Thursday, 15 Zulqaidah 1440 / 18 July 2019

Thursday, 15 Zulqaidah 1440 / 18 July 2019

Gol Martial dan Fergie-time

Senin 25 Apr 2016 10:00 WIB

Rep: Muhammad Iqbal/ Red: M Akbar

Anthony Martial

Anthony Martial

Foto: REUTERS/Andrew Yates

REPUBLIKA.CO.ID, Keberhasilan Manchester United menembus partai puncak Piala FA 2015/2016 seusai membungkam Everton 2-1 di stadion Wembley, Sabtu (23/4), masih menyisakan cerita. Tidak hanya terkait dengan fakta bahwa itulah final pertama United di kompetisi sepak bola tertua sejagat raya itu sejak 2007 semata, melainkan adanya sebuah momen nan luar biasa via Anthony Martial.

Gol Martial pada menit-menit akhir laga telah membangkitkan ingatan sejumlah kalangan terhadap sebuah frasa yang sudah lama tak terdengar, namun masih sahih untuk dibicarakan; Fergie-time!

Sam Wallace, Chief Football Writer The Telegraph, menulis, gol Martial membuat fan United seharusnya teringat pada masa kepelatihan Sir Alex Ferguson yang berakhir dua tahun silam.

''Waktu Sir Alex Ferguson memang sudah berakhir tapi Manchester United masih bisa mengklaim bahwa mereka masih mengetahui bagaimana cara memenangkan laga pada Fergie-time,'' ujarnya seperti dikutip, Senin (25/4).

Masih menurut Wallace, seharusnya, United tidak membutuhkan kemenangan melalui gol yang dicetak pada masa injury time. Namun, kerja keras sepanjang 90 menit kontra Everton sudah seyogianya membuat kemenangan tersebut teramat memuaskan.

Entah kapan kali terakhir Fergie-time hadir pada masa kepelatihan Louis van Gaal yang hampir berjalan dua tahun. Namun, masih segar dalam ingatan gol Bastian Schweinsteiger ke gawang Watford, 21 November 2015.

Pada laga lanjutan Liga Primer itu, gol Schweini pada menit ke 91 membuat United meraih tripoin. Meski masih diperdebatkan apakah gol tersebut memang murni dicetak gelandang asal Jerman ini atau hasil bunuh diri penggawa Watford Troy Deeney, tetap saja gol tersebut bermakna masif bagi timnya.

Fergie-time?

Fergie-time merupakan sebuah frasa yang dapat ditemukan pada persepakbolaan Inggris. Pengertian sederhananya mengacu pada jumlah waktu, entah itu dalam hitungan detik atau menit, yang ditambahkan pada akhir pertandingan.

Penambahan waktu semacam ini tentu memiliki dampak yang berbeda bagi masing-masing tim. Tapi yang diuntungkan adalah tim dengan kondisi tertinggal dan membutuhkan gol penyama kedudukan.

Seperti dilansir quora, Fergie-time mengacu pada sosok Sir Alex Ferguson saat menjadi pelatih Manchester United medio 1986-2013. United asuhan Ferguson seolah memiliki bakat untuk memenangkan laga pada menit akhir pertandingan.

Dalam sebuah analisis, ditemukan fakta bahwa lebih dari 10 musim terakhir, The Red Devils memiliki catatan yang lebih baik ketika imbang pada babak pertama dan imbang saat babak kedua tersisa 15 menit dibandingkan klub-klub Inggris lainnya. Pemicunya, selain half-time talks yang penuh semangat dari Ferguson, juga penerapan taktik serta pergantian pemain nan pas.

Namun, ada pula analisis lain. Ketika tim dalam kondisi tertinggal, lazimnya para manajer akan meminta para pemainnya untuk menyerang.

Ferguson menggunakan sebuah pendekatan yang di luar pakem.Tentu, pelatih asal Skotlandia ini mempersiapkan timnya untuk menang.

Dan uniknya, Fergie memiliki pemain yang secara rutin berlatih untuk memahami cara bermain untuk mencetak gol tatkala pertandingan tersisa 10 menit, lima menit atau bahkan tiga menit. ''Jadi, kami tahu apa yang diperlukan untuk meraih kesuksesan dalam situasi semacam itu,'' kata salah seorang asisten pelatih United.

Fergie-time disebut-sebut pertama kali muncul pada musim pertama Liga Premier 1992/1993. Menurut Duncan Alexander dari Opta Sports, saat itu, laga United vs Sheffield Wednesday dalam kedudukan imbang 1-1 setelah 90 menit.

Wasit yang memimpin laga memberikan tambahan waktu selama tujuh menit! Selama masa itu pula, kapten United Steve Bruce mencetak gol penentu kemenangan.

Raihan tiga angka membuat United meraih gelar Liga Primer perdana setelah 26 tahun terakhir. ''ejak saat itu, setiap kali United diberi waktu lebih lama pada masa injury time, orang-orang berkata, ‘United memperoleh Fergie-time lagi,'' kata Alexander dalam sebuah artikel di BBC.

Argumen ini didukung dengan sebuah data. Sejak musim 2008 hingga 2012, di antara lima tim papan atas, yaitu Manchester City, Chelsea, Arsenal, Tottenham Hotspur, maupun Liverpool, United memperoleh waktu yang lebih banyak pada masa injury time.

Perinciannya, ketika kalah, MU memperoleh tambahan rata-rata empat menit dan 37 detik. Sedangkan ketika menang, The Red Devils mendapat tambahan tiga menit dan 18 detik.

''Jadi, ketika mereka kalah, mereka memperoleh lebih banyak waktu,'' kata Alexander. Meskipun demikian, Alexander mengakui data tersebut tidak bisa membuktikan hal-hal nonteknis lain.

Semisal sang wasit yang memang sengaja atau terpengaruh untuk menambah masa injury time. Tanggapan bekas wasit Graham Poll mungkin bisa jadi pembanding.

Menurut Poll, selama menjadi wasit, tidak ada yang namanya Fergie-time. ''Itu dipopulerkan oleh pihak-pihak yang iri dengan keberhasilan Manchester United,'' ujarnya.

Tanggapan Fergie

Semasa melatih United, Fergie-time memiliki korelasi dengan tingkah polah Ferguson. Biasanya, pada menit-menit akhir, Fergie berada di  tepi lapangan sembari menunjuk-nunjuk jam tangan yang dikenakan.

Dalam sebuah wawancara dengan BT Sport, mantan pelatih Aberdeen ini mengakui itu hanya sebuah trik yang digunakan tatkala United mencari gol jelang laga usai.

''Itulah mengapa saya selalu melihat jam tangan saya. Saya tidak pernah melihatnya, saya tidak tahu berapa menit lagi pertandingan tersisa,'' katanya di Goal.

Menurut Fergie, langkah ini dinilainya sebagai perjudian. Tidak selalu Fergie-time itu hadir. Namun terkadang ini berhasil. Kemenangan pun sukses diraih. Bukan kemenangan biasa terkadang. Semisal gol pada menit ke 94 di pengujung musim 2011/2012.

Kala itu, United sukses menggondol titel juara setelah membungkam rival abadinya, Manchester City.

''Jika Anda berada di ruang ganti setelah laga dan kami berhasil mencetak gol pada menit akhir, energinya sungguh luar biasa. Untuk para fan, gol tersebut sangat berarti karena ketika mereka meninggalkan stadion, mereka bisa bercerita tentang apa yang terjadi pada menit-menit terakhir. Itu tugas saya, Membuat mereka bahagia,'' katanya.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA