Minggu, 12 Safar 1440 / 21 Oktober 2018

Minggu, 12 Safar 1440 / 21 Oktober 2018

Hoaks Hitler dan Ratna

Jumat 05 Okt 2018 15:07 WIB

Red: Sammy Abdullah

Abdullah Sammy

Abdullah Sammy

Foto: Republika/Daan Yahya
Jerman dan Austria mengenang hoaks dalam arsip dan museum

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Abdullah Sammy*

28 April 1983 menjadi hari saat sebagian penduduk bumi menjadi korban hoaks. Penyebabnya adalah buku harian Adolf Hitler yang dimuat majalah Jerman, Stern.

Sebelumnya, wartawan Majalah Stern, Gerd Heidemann, membeli 62 edisi buku harian Hitler itu dari seorang kolektor bernama Konrad Kujau senilai 6,1 juta dolar Amerika (sekitar Rp 90 miliar). Majalah Stern semakin yakin untuk memuat materi buku itu karena verifikasi dari profesor sejarah University of Oxford, Hugh Redwald Trevor-Roper. Sang profesor yang memberi verifikasi keaslian buku harian Hitler itu.

Isi buku harian menggambarkan sosok humanis sang pemimpin Nazi Jerman. Kisah yang kemudian diangkat majalah Stern sontak menghebohkan seisi bumi. Saking hebohnya, hampir seluruh media di dunia mengutip laporan Stern.

Selama sekitar tiga pekan, kisah ini dianggap sebagai salah satu karya terbesar di dunia jurnalistik Jerman. Tapi predikat itu langsung berganti menjadi sampah terbesar dalam sejarah jurnalistik dunia. Sebab, buku harian Hitler terbukti palsu!

photo

Buku harian palsu Hitler

Buku harian itu ternyata ditulis oleh Konrad Kujau sendiri. Akibat megaskandal ini, Kujau dan Gerd Heidemann harus menghabiskan sebagian dari sisa hidupnya di penjara. Sedangkan, reputasi yang selama puluhan tahun dibangun sang profesor sejarah Oxford, Hugh Redwald Trevor-Roper, hancur seketika.

Sekitar 35 tahun berlalu, giliran Indonesia dihantam salah satu berita hoaks terbesar dalam sejarah pers nasional. Ini setelah kisah penganiyaan pemain teater sekaligus aktivis politik, Ratna Sarumpaet, menjadi konsumsi beberapa media dan tokoh nasional. Selang sehari setelah berita penganiayaan ini tersebar, Ratna mengaku berbohong.

Terlepas dari ruang dan waktunya, hoaks selalu menghiasi arus sejarah peradaban manusia. Sebagai istilah, hoaks diyakini sudah dikenal sejak abad ke-18. Hoaks berasal dari penggalan mantra yang kerap diucapkan pesulap di atas panggung yakni 'hocus pocus'. Kata ini kemudian diadaptasi sebagai sebuah kosa kata baru di abad ke-19. Dalam kamus Cambridge, hoaks berarti 'rencana untuk menipu seseorang'.

Sekalipun zaman berganti, sifat dan cara kerja hoaks selalu sama. Yang membedakan hoaks di setiap zaman hanya perantinya saja. Jika dahulu hoaks tersebar via kertas koran, buku, lukisan, atau pamflet, maka kini mediumnya justru via media sosial. Ini sesuai dengan hasil penelitian Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) pada 2017 yang menemukan 92,40 persen hoaks tersebar via media sosial.

Apa pun perantinya, hoaks selalu melibatkan tiga proses untuk menjadi sempurna. Ketiga proses itu adalah produksi, distribusi, dan konsumsi. Layaknya kegiatan dalam ekonomi, produksi merupakan kegiatan menciptakan atau menambah nilai sebuah benda. Kegiatan produksi baru bisa tercipta jika didukung faktor utamanya yakni bahan baku, tenaga, dan modal.

Terkait hoaks, bahan baku yang diperlukan terkadang merupakan materi kebenaran. Materi kebenaran bisa diolah sedemikian rupa menjadi sebuah hoaks. Materi kebenaran itu contohnya adalah foto wajah bengkak Ratna Sarumpaet.

Sedangkan dalam konteks buku harian Hitler, bahan baku kebenarannya adalah kertas tulis yang memang dibuat saat Hitler berkuasa. Sehingga materi kebenaran itu bisa mengecoh orang sekelas profesor sejarah Oxford.

Tapi bahan baku itu belum menjadi hoaks sebelum diolah lewat kelihaian tenaga dan modal. Dua hal inilah yang bisa mengubah materi kebenaran menjadi sebuah produk kebohongan. Ini seperti kertas cetakan 1930-an yang kemudian bisa dimanipulasi menjadi buku harian palsu Hitler setelah diolah lewat modal intelegensia dan tenaga seorang Konrad Kujau.

Dalam kasus Ratna, materi foto wajah bengkak akibat operasi plastik diolah menjadi cerita penganiayaan di Bandung.

Hoaks tak akan berarti apa-apa jika tidak didistribusikan kepada korban. Karena itu, sebuah hoaks butuh agen-agen distributor. Dalam sejarah, hoaks yang besar tak akan tercipta tanpa bantuan aktor dan media besar.

Di era media sosial sekarang ini, hoaks bisa tersebar lewat tokoh yang berpengaruh atau punya banyak pengikut di sosial media. Namun, tak semua distributor mengetahui bahwa informasi yang didistribusikannya adalah hoaks.

Ini seperti Majalah Stern yang hingga kini bersikukuh tak tahu bahwa buku yang mereka beli dari sang kurator sejarah itu adalah buku harian palsu. Tapi apapun itu, distributor tetap harus bertanggung jawab karena lalai dalam melakukan verifikasi.

Hoaks pada akhirnya jadi parpipurna setelah sampai ke masyarakat untuk dikonsumsi. Di sinilah hoaks menimbulkan daya kehancuran yang tinggi. Akibat hoaks masyarakat bisa dimanipulasi. Kebohongan jadi dianggap sebagai kebenaran.

Masyarakat pun terprovokasi atas kabar bohong yang sengaja diproduksi dan didistribusikan pihak yang tidak bertanggung jawab. Ini seperti dalam kasus buku harian Hitler yang akhirnya berdampak munculnya semangat neo-Nazi.

Dalam titik ini, hoaks jelas melanggar hak asasi manusia. Ini terutama hak masyarakat atas informasi yang diatur dalam Pasal 19 Deklarasi Hak Asasi Manusia dan Konvensi Internasional tentang Hal Sipil-Politik.

Celakanya tak semua korban hoaks menyadari posisi mereka. Sekalipun produsen dan distributornya telah mengaku berbohong, sebagian konsumen hoaks tetap percaya pada kabar yang kadung tersebar. Ini seperti dalam kasus Ratna Sarumpaet yang masih ada pula yang percaya bahwa Ratna adalah korban konspirasi.

Fenomena itu membuktikan daya rusak hoaks telah mampu mengganggu nalar berpikir rasional. Saat hoaks sudah dikonsumsi berulang kali, maka efeknya akan membuat adiksi. Hoaks jadi sebuah kebutuhan untuk memenuhi hasrat kebencian.

Jerman sudah menyadari daya rusak hoaks itu. Untuk mengantisipasi bahaya rusaknya pola pikir akibat hoaks, Jerman menggunakan hoaks terbesar dalam sejarah mereka sebagai bagian dari edukasi.

Pemerintah Jerman memutuskan tetap menyimpan 62 edisi buku harian palsu Hitler. Buku yang ditulis Kujau tersebut disimpan Badan Arsip Jerman sebagai arsip penting untuk mengenang salah satu hoaks terbesar dalam sejarah.

Salinan buku harian palsu Hitler malah menjadi salah satu materi yang disimpan dalam Museum of Art Fakes di Vienna, Austria.

photo

Museum of Art Fakes di Austria

Cara Jerman atau Austria yang mendirikan museum khusus untuk mengenang hoaks, bisa ditiru Indonesia. Produk dan aktor hoaks harus terus diingat sebagai bagian dari pelajaran. Sebab hoaks bisa didaurulang kembali sebagai kebenaran jika dilupakan.

Dengan sistem edukasi, diharap muncul sistem peringatan dini di tengah masyarakat saat menerima informasi. Sehingga setiap informasi yang diterima tak lantas langsung dipercaya dan ikut disebarkan ke sosial media.

Sistem peringatan dini saat menerima informasi sejatinya merupakan konsep yang sudah diajarkan Islam pada abad pertengahan. Lewat surat Al Hujarat ayat 6, Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.“

 

*Penulis adalah jurnalis Republika/mahasiswa pascasarjana Ilmu Sejarah Universitas Indonesia 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA