Selasa, 18 Sya'ban 1440 / 23 April 2019

Selasa, 18 Sya'ban 1440 / 23 April 2019

Bencana Alam atau Bencana Manusia?

Senin 28 Jan 2019 14:42 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

Presiden Jokowi meninjau lokasi bencana terdampak tsunami, Senin (24/12).

Presiden Jokowi meninjau lokasi bencana terdampak tsunami, Senin (24/12).

Foto: Dok Biro Pers dan Media
Bumi ini sudah tua. Berarti, kiamat sudah dekat.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Mursalin Yasland, wartawan Republika

photo

Mursalin Yasland

Bumi ini sudah tua. Berarti, kiamat sudah dekat. Bencana demi bencana mengalir deras di hamparan bumi Allah belakangan ini. Silih berganti. Tidak ada yang dapat menghalaunya, apalagi memprediksikannya secara akurat. Kehendak Allah (takdir) siapa yang tahu. Sebab, hal tersebut 50 ribu tahun sudah tertulis rapi di kitab lauhul mahfudz sebelum langit dan bumi diciptakan.

Dibandingkan usia manusia rata-rata zaman sekarang, waktu 50 ribu tahun tak dapat dibayangkan. Tapi orang yang beriman harus meyakini hal itu.  “Allah telah menulis takdir seluruh makhluk ciptaan-Nya semenjak lima puluh ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.” (HR. Muslim).

Dengan apa menulisnya, ya dengan qolam (pena). “Sesungguhnya yang pertama kali diciptakan Allah adalah qolam (pena), lalu dikatakan kepadanya, ‘Tulislah?’ Ia menjawab, ‘Apa yang harus aku tulis?’ Dia menjawab, ‘Tulislah takdir segala sesuatu sampai hari kiamat tiba’,” (HR. Muslim 2.044).

Jangankan gempa bumi, gunung meletus, tanah longsor, banjir, apalagi tsunami, lembaran daun-daun dari ranting yang jatuh ke bumi pun tanpa terkecuali atas kehendak-Nya. Manusia hanya bisa berbuat dan berdoa, sedangkan sang penguasa alam tetaplah berkuasa penuh atas ciptaan-Nya. Hak prerogatif Allah tak bisa dipungkiri manusia. Teknologi hanya pembantu, bukan penentu.

Lantas, alam mau disalahkan? Sehingga kita latah menyebutnya ‘bencana alam’. Kita sangat lupa alam baik yang ada di langit maupun di bumi beserta isinya sejak diciptakan sudah mengikuti alur mekanismenya. Ritme irama alam berproses secara baku dan standar deskripsinya. Orang menyebutnya sudah alami.

Tata surya berotasi pada jalurnya tanpa bertabrakan. Angin berhembus sesuai musimnya. Gunung  beradaptasi dengan kandungannya. Hutan-hutan bervegetasi dengan ekosistemnya. Hujan yang turun ke bumi sesuai kadarnya. Lereng gunung, bukit, lembah membentuk secara natural aliran sungai dan danau, serta bermuara ke laut. Semua atas ketentuan-Nya.

Manusia yang patut disalahkan, bukan alam. Alam sudah banyak memberikan kehidupan manusia. Alam selalu bertasbih kepada Rabb-Nya. Tapi, manusia memang tamak dan serahkah kepada alam. Alam terganggu, sehingga pencipta alam menjadi murka. Kemurkaan Allah ini yang hendaknya menjadi sadar bagi manusia bahwa bencana apa pun bentuknya karena ulah manusia.

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum (30):41).

Benarlah apa kata ulama Muhammad Shalih Utsaimin, “Kebanyakan manusia menganggap bahwa musibah yang menimpa mereka disebabkan faktor-faktor duniawi semata. Tidak diragukan bahwa ini merupakan tanda kedangkalan pemahaman mereka dan lemahnya iman mereka serta kelalaian mereka dari merenungi Alquran dan Sunnah Nabi Muhammad shalallahu alaihi wassalam.”

Bencana atau musibah, saya tidak ingin lagi menyebut bencana alam, yang terjadi di Tanah Air, masih berdatangan. Sejarah mencatat, kita masih ingat gempa bumi di Lampung Barat (Lampung) tahun 1994, gempa bumi Kerinci (Jambi) dan gelombang tsunami di Aceh 26 Desember 2004 korban jiwa manusia ratusan ribu orang. Tanah longsor di Banjarnegara, Gunung Merapi (Yogyakarta) meletus tahun 2010, beberapa kali kecelakaan pesawat.

Terakhir, gempa bumi di Lombok (NTB), gempa dan tsunami di Palu dan Donggala (Sulut), dan akhir tahun 2018 tsunami perairan Selat Sunda yang menghantam Banten dan Lampung, ratusan orang meninggal. Memasuki awal tahun 2019, banjir melanda Sulawesi Selatan, puluhan orang meninggal.

Tak pelak lagi, setiap hari di telepon seluler cerdas kita pada aplikasi BMKG terus terlihat notifikasi gempa dan peringatan bahaya bencana. Getaran gempa dengan berbagai kekuatannya seakan menjadi biasa, padahal sesungguhnya hal tersebut luar biasa.

Sebab, di zaman Rasulullah shalallahu alaihi wassalam dan para sahabatnya gempa bumi masih dapat dihitung dengan jari. Itu pun umat zaman itu sudah khawatir luar biasa. Gempa tersebut menjadi momentum mereka sebagai peringatan Allah subhanahu wa ta'ala.

Ada apa semua itu? Kisah sedih masih saja menyelimuti bumi nusantara tercinta ini silih berganti. Rentetan musibah masih berlangsung di Tanah Air dari tahun ke tahun. Air mata masih harus mengalir. Kesedihan terus menerpa umat di Indonesia, yang sebelumnya negeri ini sempat dikatakan gemah ripah loh jinawi, yang kaya kandungan alam di bumi maupun perut bumi.

Apakah semua itu berlangsung secara kebetulan dan seketika? Apakah karena faktor alam? Dan alam lagi yang disalahkan dan dikambinghitamkan setiap bencana dan musibah menimpa.

Betapa keras dan membatunya hati kita manusia ini. Tidakkah kita berpikir dengan waras dengan memanfaatkan akal sehat terhadap setiap bencana dan musibah yang datang silih berganti tersebut.

Sudahkah kita bermuhasabah (mengkoreksi diri sendiri) sejenak. Munculkan pertanyaan demi pertanyaan dalam diri kita terkait diri perbuatan kita selama ini.

Jawablah pertanyaan-pertanyaan itu dengan hati. Sadarkan jiwa ini sedini mungkin, agar Allah yang menguasai jagat alam ini dapat menahan kemurkaannya kepada kita dan lingkungan kita.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA