Minggu, 21 Ramadhan 1440 / 26 Mei 2019

Minggu, 21 Ramadhan 1440 / 26 Mei 2019

Terima Kasih Pahlawan Olahraga Indonesia

Sabtu 01 Sep 2018 13:10 WIB

Red: Sammy Abdullah

Ketua Inasgoc Erick Thohir mengalungkan medali kepada Pesilat Indoensia Yola Primadona Jampil dan Hendy pada final cabang pencak silat kelas artistik ganda putra Asian Games 2018 di Padepokan Pencak Silat TMII, Jakarta, Senin (27/8).

Ketua Inasgoc Erick Thohir mengalungkan medali kepada Pesilat Indoensia Yola Primadona Jampil dan Hendy pada final cabang pencak silat kelas artistik ganda putra Asian Games 2018 di Padepokan Pencak Silat TMII, Jakarta, Senin (27/8).

Foto: Republika/Prayogi
Atlet sudah mengorbankan masa mudanya dan waktu bersama keluarga

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Erick Thohir*

Hingga hari terakhir jelang penutupan Asian Games 2018, kontingen Indonesia telah berhasil meraih 30 emas, 24 perak, dan 41 perunggu.  Catatan ini menorehkan sejarah baru. Indonesia resmi menggeser Thailand sebagai negara Asian tersukses dalam sebuah gelaran Asian Games. 

Sebelumnya, Thailand mampu memegang predikat itu setelah sukses meraih 24 emas, 26 perak, dan 40 perunggu pada Asian Games 1998 yang berlangsung di negara mereka sendiri. Kisah Thailand telah berlalu setelah Indonesia meraih emas ke-30-nya pada Asian Games 2018. 

Mencetak sejarah bukan perkara mudah. Ini bukan usaha yang dibuat dalam 14 malam penyelenggaraan Asian Games. Sebaliknya, sejarah yang ditorehkan adalah buah dari usaha panjang yang telah atlet lakukan sejak mereka belia. Usaha yang dibuat dengan tetesan keringat dan air mata.

Saya ingin mengajak pembaca semua untuk mengetahui hari-hari yang dilalui atlet saat merintis kariernya dari jenjang junior. Rata-rata atlet yang bertarung di Asian Games 2018 sudah terjun ke dunia olahraga sejak masih di bangku sekolah dasar. 

Banyak dari mereka yang merupakan jebolan dari sekolah olahraga (SKO) atau Pusat Pendidikan Latihan Pelajar (PPLP). Ini seperti Lalu Muhammad Zohri, Andritany Ardhyasa, atau Wewey Wita.

Mereka sudah sejak usia 12 hingga 14 tahun masuk PPLP. Umumnya, mereka menghabiskan enam tahun bermukim di asrama PPLP. Ini seperti Wewey Wita yang mengawali kariernya di PPLP Bandung.

Selama enam tahun itu, mereka harus menjalani hari-hari yang penuh perjuangan. Atlet PPLP diharuskan bangun sejak pagi buta. Selesai beribadah Solat Subuh bagi yang beragama Muslim, mereka langsung bersiap untuk lari atau olahraga pagi. 

Tepat 08.00 atlet-atlet ini berangkat ke sekolah untuk belajar hingga waktu memasuki pukul 15.00. Selesai sekolah, mereka hanya punya waktu singkat untuk beristirahat. 

Sebab di sore hari mereka harus berlatih keras di setiap pengkhususan cabang. Latihan dilakukan nyaris nonstop hingga matahari terbenam. Rutinitas ini harus dilalui para atlet selama sepekan. Walhasil nyaris seluruh masa muda mereka habiskan di sekolah, lapangan, maupun asrama. 

Saat remaja sebayanya berkengkarama dengan keluarga, bermain dengan rekan, atau malam mingguan, maka atlet-atlet nyaris tak pernah merasakannya. Kehidupan atlet saat remaja hanya habis untuk sekolah dan berlatih. 

Rutinitas latihan keras akan terus berlanjut ketika memasuki level senior. Kalau Anda datang langsung ke sejumlah pusat pelatihan nasional (Pelatnas), maka Anda akan melihat betapa melelahkannya latihan para atlet itu. Lari nonstop dalam hitungan dua jam merupakan menu umum yang biasa dilahap mereka.

Banjir keringat, terluka, cedera, bahkan jatuh sakit itu hal yang harus dilalui demi berprestasi di Asian Games 2018. Sebagai contoh, lihat saja perjuangan lifter angkat besi Eko Yuli Irawan. 

Saat menjalani Pelatnas Asian Games, Eko sempat masuk rumah sakit akibat menderita tipus. Akibat kelelahan, Eko harus diopname selama sepekan di salah satu rumah sakit di Bekasi.

Lepas dari rumah sakit, tak punya banyak waktu bagi Eko untuk memulihkan diri. Dia berpacu waktu untuk segera kembali mampu mencatat angkatan terbaik. Usaha yang akhirnya terbayarkan dengan emas di kelas 62 kilogram. 

Apa yang dilakukan para atlet sejak masih belia hingga di pelatnas menunjukkan sebuah proses panjang. Terbukti, hasil tak akan mengkhianati proses. Pengorbanan atlet seperti Wewey Wita atau Eko Yuli itu pun berbuah prestasi emas nan bersejarah bagi Indonesia pada Asian Games 2018.

Berkat proses panjang dan penuh perjuangan itu olahraga Indonesia sukses meraih sejarah baru pada Asian Games 2018. Rasanya, tak berlebihan jika para atlet itu kini mendapat beragam apresiasi. Sebab apa yang atlet korbankan jauh lebih besar ketimbang berapapun nominal yang akan mereka dapatkan. 

Masa muda yang penuh suka cita sudi atlet lewatkan. Waktu dengan keluarga rela dikorbankan. Seluruh keringat dan luka di tubuh bersedia mereka teteskan.  

Kini, izinkan kami semua untuk mengucapkan terima kasih banyak atas pengorbanan besar seluruh atlet. Buku sejarah telah mencatat Anda semua sebagai pahlawan olahraga Indonesia.

 

 

*penulis adalah Ketua Panitia Penyelenggaran Asian Games 2018 (Inasgoc) dan Ketua Komite Olimpiade Indonesia.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA