Wednesday, 17 Safar 1441 / 16 October 2019

Wednesday, 17 Safar 1441 / 16 October 2019

Debat Capres: Bukan Sekadar Debat

Kamis 17 Jan 2019 08:44 WIB

Red: Elba Damhuri

Debat capres-cawapres (Ilustrasi)

Debat capres-cawapres (Ilustrasi)

Foto: Dok Republika.co.id
Para kandidat dituntut bijak dalam menyampaikan pendapatnya pada debat capres ini

REPUBLIKA.CO.ID,  Hari ini menjadi kesempatan perdana bagi calon presiden dan calon wakil presiden 2019. Joko Widodo yang berpasangan dengan Ma'ruf Amin dan Prabowo Subianto yang berpasangan dengan Sandiaga Salahuddin Uno akan beradu gagasan mengenai Indonesia masa depan.

Kedua pasangan capres-cawapres akan memaparkan pandangan, ide, gagasan, dan solusi seputar permasalahan hukum, hak asasi manusia, terorisme, dan korupsi. Empat tema tersebut telah dipersiapkan secara matang oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) untuk dikuliti dan digali lebih jauh dalam enam segmen debat yang digelar pada Kamis (17/1) malam di Hotel Bidakara, Jakarta.

KPU mengklaim, debat capres kali ini berbeda format dan rasa dengan debat yang pernah diadakan pada tahun-tahun sebelumnya. Kejutan akan ditampilkan sejak putaran awal debat dimulai. Dari enam segmen yang digelar, segmen pertama dan keenam menjadi sesi khusus pembacaan visi dan misi yang dipungkasi dengan pernyataan penutup oleh masing-masing kandidat.

Sebagaimana nama acara ini, debat sesungguhnya akan dimulai pada segmen kedua hingga kelima. Empat tema tadi --hukum, hak asasi manusia, terorisme, dan korupsi-- diharapkan bisa dijelaskan oleh masing-masing pasangan calon pada segmen tersebut. Dengan skenario acara seperti ini, Ketua KPU Arief Budiman menjanjikan debat kali ini bakal lebih seru sedari awal. "Debat ini akan sedikit berbeda dengan dulu. Sekarang, alur debatnya jauh lebih terasa," kata Arief di kompleks Parlemen Senayan, pekan lalu.

Bagaimana detail acara debatnya? Dua segmen awal adalah menjawab pertanyaan yang dibuat para panelis. Kandidat bisa saling bertukar argumen sejak segmen kedua. Format yang tidak ditemukan pada debat Pilpres 2014. "Kalau dulu debat terjadi pada bagian akhir saja, sekarang justru sejak awal," kata Arief.

Apalagi pada segmen berikutnya, KPU menjanjikan format debat yang lebih terasa. Masing-masing kandidat akan saling melempar pertanyaan yang bisa ditanggapi.

Ada 20 kisi pertanyaan debat pada segmen kedua dan ketiga yang terdiri atas lima pertanyaan untuk masing-masing tema. Kisi-kisi pertanyaan tersebut bukanlah bocoran soal karena sejatinya para kandidat tak mengetahui pertanyaan mana yang akan keluar. Dalam segmen ini, bukan mementingkan bagaimana menghafal jawaban, melainkan memahami permasalahan atas isu tertentu.

Pada segmen ini, kandidat dituntut memunculkan ide-ide bernas sekaligus bersifat solutif atas permasalahan yang ditanyakan. Kualitas pertanyaan panelis juga menjadi hal penting pada sesi ini. Pertanyaan semestinya membahas hal makro, tapi diperdalam dengan pertanyaan spesifik. Contoh atas solusi yang ditawarkan semestinya bisa disampaikan para kandidat.

Penyampaian solusi secara sederhana, tapi jitu bakal mendapatkan apresiasi positif publik. Namun, cara penyampaian yang njelimet agar terkesan solusinya 'akademis', akan mendapatkan penilaian tersendiri dari publik, apalagi miskin solusi.

Dalam konteks religi, publik juga diuji dalam debat ini. Adagium bijak, "Jangan lihat siapa yang mengatakan, tapi apa yang dikatakan" harusnya juga menjadi bahan pembelajaran bagi publik. Masyarakat mesti adil dan fair atas konten penyampaian masing-masing kandidat meskipun itu muncul dari kandidat yang bukan pilihannya. Publik harus mengakui ide cemerlang bukan pilihannya jika jawabannya lebih bagus ketimbang yang ditawarkan jagoannya.

Para kandidat juga tak bisa asal bicara dan memberi penyampaian pendapat asal-asalan. Sebab, buruk di sisi Tuhan bila mengatakan sesuatu, tetapi tidak melakukannya.

Oleh karena itu, para kandidat dituntut untuk bijak menyampaikan pendapatnya pada debat ini. Mulutmu adalah harimaumu. Janji-janji yang disampaikan kandidat akan menjadi utang yang bakal ditagih oleh publik. Lebih-lebih pada era digital ini tak ada yang tersembunyi, ada jejak digitalnya.

Saat debat ini, para kandidat dituntut untuk tak sekadar mengumbar janji-janji dan kata-kata manis, tapi juga tidak direalisasikan ketika berkuasa. Debat pilpres bukan sekadar debat, melainkan akan menjadi ujian bagi kandidat seberapa kuat mereka merealisasikannya. Sikap kenegarawanan diuji di sini.

Tajuk Koran Republika, 17 Januari 2019

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA