Tuesday, 16 Jumadil Awwal 1440 / 22 January 2019

Tuesday, 16 Jumadil Awwal 1440 / 22 January 2019

Bukan Sekadar Menggugat Blackpink

Rabu 12 Dec 2018 15:41 WIB

Red: Joko Sadewo

Reiny Dwinanda, wartawan Republika

Reiny Dwinanda, wartawan Republika

Foto: Dokumen pribadi
Jumlah pendukung petisi yang menggugat iklan Shopee-Blackpink terus bertambah.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Reiny Dwinanda*

Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) telah melayangkan surat peringatan keras kepada 11 stasiun televisi untuk berhenti menayangkan iklan Shopee dengan Blackpink sebagai modelnya. Iklan tersebut dinilai berpotensi bertentangan dengan norma kesopanan yang dianut oleh masyarakat Indonesia secara umum.

Menurut KPI, muatan iklan Shopee-Blackpink berpotensi melanggar Pasal 9 Ayat (1) SPS KPI Tahun 2012 tentang kewajiban program siaran memperhatikan norma kesopanan dan kesusilaan yang dijunjung oleh keberagaman khalayak terkait budaya. Teguran tersebut muncul sebagai respons atas aduan sejumlah relawan yang tergabung dalam Aliansi Perempuan Cinta Pertiwi yang disampaikan melalui audiensi dengan KPI pada Senin (11/12).

Sejak Jumat (7/12), aliansi tersebut lebih dulu menggulirkan petisi lewat change.org. Mereka gusar melihat Blackpink dengan pakaian minimnya mempromosikan Shopee pada jam tayangan anak.

Iklan itu sangat gencar, bahkan bisa empat kali diputar dalam satu jeda komersial film anak. Aliansi Perempuan Cinta Pertiwi menganggap generasi penerus bangsa harus dilindungi dari gempuran budaya mengangkat rok tinggi-tinggi.

Kendati KPI telah bersikap, petisi online itu masih terus mendapat dukungan. Hingga Rabu pagi, lebih dari 112 ribu orang telah ikut menandatangani untuk menuntut penghentian menyeluruh iklan Shopee dan iklan seronok lainnya di televisi Indonesia, termasuk di TV berbayar.

Begitu mengetahui adanya petisi dan surat peringatan keras KPI, Shopee Indonesia kemudian memberi tanggapan di petisi yang dimotori oleh Maimon Herawati, aktivis kemanusiaan yang berlatar belakang pendidikan jurnalistik. Menurut marketplace tersebut, materi iklan yang sering diputar menjelang Shopee 12.12 Birthday Sale sudah mendapatkan izin dari Lembaga Sensor Film Indonesia.

Shopee mengatakan, pihaknya telah berkoordinasi dengan mereka yang mengatur penayangan iklan tersebut agar lebih tepat sasaran. Di samping itu, per 12 Desember, iklan Shopee memang dijadwalkan akan berganti dengan promo ulang tahunnya.

Mendengar respons KPI terhadap gugatan untuk menghentikan iklan yang melibatkan girlband asal Korea Selatan itu, jagat maya riuh mengomentarinya. Sebagian menghargai upaya Aliansi Perempuan Cinta Pertiwi. Mereka mendapati iklan itu lebih jarang muncul dan durasinya diperpendek setelah diadukan ke KPI.

Sebagian lain tak bisa mengerti alasan Maimon dkk mempersoalkan iklan itu. Mereka tidak melihat ada yang kurang pantas dalam iklan tersebut.

Terlepas dari perdebatan itu, ada hal lain yang mencuat. Masyarakat juga mengeluhkan KPI yang dianggap membiarkan tayangan iklan lain yang dianggap tak pantas. Contoh yang paling sering disebut, iklan yang memperlihatkan takjubnya kaum Hawa terhadap pebulu tangkis Jonatan Christi yang membuka bajunya sebagai lambang tak takut masuk angin.

Selain itu, iklan pembersih wajah yang menggambarkan seorang binaraga mengambil minyak dari muka seorang pria untuk diusapkan ke kakinya juga sempat menjadi perbincangan masyarakat. Tentu, bukan apresiasi yang muncul untuk iklan tersebut.

Lebih jauh lagi, warganet kemudian memprotes tayangan sinetron lokal maupun India yang sarat adegan dewasa dan baju terbuka. Menurut mereka, penanganan masalah besarnya terlalu parsial jika hanya iklan Shopee yang dihentikan penayangannya.

Lantas, apa sebetulnya masalah besarnya? Dari kegusaran warganet yang diluapkan ke akun Twitter KPI maupun akun media sosial aktivis Aliansi Perempuan Cinta Pertiwi, ada kekhawatiran sekaligus kemarahan masyarakat akan konten yang tidak mendidik di layar televisi.

Tak cuma itu, masyarakat juga kecewa terhadap pihak-pihak yang bertugas mengawasi tayangan di layar kaca maupun panggung hiburan masyarakat. Mereka menganggap, para pengawas telah bersikap permisif atau paling tidak seperti tebang pilih terhadap hal-hal yang menimbulkan persepsi negatif.

Akankah ada perbaikan kualitas tayangan maupun panggung off-air setelah ini? Mari kita pantau!

*Penulis adalah redaktur republika.co.id

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA