Monday, 14 Syawwal 1440 / 17 June 2019

Monday, 14 Syawwal 1440 / 17 June 2019

Beda Nasib Solari dan Solskjaer

Jumat 08 Mar 2019 00:00 WIB

Red: Joko Sadewo

Israr Itah

Israr Itah

Foto: Republika/Kurnia Fakhrini
Solari dan Solskjaer awalnya sama-sama memberi harapan, namun belakangan hasilnya ber

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Israr Itah*

Santiago Solari dan Ole Gunnar Solskjaer menjadi sorotan pada pengujung tahun lalu. Penyebabnya, kedua pelatih muda ini mendapatkan berkah diangkat menukangi tim besar. Solari dipercaya memegang Real Madrid setelah manajemen klub memecat Julen Lopetegui pada akhir Oktober 2018. Sementara Solskjaer kembali ke Old Trafford, kali ini sebagai pelatih sementara saat dipercaya menggantikan posisi Jose Mourinho pada Desember 2018.

Dua sosok ini punya kemiripan. Solari dan Solskjaer sama-sama pernah membela klub yang saat ini ditanganinya sebagai pelatih. Solari tercatat sebagai penggawa Madrid dari 2000 sampai 2005. Solskjaer lebih lama lagi, dari 1996 sampai 2007.

Saat bermain, Solari lebih banyak tampil dari bangku cadangan. Hal serupa dirasakan Solskjaer bersama MU. Ia biasanya masuk pada babak kedua saat Iblis Merah menemui kebuntuan.

Awal menukangi tim, keduanya praktis menunjukkan kemiripan. Solari menghadirkan harapan baru setelah masa mengecewakan bersama Lopetegui. Hal lebih baik lagi dicatatkan Solskjaer bersama MU dengan rentetan kemenangan di pentas domestik.

Akan tetapi menjelang musim berakhir, situasi mulai berubah. Solari perlahan mendapatkan sederet hasil tak mengenakkan. Berawal dari kegagalan Los Blancos di Copa del Rey. Madrid dihentikan rival abadinya Barcelona dengan skor telak 3-0 di Santiago Bernabeu pada akhir bulan lalu. Karim Benzema dkk tersingkir dengan agregat 1-4.

Hanya berselang tiga hari, Madrid kembali dibungkam Barcelona, kali ini dengan skor 0-1 di La Liga. Alhasil jarak poin kedua tim melebar menjadi 12 angka untuk keunggulan Blaugrana. Harapan juara La Liga pun makin menipis.

Terakhir yang paling menyesakkan, Madrid tersingkir dari babak 16 besar Liga Champions oleh Ajax dengan agregat 3-5. Keunggulan 2-1 di kandang Ajax tak bisa dipertahankan. Madrid tumbang 1-4 di kandang sendiri pada leg kedua, Rabu (6/3) lalu. Tekanan pun makin deras mengarah ke Solari.

Sebaliknya, Solskjaer tetap mengilap. Ia membawa MU masuk kembali ke empat besar klasemen Liga Primer Inggris setelah sederet hasil meyakinkan. Terbaru, Solskjaer mengantarkan MU ke perempat final Liga Champions dengan menyingkirkan Paris Saint-Germain. Padahal MU kalah 0-2 di kandang dan harus tampil dengan pemain cadangan akibat sederet penggawa inti cedera dan terkena larangan bermain. Nyatanya, MU mampu menaklukkan PSG 3-1 di Parc des Princes untuk lolos dengan aturan gol tandang.

Ada banyak faktor yang membuat perbedaan ini terjadi. Saya tak hendak mengulas dari sisi taktik yang akan sangat panjang untuk dibahas. Namun, saya lebih melihat ke pendekatan personal berbeda yang menjadikan hasil akhirnya pun tak sama.

Solari pada awalnya mampu mengatasi ruang ganti Madrid yang diisi sederet pemain bintang dengan ego tinggi. Namun perlahan, ia mulai tak disukai. Alasannya, pria Argentina ini lebih mempercayai para pemain muda dan pelan-pelan mengurangi peran pemain senior. Padahal mereka tak semuanya sudah berusia uzur atau kemampuannya menurun. Isco dan Gareth Bale merasakan pahitnya tak mendapatkan kesempatan yang layak. Belakangan, Marcelo menjadi korban. Akibat abai kepada instruksi Solari pada satu pertandingan, bek sayap asal Brasil ini mulai sering menghuni bangku cadangan pada sejumlah laga terakhir.

Andai hasil yang didapatkan Madrid bagus seperti era Zinedine Zidane, keputusan Solari tak akan banyak dipermasalahkan. Faktanya, Madrid belakangan kesulitan mencari gol penentu saat bertanding dalam laga ketat.

Banyak pihak menyebutkan faktor hengkangnya Cristiano Ronaldo mempengaruhi performa Madrid. Saya tak sepenuhnya sependapat karena Los Blancos diisi sederet talenta kelas satu. Menurut saya, ketidakcakapan Solari menangani ruang ganti lebih berperan besar di sini.

Anda mungkin bisa melihat kiprah MU di tangan Solskjaer. Ia perlahan namun pasti mengubah cara bermain Iblis Merah yang lebih defensif saat di tangan Mourinho menjadi lebih menyerang. Solskjaer mempercayakan sejumlah pemain muda karena menginginkan kecepatan dalam eksekusi serangan. Alhasil, Romelu Lukaku harus puas tak banyak bermain. Demikian pula Alexis Sanchez yang baru pulih dari cedera. Tapi, tak ada terdengar ia bermasalah dengan dua pemain senior ini.

Solskjaer justru dipuji karena berhasil memulihkan ketajaman Paul Pogba mencetak gol selain menunaikan tugasnya sebagai pembantu serangan. Acungan jempol makin sering diacungkan ke Solskjaer saat sejumlah pemain kuncinya bertumbangan, namun MU masih bisa mencatatkan hasil positif di kompetisi domestik.

Pujian terbaru mengarah ke Solskjaer pada Kamis ini. MU berhasil menjungkirbalikkan sejumlah prediksi dengan menyingkirkan Paris Saint-Germain (PSG) pada babak 16 besar Liga Champions. Berbekal defisit dua gol dari pertemuan pertama di Old Trafford, MU menaklukkan PSG 3-1 di Parc des Princes untuk melaju dengan aturan gol tandang. Hebatnya, ia menurunkan sejumlah pemain cadangan dan beberapa penggawa muda minim pengalaman dalam pertandingan sepenting ini namun bisa tetap menang.

Lukaku yang selama ini lebih banyak menghuni bangku cadangan menjadi salah satu pahlawan. Ia mencetak dua gol penting pada laga ini memanfaatkan kesalahan para pemain PSG. Marcus Rashford menuntaskan comeback gemilang MU lewat gol penalti pada injury time.

Solskjaer memuji Lukaku sebagai pemain profesional yang selalu memberikan kemampuan terbaiknya saat dibutuhkan. Sebelum ini, tak terdengar atau terlihat Lukaku mengeluh menjadi cadangan, seperti halnya beberapa pemain Madrid.

Melihat musim 2018/2019 tak lama lagi berakhir, saya meyakini karier Solskjaer akan berlanjut di Old Trafford. Manajemen MU kemungkinan besar akan mengontraknya sebagai pelatih tetap dengan kepiawaiannya menangani ego para pemain bintang MU serta taktik briliannya di sejumlah laga. Di sisi lain, karier Solari tampaknya tak akan panjang sebagai arsitek Madrid meskipun sudah menandatangani kontrak sebagai pelatih tetap.

Dalam era sepak bola industri sekarang, pemain sepak bola lebih 'berkuasa' dibandingkan pelatih. Sang juru taktik harus pintar-pintar mengambil hati para pemainnya sembari menerapkan gaya permainan yang cocok untuk timnya. Jika tidak, siap-siap saja angkat koper. Untuk hal ini, Solskjaer melakukannya jauh lebih baik dibandingkan Solari.

*) Penulis adalah redaktur republika.co.id

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA