Jumat, 7 Rabiul Akhir 1440 / 14 Desember 2018

Jumat, 7 Rabiul Akhir 1440 / 14 Desember 2018

Beranikah Donald Trump Menjatuhkan Sanksi ke Saudi?

Jumat 12 Okt 2018 00:52 WIB

Red: Joko Sadewo

Teguh Firmansyah, Jurnalis Republika

Teguh Firmansyah, Jurnalis Republika

Foto: Republika
Donald Trump tak mau menghentikan penjualan senjata ke Riyadh.

REPUBLIKA.CO.ID,  oleh Teguh Firmansyah*

Arab Saudi kembali menjadi sorotan. Kali ini bukan soal Yaman atau perseteruannya dengan Iran, melainkan hilangnya jurnalis Jamal Khashoggi. Kolomnis di Washington Post itu hilang pada 2 Oktober lalu, setelah memasuki konsulat Saudi di Istanbul. Saat itu Khashoggi sedang mengurus dokumen pernikahan.

Beragam spekulasi muncul. Paling keras datang dari kepolisian Turki yang meyakini Khashoggi telah dibunuh di gedung konsulat. Teori ini dikuatkan sejumlah informasi.  Pertama yakni kedatangan 15 personel Saudi dengan menggunakan jet pribadi. Kemudian kehadiran van mencurigakan ke dalam gedung konsulat dua jam setelah Khashoggi masuk. Selain itu, juga kepulangan personel Saudi dalam waktu hampir bersamaan.

Ada juga laporan investigasi yang mengutip keterangan saksi di dalam konsulat yang mendengar suara jeritan. Kendati laporan ini, belum bisa diverifikasi kebenarannya. 

Namun semua info-info ini masih bersifat kecurigaan, karena kalau pun benar Khashoggi dibunuh, polisi Turki belum menemukan bukti riil. Apakah itu jasad korban atau bukti forensik lain. Polisi Turki juga belum menemukan kamera CCTV di konsulat Saudi yang dilaporkan hilang.

Spekulasi lain, Khashoggi tak dibunuh, melainkan dibawa ke negara asalnya di Saudi. Ia dibawa ke dalam van dan diterbangkan menggunakan jet pribadi ke negara asalnya. Washington Post dalam laporannya mengutip intelijen AS mengungkap keinginan putra Mahkota Saudi, Pangeran Muhammad bin Salman (MBS) untuk menahan Khashoggi.

Beragam spekulasi ini telah dibantah oleh Saudi. Dan pihak Saudi mengaku tak mengetahui di mana keberadaan jurnalis tersebut. Sayang, mereka tak mempublikasikan secara transparan CCTV di konsulat.

Khashoggi selama ini dikenal sebagai jurnalis yang cukup kritis terhadap pemerintahan Saudi. Ia termasuk orang yang berani mengkritik Pangeran Muhammad bin Salman. Khasnoggi pernah mengatakan kepada temannya bahwa kebebasan berpendapat di Saudi memburuk di bawah Pangeran MBS dan ia khawatir akan keamanannya. Pada Juni 2017, Khashoggi memilih tinggal di pengasingan di Virginia, Amerika Serikat.

Hilangnya Khashoggi akan memberikan sejumlah dampak, baik dari sisi tekanan internasional ataupun hubungan bilateral. Pertama, kecaman pastinya akan mengalir dari kelompok-kelompok HAM internasional.  Apalagi Saudi sudah masuk dalam daftar negara yang dinilai kurang baik dalam isu HAM. Belum lama ini Saudi berseteru dengan Kanada. Saudi mengusir duta besar Kanada dan menghentikan transaksi perdagangan di antara kedua negara.

Gara-garanya, Kanada mengecam sejumlah penangkapan aktivis hak asasi manusia di Saudi, termasuk di antaranya yang memiliki hubungan dengan Kanada. Mereka yang ditahan seperti aktivis Samar Badawi dan Nassima al-Sada. 

Kedua, kecaman dan gugatan akan datang dari negara-negara yang selama ini kerap berseteru dengan Saudi. Salah satunya adalah Turki. Ankara cukup dekat dengan Qatar, negara yang diboikot Saudi.

Turki bersama Qatar juga membela kelompok Ikhawanul Muslimin. Padahal gerakan ini telah dilarang oleh Saudi. Selain Turki dan Qatar, ada juga Iran yang menjadi seteru bebuyutan Saudi di kawasan.  Karena itu, hilangnya Khashoggi menjadi bola liar yang bisa diarahkah ke Riyadh kapanpun. Kasus ini juga bisa meregangkan hubungan bilateral antara Saudi dan Turki.

Ketiga yakni semakin rumitnya hubungan Saudi dengan Amerika Serikat. Sebagaimana diketahui kedua negara merupakan sekutu di kawasan Timur Tengah. AS membutuhkan Saudi untuk menghalau pengaruh Iran di kawasan. AS tak ingin keberadaan Iran mengancam Israel.

Oleh karena itu, selama ini jika bicara soal hak asasi manusia Saudi, AS cenderung bersikap pasif atau memilih 'merem'. Beda jika target atau sasarannya adalah Iran. Maka AS tak akan segan-segan menjatuhkan sanksi.

Namun dalam kasus Khashoggi, AS tak akan bisa menutup mata. Apalagi selama setahun terakhir pria berusia 59 tahun itu sudah tinggal di AS. Ia tinggal di pengasingan sejak Juni 2017 karena faktor keamanan  di negara asal.

Jika pemerintahan Trump tak bersikap, maka ini akan menjadi pelor yang mantab bagi oposisi jelang pemilihan sela di AS pada November mendatang. Trump bisa kehilangan suara dukungan. Kalangan oposisi tentu akan bertanya-tanya mengapa bisa Khashoggi yang selama ini tinggal di AS sampai hilang?

Persoalannya sejauh mana sanksi akan diberikan jika benar Khashoggi dibunuh? Apakah AS berani membekukan rekening milik orang Saudi? Apakah AS berani menghentikan penjualan senjata ke Saudi? Atau apakah berani Trump memutuskan hubungan diplomatik dengan Riyadh?

Ini merupakan pilihan sulit buat Trump. Dalam keterangan teranyar, Trump menilai ide menghentikan penjualan senjata seperti tak dapat diterima. Karena kalau AS menggagalkan penjualan senjata, maka Saudi bisa beralih ke  Rusia. 

Belum lagi dengan nasib industri-industri senjata di AS yang akan terdampak jika penjualan senjata dihentikan. Pilihan memutuskan hubungan diplomatik sepertinya juga sulit. Paling memungkinkan, adalah sanksi terbatas ke personal, tanpa harus, merugikan hubungan kedua negara. 

Semua teka-teki ini akan terjawab sudah ketika Khashoggi sudah ditemukan. Dalam keadaan hidup atau sudah meninggal. Kita lihat nanti.

*) Penulis adalah redaktur republika.co.id

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES

In Picture: Ketua TKN Buka Kegiatan Kamis Kerja

Kamis , 13 Des 2018, 21:31 WIB