Kamis, 18 Safar 1441 / 17 Oktober 2019

Kamis, 18 Safar 1441 / 17 Oktober 2019

Serangan Islamofobia yang Membabi Buta

Ahad 29 Okt 2017 09:56 WIB

Red: Elba Damhuri

Erdy Nasrul, Jurnalis Republika.

Foto:


Pemahaman itu telah memperkeruh pemikiran, mengotori pandangan objektif tentang Islam. Agama yang dibawa dengan perjuangan Rasulullah itu selalu diposisikan sebagai ancaman nyata. Oleh karena itu, mereka selalu menghadap-hadapkan Islam dengan Barat berdasar prasangka dan tudingan dengan bukti khayalan mereka yang berlebihan.

Pandangan penuh prasangka ini jelas berlebihan. Pengkaji Islam John L Esposito kemudian menyebutkan dampak gerakan dan pemahaman ini. Pertama, Islamofobia ingin mengeluarkan Muslim dari aktivitas perekonomian, sosial, dan kehidupan umum.

Kedua, gerakan dan pemahaman tersebut mengakibatkan diskriminasi mencolok dalam bentuk kejahatan kebencian dan penghinaan yang halus. Ketiga, ini yang menyakitkan, Islamofobia menghadirkan persepsi bahwa Islam tidak bisa beriringan dengan Barat.

Agama tersebut dianggap berada di belakang keyakinan lain yang tumbuh di Barat, seperti Yahudi dan Kristen. Islam lebih diposisikan sebagai ideologi politik yang menyimpang daripada sumber keyakinan dan spiritualitas sehingga tidak sama dengan agama Ibrahimi lainnya.

Pada 2006 jajak pendapat lembaga riset Gallup di AS menunjukkan minoritas warga di sana mengakui berprasangka negatif terhadap Muslim. Saking takutnya, mereka meminta perlindungan lebih karena beranggapan Muslim berpotensi menjadi pelaku teror.

Namun, ini yang positif, sebagian responden meyakini Muslim AS loyal kepada negara. Sebanyak 22 persen responden tidak menyukai bertetangga dengan Muslim. Sejumlah 31 persen risih berdampingan dengan Muslim dalam penerbangan. Sebanyak 18 persen tak nyaman bila bersebelahan dengan Muslimah dalam kabin pesawat.

Sekitar empat dari 10 warga AS menginginkan pengamanan yang lebih ketat dan keras untuk Muslim daripada warga lainnya. Muslim harus memiliki kartu identitas khusus. Mereka wajib melalui pemeriksaan lebih ketat sebelum masuk ke kabin pesawat.

Empat tahun kemudian apa yang terjadi? "We see no improvement in such attitudes,” tulis Esposito. Bahkan, hingga hari ini, sikap seperti itu masih sama. Belum lama ini Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dilarang masuk AS. Padahal, dia diundang untuk menghadiri pertemuan tentang dunia militer di negeri Paman Sam.

Mungkin, kalaupun boleh masuk negara itu suatu saat nanti, Gatot akan diperiksa lebih ketat bila dibandingkan warga lainnya, seperti yang diinginkan sebagian warga AS dalam penelitian Gallup di atas. Hal sama juga sangat mungkin dialami Muslim lainnya karena mereka dianggap sebagai ancaman.

Mantan kepala staff Angkatan Darat itu dikenal akrab dengan sejumlah ulama. Belum lama ini dia bertemu dengan alim terkemuka asal Yaman, Habib Umar bin Hafiz, guru para ulama di berbagai belahan dunia. Gatot juga dikenal kerap mengunjungi pesantren yang menjadi simbol keislaman masyarakat nusantara.

Pemerintah AS memang sudah meminta maaf. Namun, sikap itu tidak menunjukkan ketakutan berlebihan mereka terhadap Islam dan pengikutnya yang berjumlah sekitar 2 miliar atau sekitar 20 persen dari total penduduk dunia. Sungguh ironis.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA