Senin, 11 Rabiul Awwal 1440 / 19 November 2018

Senin, 11 Rabiul Awwal 1440 / 19 November 2018

Akhir Drama Luis Milla dan Kejujuran PSSI yang Dinanti

Ahad 21 Okt 2018 10:35 WIB

Red: Andri Saubani

Luis Milla Aspas

Luis Milla Aspas

Foto: Republika/Edwin Dwi Putranto
Luis Milla siap kembali kala PSSI belum bisa memastikan perpanjangan kontraknya.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Andri Saubani*

Kepastian apakah timnas Indonesia masih akan dilatih oleh Luis Milla belum menemui kejelasan. Alih-alih segera mengumumkan siapa pelatih utama Skuat Garuda yang akan berlaga di Piala AFF yang kurang dari dua pekan lagi, PSSI malah menyajikan drama demi drama yang dikhawatirkan banyak para fan timnas berujung pada harapan palsu.

Kontrak Luis Milla bersama timnas Indonesia memang telah habis bersamaan dengan rampungnya gelaran Asian Games 2018. Tak lama setelah Indonesia tersingkir pada babak 16 besar dari Uni Emirat Arab, pada 24 Agustus lalu, Milla langsung mudik ke Spanyol. Kepada Ketua Umum PSSI Edy Rahmayadi, Milla mengaku terguncang dengan kegagalan Hansamu Yama dkk dan perlu menenangkan diri di kampung halaman.

Pada akhir Agustus, lewat rapat Komite Eksekutif (Exco), PSSI memutuskan untuk memperpanjang kontrak Milla. PSSI menginginkan Milla setidaknya melatih Skuat Garuda setahun lagi. Saat mengumumkan secara resmi kepada publik hasil rapat Exco itu, Edy menegaskan, PSSI berharap Milla menerima tawaran perpanjangan kontrak dengan alasan objektif: Milla telah membuat perbedaan dan kemajuan signifikan terhadap permainan timnas Indonesia.

Kala negosiasi awal antara PSSI dan Milla berjalan, drama pertama pun tersaji. Adalah salah satu anggota Exco PSSI Gusti Randa yang membocorkan kepada wartawan pada awal September, bahwa PSSI masih menunggak tiga bulan gaji Luis Milla. Gusti pun menyebut angka Rp 2,3 miliar per bulan bayaran yang diterima Milla.

Tidak diketahui, apakah Rp 2,3 miliar per bulan itu bayaran untuk Milla sendiri atau satu paket bersama ofisial timnya. Sejak melatih skuat Garuda, pada awal 2017, Milla membawa serta dua asistennya yang juga dari Spanyol. Yakni, Miguel Gandia sebagai pelatih fisik, dan Eduardo Perez sebagai pelatih kiper.

Tiga tim kepelatihan dari Spanyol tersebut yang membawa Indonesia meraih medali perunggu saat SEA Games 2017. Tetapi, pada Juni 2018, satu asistennya, Eduardo memilih hengkang ke Qatar. Milla kemudian menambal kekosongan pelatih kiper dengan Julio Banuelos yang lama menjadi asisten di Leeds United, Inggris.

Yang menjadi masalah adalah, informasi yang didapat soal masa depan Luis Milla hanya didapat dari satu sumber, yakni PSSI. Jurnalis dan fan timnas Indonesia di Tanah Air hanya bisa memantau aktivitas Luis Milla lewat media sosial. Di Spanyol, selain berlibur dan mengawasi perkembangan anaknya, Luis Milla Jr yang juga pesepak bola profesional, Milla juga mengikuti suatu kursus kepelatihan UEFA.

Tanpa Luis Milla, PSSI mempercayakan pengasuhan timnas Indonesia kepada asisten Milla, Bima Sakti. Dua mantan bintang timnas yang juga lulusan PSSI Primavera, yakni Kurniawan Dwi Yulianto dan Kurnia Sandy ditugaskan untuk membantu Bima dalam tim kepelatihan sementara Skuat Garuda.

Dari tiga laga uji coba timnas Indonesia tanpa Milla, Indonesia tidak pernah kalah. Menang 1-0 atas Mauritius pada 11 September, Beto Goncalves dkk kembali menang atas Myanmar pada 10 Oktober dengan skor telak 3-0. Terakhir melawan Hongkong, Indonesia ditahan seri 1-1 pada 16 Oktober. Semua laga dimainkan Indonesia selaku tuan rumah.

Dari ketiga laga di atas, bisa dibilang Bima menerapkan kerangka tim dan taktik bermain warisan Luis Milla. Bima hanya memanggil beberapa pemain baru seperti Abduh Lestaluhu, Alfath Fathier, Andik Vermansah dan satu pemain naturalisasi, Esteban Vizcara. Tiga hasil positif tanpa kekalahan pun melambungkan spekulasi, bahwa PSSI akan menyerahkan sepenuhnya tanggung jawab kepelatihan kepada Bima dan tim barunya menuju Piala AFF 2018. 

Namun, kala fan timnas Indonesia mulai bisa percaya dengan kinerja Bima dan mengira Milla telah menolak tawaran perpanjangan kontrak dari PSSI, babak drama baru tersingkap. Kepada salah satu media nasional, dokter timnas, Syarif Alwi pekan ini mengungkap informasi, bahwa Milla telah siap kembali ke Tanah Air.

Selama ini ternyata, Syarif menjalin komunikasi secara ekstensif dengan Milla. Dan pada tengah pekan ini, di mana PSSI memberi tenggat kepada Milla, Syarif mengklaim mendapat pesan WA dari Milla bahwa pelatih berusia 52 tahun itu sebenarnya sudah siap berangkat ke Indonesia, tetapi PSSI belum membelikan tiket pesawat untuknya.

Syarif pun membantah ‘tuduhan-tuduhan’ yang selama ini beredar, bahwa Milla adalah pelatih yang jual mahal dan sulit dalam hal negosiasi. Ia pun mengungkapkan bahwa, Milla sebenarnya sudah menyusun program kepelatihan untuk memenuhi target juara AFF tahun ini dan siap menggeber programnya itu mulai 1 November.

Gelombang kekesalan fan timnas Indonesia pun tersulut menyusul pengakuan dokter Syarif. Di media sosial seperti Instagram dan Twitter, muncul tagar #KembalikanMilla merespons drama-drama yang selama ini disajikan oleh PSSI. Ada pula kelompok fan yang siap menggeruduk PSSI dan sebagian lagi menginisiasi penggalangan dana pembelian tiket pesawat untuk Luis Milla.

Wakil Ketua Umum PSSI Djoko Driyono kepada wartawan menjanjikan kepastian siapa pelatih utama timnas Indonesia pada awal pekan terakhir bulan ini. Entah drama apa lagi yang akan dihadirkan PSSI nantinya, namun yang pasti fan hanya berharap sikap jujur dari para petinggi federasi.

*Penulis adalah jurnalis Republika

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES