Indonesia lima tahun ke depan sehari setelah hari pemungutan suara. Hasil perhitungan suara resmi pemilihan presiden dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) masih harus ditunggu hingga 22 Mei mendatang.

Tapi, apapun hasil resmi KPU nantinya, ada baiknya berharap pidato pihak yang kalah dalam pilpres nanti minimal seperti Hillary Clinton. Pidato yang tidak fokus pada mencurigai kesalahan lawan dan menuduh kecurangan tapi mengingatkan kita semua bahwa pemerintahan yang baru harus dikawal selama lima tahun mendatang untuk mewujudkan cita-cita demokrasi konstitusional.

*) Penulis adalah redaktur Republika.co.id

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA