Tuesday, 16 Safar 1441 / 15 October 2019

Tuesday, 16 Safar 1441 / 15 October 2019

Sampai Jumpa di Indonesia

Senin 03 Sep 2018 07:45 WIB

Red: Sammy Abdullah

Ketua Penyelenggara Asian Games (Inasgoc), Erick Thohir

Ketua Penyelenggara Asian Games (Inasgoc), Erick Thohir

Foto: Republika TV/Havid Al Vizki
Selamat dan terima kasih kepada rakyat Indonesia atas sukses Asian Games 2018

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Erick Thohir*

Asian Games 2018 secara simbolis telah resmi ditutup kemarin. Lewat pesta penutupan di Stadion Gelora Bung Karno, seluruh kontingen telah merampungkan perjalanannya dalam berkompetisi membela masing-masing negara.

Cina masih menjadi yang terbaik di Asia dengan raihan 132 emas, 92 perak, dan 65 perunggu. Di bawah Cina, ada Jepang, Korea, dan yang paling mengejutkan sekaligus membahagiakan, Indonesia.

Tak berlebihan jika Indonesia disebut telah mencatat kesuksesan bersejarah pada Asian Games 2018 ini. Selain prestasi, kita semua turut berbangga karena 15 hari penyelenggaraan Asian Games 2018 mengundang pujian Asia bahkan dunia.

Pujian dunia pada pelaksanaan Asian Games 2018 kali ini tak akan terjadi tanpa peran seluruh rakyat Indonesia. Kesuksesan Asian Games 2018 adalah kesuksesan 265 juta rakyat dari Aceh hingga Papua. Karenanya, sebagai ketua panita Asian Games 2018, izinkah saya untuk mengucapkan selamat dan terima kasih kepada seluruh rakyat Indonesia.

 Tak lupa, ucapan terima kasih yang sama saya ucapkan kepada volunteer, petugas kebersihan, keamanan, maupun seluruh panitia yang terlibat pada Asian Games 2018. Anda semua sudah berjuang dengan tetesan keringat, tenaga, bahkan air mata. Kata-kata ini tidak mungkin cukup untuk menggambarkan segala perjuangan Anda untuk bangsa dan negara.

Tinta emas sejarah akan mencatat Anda sebagai bagian perjalanan bangsa Indonesia yang mampu menjadi tuan rumah Asian Games 2018 secara gemilang. Semoga jerih payah Anda semua dicatat sebagai amal baik oleh Tuhan Yang Maha Esa.

Kesuksesan Asian Games 2018 kali ini bukan sekadar kalimat pemanis bibir. Kesuksesan Asian Games 2018 juga bukan klaim-klaim sepihak. Tapi ini adalah pengakuan dunia.  

Perlu diketahui, Asian Games 2018 diawasi berbagai perwakilan negara maupun lembaga dunia yang independen. Jepang bahkan mengirim puluhan observer untuk menilai sekaligus mengambil pelajaran dari perhelatan di Jakarta dan Palembang. Jepang merujuk Asian Games 2018 sebelum jadi tuan rumah Olimpiade 2020 di Tokyo.

Ada pula perwakilan negara luar Asia, seperti Argentina, yang mengirim pengawas pada Asian Games kali ini. Terakhir, Dewan Olimpiade Dunia (IOC) juga ikut mengirim pengawas. Tak tanggung-tanggung, pengawasnya adalah Presiden IOC sendiri, Thomas Bach.

Dia datang langsung pada pesta penutupan di Jakarta. Seluruh pengawas itu, termasuk Presiden IOC, memberi penilaian tinggi atas kesuksesan besar Indonesia.  IOC menilai Indonesia telah sukses besar dalam menyelenggarakan Asian Games 2018.

Kedatangan Presiden IOC tentu tak sekadar melempar kata pujian. Sebab kedatangan Thomas Bach juga terkait ambisi besar Indonesia yang tak ingin berhenti hanya sebagai tuan rumah Asian Games 2018. Sebab Asian Games bukanlah puncak dari segalanya.

Menjadi tuan rumah Asian Games 2018 adalah awal dari pejalanan besar Indonesia untuk menyelenggarakan event yang lebih besar kedepannya. Bukan hal yang mustahil saat Presiden Jokowi menyatakan Indonesia telah siap mencalonkan diri sebagai tuan rumah Olimpiade 2032.

 Karena ambisi besar itulah IOC mengirim banyak pengawas ke Jakarta dan Palembang. Karena alasan itu pula seorang Presiden IOC datang langsung ke Jakarta.

Mungkin banyak yang masih meragukan ambisi itu. Banyak yang bertanya-tanya, mampukah Indonesia bersaing dengan negara besar lain yang akan mencalonkan diri sebagai tuan rumah Olimpiade?

 Untuk menjawab pertanyaan ini, ada baiknya kita untuk membandingkan kondisi empirik penyelenggaraan Asian Games 2018 dengan Olimpiade 2016 di Rio de Jeneiro.

 Saya dengan yakin dan penuh kesadaran mengatakan kualitas kita Asian Games 2018 lebih baik dari Olimpiade Rio. Mulai dari pesta pembukaan-penutupan, akomodasi, maupun wisma atlet, Jakarta-Palembang unggul.

Lantas, mengapa saya membandingkan Asian Games 2018 dengan Olimpiade, bukan justru dengan Asian Games terdahulu? Sebab standar yang kita tetapkan memang lebih tinggi. Karenanya tak berlebihan jika menyebut Asian Games 2018 adalah langkah awal Indonesia menuju tuan rumah Olimpiade.

Karena itu perbandingan yang sama sekarang sedang dikalkulasi oleh IOC. Tapi ada dua hal yang mungkin jadi pekerjaan rumah (PR) kita untuk bisa mencalonkan diri sebagai kandidat tuan rumah Olimpiade. PR pertama adalah meningkatkan kualitas venue pertandingan, utamanya terkait dengan kapasitas stadion.

Selain soal fasilitas, kita juga punya masih punya PR tentang prestasi. Sebab syarat menjadi tuan rumah sebuah hajatan olahraga adalah prestasi negara itu di atas lapangan. Karena itu, prestasi pada Asian Games 2018 ini wajib kita pertahankan, bahkan terus ditingkatkan. Sasaran antaranya ada di SEA Games 2019 di Filipina. Sedangkan sasaran utamanya di Olimpiade 2020 Tokyo.

Dengan segala target dan ambisi yang ada ini jadi pantang bagi kita untuk larut terbuai pada kesuksesan Asian Games 2018.

Alhamdulillah jika memang kita disebut sukses besar di Asian Games 2018 kali ini. Tapi arti kesuksesan bukanlah seperti itu. Arti sukses yang sesungguhnya apabila kita di hari esok mampu lebih baik dari hari ini. Sebab 'barangsiapa yang harinya sekarang lebih baik daripada kemarin maka dia termasuk orang yang beruntung. Sedangkan barangsiapa yang harinya sama dengan kemarin maka dia adalah orang yang merugi. Dan barang siapa yang hari ini lebih buruk dari kemarin maka dia adalah orang yang celaka.' 

Dengan segala ambisi dan mimpi untuk menjadi lebih baik lagi, saya sengaja tak mengucapkan kata 'selamat tinggal' pada insan olahraga yang akan pulang ke negaranya usai pesta penutupan Asian Games 2018. Saya juga tak akan mengucapkan selamat tinggal pada Anda semua volunteer, petugas kebersihan, keamanan, maupun seluruh panitia yang terlibat pada Asian Games 2018.

Sebab kita semua akan berjumpa lagi di Indonesia. Yang terdekat, kita akan berjumpa pada Piala Dunia Basket 2023 dan in sya Allah, Olimpiade Jakarta 2032. Sampai jumpa.

 

*penulis adalah Ketua Panitia Penyelenggaran Asian Games 2018 (Inasgoc) dan Ketua Komite Olimpiade Indonesia. 

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA