Tuesday, 5 Rabiul Awwal 1440 / 13 November 2018

Tuesday, 5 Rabiul Awwal 1440 / 13 November 2018

Tahun Baru Islam dan Menjaga Tradisi Syiar di Era Milenial

Selasa 11 Sep 2018 00:18 WIB

Red: Joko Sadewo

Pawai obor dalam rangka menyambut tahun baru Islam. (ilustrasi)

Pawai obor dalam rangka menyambut tahun baru Islam. (ilustrasi)

Foto: Republika/Edi Yusuf
Tantangan agar syiar Islam menjadi 'Gw Banget'

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Agung Sasongko*

Memang tak semeriah perayaan tahun baru masehi. Namun, geliat syiar yang menandakan pergantian tahun Islam atau tahun baru Hijriah terus diperkuat.

Di sejumlah daerah, tradisi perayaan Tahun Baru Islam masih terjaga. Mulai dari pawai obor, pengajian, zikir, hingga doa bersama. Saya kira ini bagus, apalagi masyarakat kita sudah terbiasa dengan pola penanggalan masehi.

Semangat ini perlu dijaga, karena generasi baru bertitel generasi Milenial telah muncul. Mereka tentu tahu kalender Hijrah, namun  pertanyaanya, seberapa pentingkah kalender hijriah ini untuk mereka.

Kita tarik sejenak, jauh ketika para sahabat menggantikan Nabi SAW guna meneruskan jalan dakwah. Tentu bukan tanpa alasan Amirul Mukminin Umar bin Al-Khathab menetapkan peristiwa hijrah sebagai dasar perhitungan tahun dalam kalender kaum muslimin.

Hijrah berarti berpindah dengan meninggalkan suatu tempat menuju tempat yang lain, atau berubah dengan meninggalkan suatu kondisi untuk menuju kondisi yang lain. Dalam Islam, hijrah memang ada dua macam.

Pertama, hijrah hissiyyah (hijrah fisik dengan berpindah tempat), dari darul khauf (negeri yang tidak aman dan tidak kondusif) menuju darul amn (negeri yang relatif aman dan kondusif), seperti hijrah dari Kota Makkah ke Habasyah (Ethiopia) dan dari Makkah ke Madinah.

Kedua, hijrah ma'nawiyyah (hijrah nilai). Yakni, dengan meninggalkan nilai-nilai atau kondisi-kondisi jahiliah untuk berubah menuju nilai-nilai atau kondisi-kondisi Islami. Seperti dalam aspek akidah, ibadah, akhlak, pemikiran dan pola pikir, muamalah, pergaulan, cara hidup.

Juga terkait kehidupan berkeluarga, etos kerja, manajemen diri, manajemen waktu, manajemen dakwah, perjuangan, pengorbanan, serta aspek-aspek diri dan kehidupan lainnya sesuai dengan tuntutan keimanan dan konsekuensi keislaman.

Bila ditarik untuk konteks saat ini, pemaknaan hijrah  tak perlu mengukur jarak antara Makkah-Madinah. Cukuplah kesadaran pribadi sebagai ukuran, bahwa hijrah sejati ialah perpindahan dinamis—meminimalisasi akhlak madzmumah menuju akhlak mahmudah.

Yang perlu dipahami pula, jangan dulu pesimistis soal akhlak milenial ini. Justru inilah tantangan kita, bagaimana membuat dakwah menjadi 'gw banget'. Kita tentu menyimak dari teladan Rasulullah, betapa rapinya beliau dalam merancang dan membuat “program” dakwah.  Betapa luar biasanya usaha yang dilakukan oleh Rasulullah SAW yang selalu mencoba berbagai inovasi baru dalam dakwahnya.

Ustaz Hanan at-Taki sudah memulainya.  Dai lulusan al-Azhar ini membentuk tim inti untuk membentuk komunitas pemuda di Masjid al-Lathiif. Untuk mendekati anak muda, Ustaz Hanan sampai belajar cara skateboard dan membaca buku-buku tentang street culture.

Tak pelak, semua upaya tersebut membuat dakwah Ustaz Hanan diterima kaum muda Bandung. Hijrah ala Ustaz Hanan pun menuai hasil. Jamaah pengajian Rabu malam hanya 30 orang, kini bisa mencapai 6.000 orang.

Juga ada, dan pasti banyak lagi contoh yang dibutuhkan milenial agar mereka tak tersesat.  Seperti dikatakan Buya Hamka agama laksana tali kekang kuda bagi manusia. Dimana ajaran-ajaran agama dan ibadah yang mesti dilaksanakan menjadi alat bantu agar manusia tidak menggunakan akal untuk merusak kemanusiaannya.

Akal berkembang liar, nalar bisa cerdas menggali potensi dunia, bisa rakus jika bersanding dan bekerja sama dengan dengan hawa nafsu. Bisa membunuh dan merusak alam melebihi apapun juga.

Guna menyambut tahun baru 1439 Hijriah, kita harus melakukan muhasabah dan introspeksi diri dengan bertanya, sejauh mana perubahan, peningkatan dan perbaikan Islami telah terjadi dalam diri dan kehidupan kita, baik dalam skala individu, kelompok, jamaah, masyarakat, bangsa, maupun dalam skala umat Islam secara keseluruhan? wallahualam bis shawab

*) Penulis adalah redaktur republika.co.id

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA