Selasa, 14 Jumadil Akhir 1440 / 19 Februari 2019

Selasa, 14 Jumadil Akhir 1440 / 19 Februari 2019

Politikus, Jangan Recoki Sepak Bola!

Senin 07 Jan 2019 12:41 WIB

Red: Didi Purwadi

Fitriyan Zamzami, wartawan Republika

Fitriyan Zamzami, wartawan Republika

Foto: Dok pribadi
Timnas maupun klub dengan banyak penggemar adalah lahan suara menggiurkan.

REPUBLIKA.CO.ID,

Oleh: Fitriyan Zamzami

Wartawan Republika

Banyak yang sepakat, komposisi Timnas Sepak Bola Inodonesia pada helatan Piala AFF 2010 adalah salah satu yang paling kuat sepanjang masa. Saya ingat, saat menyaksikan laga perdana melawan Malaysia di Gelora Bung Karno, Garuda tampil trengginas dan berhasil menggasak lawan dengan skor trelak 5-1. Sejak awal yang manis itu, harapan warga se-republik membuncah.

Dan pada pertandingan-pertandingan selanjutnya, Garuda memang nyata perkasanya. Thailand yang sejak lama sukar dikalahkan itu, kandas dengan skor 2-1. Filipina yang mencoba mengadang di semifinal, juga dibuat tak berdaya. Dan tibalah saat-saat menjelang final melawan Malaysia. Mengingat pertandingan pada fase grup, siapa bisa disalahkan jika meyakini betul Indonesia akan jadi juara Piala AFF untuk pertama kalinya?

Namun kita ingat, saat timnas sedang memerlukan betul istirahat menjelang laga kandang-tandang final, mereka justru diparadekan. Dibawa ke rumah Aburizal Bakrie, ketua umum Golkar saat itu; juga menghadap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Alih-alih melindungi timnas, ketua umum PSSI saat itu, Nurdin Halid, justru mendorong “politisasi” timnas saat itu.

Pendukung sudah jengah, utamanya saat di Stadion Bukit Jalil, Malaysia, ada poster dengan empat wajah politikus Indonesia terpampang. Dan yang tak terbayangkan kemudian terjadilah. Indonesia kalah 3-0 di Malaysia, dan hanya mampu menang 2-1 di Jakarta.

Selain dugaan pengaturan skor dan suap pemain, politisasi saat itu sukar lepas dari kenangan pendukung timnas. Terlebih ketika pada tahun selanjutnya, Nurdin Halid dengan lantang berkata bahwa “kesuksesan” timnas di Piala AFF 2010 adalah jasa Golkar. Komentar yang kemudian berujung sanksi FIFA untuknya.

Kisah kelam soal sengkarut politik dan sepak bola di Indonesia bukan itu saja. Kebanyakan milenial barangkali sudah lupa-lupa ingat, tapi dahulu di kancah persepakbolaan Tanah Air ada sebuah klub yang tergolong digdaya bernama Arseto Solo. Tak hanya di kancah lokal, pada 1993 klub tersebut sempat jadi juara Kejuaraan Antarklub ASEAN.

Bagaimanapun, Arseto adalah klub yang didirikan Sigid Harjoyudanto, putra Presiden ke-2 Indonesia, Soeharto. Singkat cerita, saat gelombang reformasi menyapu Indonesia pada 1998, klub tersebut kena imbasnya.

Pertandingan di Stadion Sriwedari pada 6 Mei 1998, melawan Pelita Jaya dalam kompetisi Liga Indonesia saat itu kemudian jadi salah satu titik balik dalam gerakan reformasi. Teriakan “Reformasi!” menggema tak henti sepanjang pertandingan.

Selepas pertandingan, puluhan ribu suporter yang memenuhi Stadion Sriwedari menumpahkan kekesalan mereka terhadap rezim dengan merangsek ke lapangan untuk mericuh dan membakar-bakar. Kerusuhan yang kemudian cepat menjalar ke kota-kota lain dan akhirnya berujung tumbangnya Orde Baru. Sejak itu, Arseto ikut terkubur dan terlupakan dalam kancah persepakbolaan nasional.

Kita paham, timnas maupun klub sepak bola di Indonesia dengan sebegitu banyak penggemar adalah lahan suara yang menggiurkan saat helatan-helatan politik menjelang. Calon kepala daerah tiba-tiba rajin datang ke stadion menyaksikan pertandingan klub tempatan, para pemain dijamu, perkumpulan suporter dibujuk dan dirayu.

Saat ini, hal itu nampaknya belum jadi pengecualian. Kubu pasangan calon presiden-calon wakil presiden Joko Widodo-KH Ma’ruf Amin, misalnya, belakangan mengklaim dapat dukungan dari dua kelompok dengan basis massa terbanyak di Indonesia, Bobotoh Persib dan Jakmania Persija.

Sebelumnya, saat Persija menjuarai Liga 1, akun resmi Partai Gerindra yang mengusung pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno juga mencuitkan selamat untuk klub tersebut. Cuitan tersebut disertai ucapan selamat juga untuk Gubernur DKI Anies Baswedan yang didukung Gerindra pada Pilkada DKI 2017.

Namun, dari langkah-langkah tersebut, bukan simpati yang didapat masing-masing calon. Bobotoh langsung bersuara kencang menolak menyematkan dukungan saat sejumlah oknum petinggi Viking menyatakan dukungan untuk Jokowi-Ma’ruf. Demikian juga Jakmania yang memprotes keras klaim dukungan atas pasangan tersebut.

Sementara dalam kasus Gerindra, ramai Bobotoh menyatakan tak akan memilih Prabowo-Sandiaga sehubungan cuitan mereka memberikan selamat untuk Persija. Gelombang ancaman yang memaksa Wakil Ketua Umum Fadli Zon meredakan suasana dengan menyatakan bahwa partainya mendukung baik Persija maupun Persib.

Dari kasus-kasus itu, agaknya bisa dikesankan bahwa masih ada sejenis trauma di kalangan penggemar atas politisasi sepak bola di Indonesia. Penggemar agaknya mafhum bahwa merujuk sejarah, sepak bola yang selalu jadi korbannya saat politikus masuk dan mencoba mencuri panggung untuk merebut suara.

Dan menengok sejarah kelam perseteruan pendukung klub di Indonesia yang berulang kali memakan korban jiwa, memang langkah yang paling bijak adalah menghentikan segala upaya mengklaim dukungan oleh para politikus ini. Bisa kita bayangkan panasnya suasana jika perseteruan Bobotoh dan Jakmania yang sudah menahun itu dibumbui perseteruan politik? Atau klub-klub lain yang sedianya tak punya persoalan satu sama lain, jadi bersengketa karena klaim dukungan politik?

Yang dibutuhkan sepak bola Indonesia pada masa-masa yang kelam seperti sekarang adalah persatuan di antara para pendukung. Persatuan melawan mafia-mafia yang merusak permainan indah yang sebegitu kita cintai ini. Persatuan melawan fanatisme klub yang mematikan. Persatuan melawan polarisasi yang berpotensi mengoyak-ngoyak bangsa kita dalam skala yang sukar diperbaiki.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES