Monday, 11 Rabiul Awwal 1440 / 19 November 2018

Monday, 11 Rabiul Awwal 1440 / 19 November 2018

Durian 2.000 Kilo, Siapa Berani Suruh Terbang?

Kamis 08 Nov 2018 00:01 WIB

Red: Joko Sadewo

 Andi Nur Aminah

Andi Nur Aminah

Foto: Republika/Kurnia Fakhrini
Tak habis pikir rasanya dengan kondisi penerbangan di negeri ini.

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Andi Nur Aminah*

 

Ini lagi-lagi soal penerbangan di Indonesia. Sebuah pesan dari penumpang maskapai Sriwijaya Air, beredar dengan cepat. Ceritanya berawal dari Bandara Fatmawati Soekarno Bengkulu. Pesawat yang harusnya take off menuju Jakarta pukul 10.50 WIB itu, akhirnya molor berangkat hingga 12.05 WIB. Apa penyebabnya? Gara-gara durian!

 

Ya, buah berbau menyengat itu menjadi sumber masalah yang menyebabkan semua penumpang Sriwijaya Air harus turun dari pesawat, menunggu kembali di ruang tunggu, dan bagasi pesawat harus dibongkar untuk menurunkan buah durian tersebut. Jumlah durian yang diturunkan memang tidak sampai tiga ton seperti informasi awal yang disampaikan. Namun jumlah betulnya adalah 2.025 kilogram, seperti disampaikan Anies Wardhana, selaku Kepala Kantor Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) Fatmawati Sukarno, Bengkulu.

 

2.000 kilogram lebih! Ya pantas saja baunya kemana-mana, apalagi kabarnya memang pengemasan si duren itu tak begitu elok. Untung saja, ada seorang penumpang yang mau ngotot-ngototan dan bereaksi keras atas bau duren yang mengganggu itu. Penerbangan Bengkulu-Jakarta membutuhkan waktu sekitar satu jam. Bisa dibayangkan, jika si duren tetap ikut mengudara, betapa kasihannya para penumpang itu. Mungkin akan banyak yang lemas terbius aroma duren.

 

Saya angkat jempol dengan penumpang yang komplain itu. Meski sempat dijelaskan oleh pramugari bahwa saat pesawat terbang, bau duren itu akan hilang, dia pun tetap keukeuh sumber bau harus diturunkan. Bahkan dengan lantang, dia kemudian berteriak ke arah penumpang lain menanyakan apakah yang ada di pesawat itu tetap mau terbang? Dengan kompak pula, penumpang yang sudah duduk manis di kursi pesawat, berteriak tidak. Artinya, aroma durian itu memang sudah menyengat secara berjamaah.

 

Tak habis pikir rasanya dengan kondisi penerbangan di negeri ini. Belum lagi tuntas pencarian korban pesawat jatuh dari maskapai Lion Air, tiba-tiba kabar bau durian yang mengganggu ini muncul. Memang, ini tak ada hubungannya dengan musibah jatuhnya Lion Air. Tapi hal-hal kecil yang jika tak ada kepedulian, bisa menjadi besar dan berakibat fatal.

 

Saya pun terusik dengan penggalan cerita penumpang Sri Wijaya Air yang komplain dengan bau durian itu. Karena ternyata menurut penuturan pramugarinya, sang pilot sudah memberi warning akan ada masalah dengan duren-duren itu, yang jumlahnya sangat banyak, dan packaging-nya jelek.

 

Nah, ternyata kapten pilotnya juga tidak setuju untuk membawa 2.025 kilogram durian itu. Lalu, siapa itu yang berani- beraninya nyuruh terbang?

 

Dunia penerbangan memang sudah memiliki aturan tersendiri untuk barang bawaan penumpang. Ada barang-barang tertentu yang dilarang, baik di bagasi tercatat ataupun bagasi kabin. Yang umum diketahui sebut saja misalnya bahan peledak, bahan kimia/zat beracun, cairan mudah terbakar dan lainnya. Barang yang dibawa naik ke kabin pun hanya memperbiolehkan satu buah tas untuk diletakkan di bagasi kabin yang berisi barang-barang tidak berbahaya dan satu buah barang pribadi lain yang berukuran kecil dengan berat maksimal tujuh kilogram jika digabungkan.

 

Untuk jenis cairan, aerosol, ataupun gel juga memiliki peraturan tertentu jika ingin dibawa ke kabin. Yakni aturannya, tak boleh lebih dari 100 ml per kemasan. Barang-barang itu harus ditempatkan di dalam wadah yang tidak mudah terbuka dan tumpah.

 

Lantas, bagamana dengan buah durian? Pada dasarnya memang tidak dilarang untuk dibawa naik pesawat. "Durian tidak termasuk kategori dangerous goods, namun dalam penanganannya ada SOP dan harus mengacu pada SOP tersebut”, kata Plt Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan (Kemenhub) M Pramintohadi Sukarno.

 

Durian sebagai salah satu komoditas unggulan daerah Bengkulu, bahkan sudah diangkut dengan pesawat sejak 2015.  Hanya saja dalam pengangkutannya, Pramintohadi menegaskan proses pengemasannya sampai dengan loading kargo ke bagasi pesawat harus sesuai SOP yang berlaku. Intinya, jangan sampai penumpang merasa tidak nyaman dengan bau-bauan yang ditimbulkan.

 

Terkait hal ini, Pramintohadi meminta seluruh maskapai dan bandara mematuhi standar operasional prosedur (SOP) saat menangani pengangkutan barang berbau menyengat di pesawat agar tidak mengganggu kenyamanan penumpang. Perlakuan untuk buah durian, Pramintohadi sama halnya dengan membawa terasi, ikan asin, dan barang berbau menyengat lainnya.

 

Aroma mengganggu yang menyertai perjalan dalam durasi cukup panjang, memang seharusnya menjadi perhatian. Untuk mengatasi agar kejadian seperti ini tidak terulang, tentu saja perlu evaluasi terkait tata cara pengemasan dan proses loading cargo barang dengan mempunyai bau unik. Jadi, pengemasan buah durian menjadi kunci utama jika ingin membawa durian di pesawat.

 

Meski tak dilarang, tapi sebaiknya dihindari dalam perjalanan menggunakan pesawat. Karena kondisi ruang yang kecil memungkinkan aroma aneh makanan bisa menyebar dengan cepat dan menggangguu kenyamanan penumpang lainnya. Selain durian, seafood, pisang dan bahkan makanan berbau enak lain seperti makanan cepat saji atau burger berbau bawang juga perlu dihindari. Karena ingat, bau-bauan aneh, tak semua orang suka. Bahkan ada yang alergi.

 

Jika durian tak dianjurkan dibawa dalam pesawat, mungkin ada beberapa barang lain yang boleh jadi kita tak tahu jika itu dilarang. Beras misalnya. Ya, para pencinta nasi perlu menghindari membawa beras dalam jumlah sangat banyak kalau tak mau berurusan dengan pihak keamanan bandara. Mungkin kondisi ini belum jamak ditemukan di dalam negeri. Toh, beras dengan mudah ditemukan di wilayah manapun di negeri ini.

 

Tapi kalau membawa beras ke luar negeri, perlu hati-hati. Di beberapa negara, ada kekhawatiran beras yang dibawa dihinggapi kumbang atau serangga lainnya yang bersifat hama. Begitu juga dengan jeruk kering alias yang sudah melalui proses pengeringan. Hal ini terkait penyakit jeruk yang bisa disebarkan melalui lalat buah yang hinggap di daun jeruk.

 

Beberapa negara terutama di Eropa sangat peduli dengan benda-benda yang mungkin dianggap remeh, tapi bisa berdampak besar. Karena bisa saja, hama dari sebuah negara ikut terangkut dan berpindah ke negara lain gara-gara naik pesawat.

 

*) Penulis adalah redaktur Republika.co.id

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES