Sunday, 10 Rabiul Awwal 1440 / 18 November 2018

Sunday, 10 Rabiul Awwal 1440 / 18 November 2018

Timnas U-19 Bukan Egy

Rabu 11 Jul 2018 16:20 WIB

Red: Didi Purwadi

Wartawan Republika, Israr Itah

Wartawan Republika, Israr Itah

Foto: Dok, Pribadi
Egy belum mendapatkan feeling game turnamen.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Israr Itah

Redaktur Republika.co.id

Saya kira banyak yang setuju kalau persiapan timnas Indonesia U-19 menuju Piala AFF U-19 tidak sebaik lima tahun lalu saat menjadi juara. Materi pemain timnas U-19 kali ini, bagi sebagian pihak, sedikit kalah mentereng dibandingkan era Evan Dimas dkk. Tapi Witan Sulaiman dkk membuktikan, minimal hingga saat ini, bahwa mereka punya potensi mengulang kesuksesan para senior mereka pada 2013 silam.

Saya termasuk pihak yang sangsi akan kekuatan timnas U-19 minus bintangnya, Egy Maulana Vikri. Apalagi, Garuda Muda sempat kesulitan menghadapi tim lemah Laos meski akhirnya menang 1-0 pada laga perdana Grup A. Tapi setelah itu Witan dkk menunjukkan penampilan menjanjikan. Singapura dibuat tak berkutik dengan skor 4-0.

Melawan Filipina, timnas U-19 tertinggal 0-1 hingga menit 80. Tapi upaya tak kenal lelah dan keyakinan kuat akan game plan yang diinstruksikan pelatih membuat empat gol dilesakkan timnas U-19 ke gawang Filipina dalam sisa waktu yang ada. Vietnam yang menjadi salah satu kandidat juara dipaksa takluk 0-1 untuk memastikan tiket ke semifinal. Sayangnya, timnas U-19 hanya berstatus runner-up grup setelah takluk 1-2 dari Thailand. Padahal, kita hanya butuh hasil imbang untuk memuncaki grup.

Tak mengapa karena secara permainan laga benar-benar seimbang. Thailand unggul dalam ketenangan dan organisasi permainan yang rapi, sementara Indonesia yang mengandalkan operan jarak dekat satu dua memberikan tekanan teratur ke lini pertahanan Thailand terutama sepanjang babak kedua.

Yang terekam di benak saya adalah timnas U-19 asuhan Indra Sjafri ternyata tak kehilangan daya ledak meski tanpa Egy. Saya melihat sejumlah faktor mengiringi kesuksesan para penggawa muda Indonesia ini.

Pertama, sejumlah pemain timnas U-19, punya bekal dari jam terbang bermain di Liga 1 Indonesia. Saddil Ramdani, pahlawan dalam beberapa laga timnas U-19, bisa menjadi contoh sahih dari sini. Saddil mendapatkan banyak menit bermain bersama Persela Lamongan. Ketika terbiasa meladeni pemain lebih tua yang penuh trik dan skill mumpuni, Saddil terlihat percaya diri meredam lawan sebaya.

Saddil menjadi pahlawan Indonesia saat melawan Filipina saat masuk sebagai pemain pengganti. Ia memecah kebuntuan pada menit ke-81 saat timnas U-19 sebelumnya tertinggal 0-1. Setelah sepakan keras Saddil dari luar kotak penalti menggetarkan jala, berturut-turut tiga gol kemudian tercipta ke gawang Filipina.

Kedua, Indra Sjafri terlihat lebih membuka diri terhadap banyak masukan. Di antaranya menarik pemain asal Papua ke dalam tim serta penyesuaian taktik saat laga berjalan. Gelandang asal Persipura, Todd Rivaldo Ferre, menjelma menjadi bintang baru menggantikan peran Egy mengacak-acak pertahanan lawan dengan skill individunya.

Para pemain di tim sekarang juga terlihat lebih bebas berkreasi. 'Shock therapy' pemberhentian dari kursi pelatih timnas U-19 beberapa waktu lalu tampaknya cukup memberikan dampak terhadap Indra yang sedikit lebih kalem dibandingkan sebelumnya walau tak kehilangan api semangat dan kepercayaan diri. Semangat menolak menyerah yang diusung Indra sejak lama ditanamkan kembali di kepala belakang para pemain timnas U-19.

Ketiga, hal yang mungkin sepele namun tak kalah penting, Piala AFF U-19 berlangsung bersamaan dengan Piala Dunia 2018. Alhasil fokus masyarakat Indonesia dan awak media Tanah Air tidak setinggi sebelumnya. Hal ini, menurut saya, cukup berkontribusi mengangkat tekanan dari pundak para pemain. Walaupun punya kualitas mumpuni, mereka tetaplah anak remaja yang secara emosi belum matang untuk menyikapi tekanan berlebihan. Terlebih pada era media sosial di mana saat menang pemain disanjung dan ketika kalah berbalik di-bully habis-habisan.

Keempat, tak ada Egy membuat para pemain justru terpacu memaksimalkan potensi dirinya dan bermain lebih kompak sebagai tim. Gol timnas U-19 datang dari striker, gelandang, dan pemain bertahan lewat open play.

Nah, faktor keempat ini yang menurut saya wajib dicermati oleh Indra menjelang babak gugur. Sebab, ia sudah bisa menurunkan Egy pada laga semifinal melawan Malaysia pada Kamis (12/7).

Memainkan penggawa Lechia Gdansk sejak awal, menurut saya, bak pisau bermata dua. Di satu sisi, talenta hebat anak Medan ini pasti dibutuhkan timnas U-19 untuk meraih gelar juara. Terlebih Indra mengatakan, sejumlah pemainnya dalam kondisi tak prima setelah menjalani rangkaian pertandingan penyisihan grup yang padat.

Egy dapat bermain sebagai penyerang sayap atau second striker. Ia punya kelebihan menahan dan melindungi bola. Kepiawaiannya menusuk pertahanan lawan dan mengakhirinya dengan tendangan kaki kiri mematikan sudah diakui. Kehadiran Egy membuat Indra semakin kaya akan variasi taktik. Terutama menghadapi Malaysia yang solid dan kompak seperti Thailand.

Di sisi lain, menurunkan Egy sebagai starter berpotensi mengusik kesolidan tim yang sudah padu sejak laga awal penyisihan grup. Egy hanya punya waktu dua hari untuk berlatih bersama rekannya setelah menempuh perjalanan jauh dari Polandia.

Saya mengkhawatirkan secara fisik dan mental ia belum siap. Saya juga khawatir kehadiran Egy membuat ia menjadi tumpuan. Alur bola yang terbagi rapi di semua sisi di lini serang bisa terfokus kepada Egy. Padahal, tanpa Egy, para pemain timnas U-19 sudah membuktikan kapasitasnya selama penyisihan grup.

Todd misalnya, jadi bintang baru Garuda Muda dalam urusan menembus pertahanan lawan menggunakan skill individu seperti yang biasa dilakukan Egy. Pendukung timnas Indonesia pasti masih ingat aksi eksplosif gelandang Persipura melewati tiga pemain Vietnam dan diakhiri dengan tendangan yang membentur tiang, berujung gol kemenangan timnas U-19. Ada pula Saddil, Witan, dan para pemain lain yang bebas berkreasi saat menggempur kotak 16 lawan.

Egy belum mendapatkan feeling game turnamen. Membuat Egy langsung tampil sebagai starter pada laga do or die menurut saya agak riskan dari sisi teknis. Dari sisi non-teknis, Indra menunjukkan ketergantungannya kepada Egy dan mendegradasi upaya para pemain lain yang sudah berjibaku sejak awal penyisihan. Padahal, pelatih berdarah Minang ini dalam sejumlah kesempatan berulang-ulang menegaskan filosofinya yang tak mau tergantung pada satu individu dalam tim.

“Tim ini punya banyak pemain bagus, semuanya bisa jadi starter,” begitu katanya seusai Indonesia dikalahkan Thailand saat ditanya tentang rotasi enam pemain yang dilakukannya.

Indra mungkin dapat memainkan Egy pada babak kedua atau ketika melihat timnya mulai buntu untuk mencetak gol. Saya percaya, Egy justru tertantang dan terpacu memberikan yang terbaik saat ia diberi batasan waktu dan tempat serta tidak dianggap istimewa. Sebab, sesungguhnya Egy belumlah seistimewa yang dibicarakan banyak orang.

Saya juga percaya, Indra punya kalkulasi cermat dalam mengelola timnya demi mencapai target juara yang dibebankan PSSI kepadanya. Pemain yang akan ia pilih melawan Malaysia nanti pastilah yang dinilainya sesuai untuk kebutuhan tim untuk meraih kemenangan. Bila dalam hitungan Indra Egy benar-benar dibutuhkan sebagai starter untuk menghadapi Malaysia, mungkin memang itulah adanya.

Saya, kalian, kita semua, hanya bisa mendukung dengan hadir ke lapangan atau berdoa saat menyaksikan aksi timnas U-19 di layar kaca. Apa pun keputusan Indra nantinya, semoga itu menjadi yang terbaik untuk timnas U-19. Selamat bertanding, adik-adik pejuang!

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES