Selasa, 13 Zulqaidah 1440 / 16 Juli 2019

Selasa, 13 Zulqaidah 1440 / 16 Juli 2019

Fuchs, Delap dan Para Maestro Lemparan ke Dalam

Senin 30 Nov 2015 19:51 WIB

Red: Didi Purwadi

Christian Fuchs (kanan)

Christian Fuchs (kanan)

Foto: REUTERS/Juan Medina

Oleh: Muhammad Iqbal

Redaktur Republika

Laga antara Leicester City kontra Manchester United yang berlangsung, Ahad (29/11) dini hari WIB, masih menyisakan cerita. Selain hasil imbang 1-1 dan keberhasilan bomber Leicester Jamie Vardy mencetak gol secara berturut-turut dalam 12 laga Liga Primer, kisah lain mencuat dalam diri Christian Fuchs. Fuchs didapuk laman WhoScored sebagai pemain terbaik kontra United.  

Menurut WhoScored, Fuchs berhasil meraih nilai 7,99. Tidak hanya itu, pemain berkebangsaan Austria yang berposisi sebagai bek kiri ini juga dinilai berperan besar dalam soliditas pertahanan Leicester. Catatannya pun berkelas.

Lima tackle, empat intersep serta lima sapuan, jadi bukti ketangguhan Fuchs. Menyaksikan kiprah Fuchs semalam, publik sontak mengingat kembali sosok Rory Delap, mantan pemain Stoke City yang telah pensiun Desember 2013. Apa pasal? Sebab, kedua pemain memiliki kesamaan dalam hal lemparan ke dalam.

Bukan lemparan biasa tentunya. "Christian Fuchs menghadirkan kepanikan di lini pertahanan United dengan lemparan ke dalam yang sama seperti Rory Delap," ujar salah seorang netizen Femi Obong-Daniels. "Lemparan ke dalam Fuchs seperti roket," timpal netizen lainnya, yaitu Azuan.  

Mungkin bagi netizen, kelihaian Fuchs melempar bebas layaknya peluru merupakan sesuatu yang baru. Namun, sejatinya tidak. Di klub lamanya yaitu Schalke 04, pemain 29 tahun itu kerap melancarkan lemparan ke dalam mematikan.

Tak jarang lontaran itu berujung gol. Seperti kala Schalke mengalahkan SC Paderborn 2-1 pada Desember 2014. Ketika itu, lemparan Fuchs sukses ditanduk oleh rekannya Roman Neustadter.  

Rory Delap

Berbicara soal lemparan ke dalam yang mematikan, tentu nama Rory Delap tidak dapat ditepikan. Bersama Stoke City, Delap membangun reputasi seorang pemain nan andal dalam urusan ini. Tidak hanya di kancah Liga Primer semata, melainkan pula di sepak bola dunia.

 

Julukannya pun beragam antara lain Long Throw Master. Sejumlah klub papan atas Liga Primer kerap jadi korban Delap yang berposisi sebagai gelandang bertahan. Salah satunya adalah Arsenal.

Peristiwa menarik terhampar pada musim 2008/2009 kala Arsenal menyerah 1-2 atas Stoke. Kekesalan manajer the Gunners Arsene Wenger pun membuncah. Tidak hanya lantaran timnya kalah, melainkan juga karena kekalahan akibat gol Ricardo Fuller dan Seyi Olofinjana berawal dari lemparan ke dalam Delap.

Bahkan Wenger menyindir lemparan itu layaknya bagian dari permainan rugby. Terlepas dari sindiran Wenger, harus diakui kemampuan Delap jadi senjata rahasia tersendiri. Lalu, apa rahasia di balik lemparan mematikan tersebut?

Dalam sebuah wawancara, pemain yang lahir di Inggris ini mengaku tidak ada rahasia khusus. Meskipun begitu, Delap menyebut sejak masa sekolah, dirinya telah mampu melempar dengan baik. "Saya bisa melempar dengan jarak yang jauh," kata Delap di Daily Mail.

Selain itu, pemain kelahiran 1976 ini pun rajin melatih beban. Fitness untuk menguatkan otot-otot biseps dan triseps jadi kuncinya. Semua agar lemparan yang dihasilkan lebih kuat, tepat dan akurat layaknya sebuah umpan crossing.

Sosok lain

Kembali ke perihal lemparan ke dalam, fan sepak bola mungkin memahami tiga hal terkait aspek ini. Pertama, lemparan ke dalam biasanya diambil oleh full back. Kedua, wasit, terutama di Liga Primer, terkadang mengabaikan kesalahan pemain ketika melakukan lemparan ke dalam. Ketiga, Rory Delap merupakan pemilik lemparan ke dalam paling mematikan.  

Namun ternyata, ada sosok lain yang lebih 'gila' dari Delap. Dia adalah Ljuba Baranin, bek asal Serbia yang bermain untuk FK Radnik Surdulica. Kemampuan Baranin melempar ke dalam diklaim Mirror lebih hebat ketimbang Delap.

Jika Delap mampu melempar sekira 40 meter, maka Baranin bisa melebihi catatan tersebut. "Baranin bisa melempar bola mencapai 50 meter jika dibutuhkan," klaim seorang jurnalis lokal dilansir Mirror. Sebagaimana Fuchs maupun Delap, lontaran Baranin kerap kali berbuah assist bagi gol yang dicetak rekan-rekan setimnya.   

Spesilisasi Fuchs, Delap maupun Baranin, layak diapresiasi sebagai bagian dari permainan sepak bola. Meskipun pro maupun kontra menyeruak.  Mereka tetaplah bagian dari kekhasan permainan terpopuler sejagat raya ini...

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA