Friday, 8 Rabiul Awwal 1440 / 16 November 2018

Friday, 8 Rabiul Awwal 1440 / 16 November 2018

Dekapan Duka di Selat Selayar

Jumat 06 Jul 2018 00:01 WIB

Red: Joko Sadewo

Andi Nur Aminah

Andi Nur Aminah

Foto: Republika/Daan Yahya
KM Lestari Maju sebetulnya sudah cukup uzur mengarungi samudera.

REPUBLIKA.CO.ID, oleh: Andi Nur Aminah*

Namanya Rini Nurianti. Fotonya yang menggunakan pelampung orange, dengan kepala seorang anak terlihat menyembul di balik pelampung itu, berseliweran di media sosial beberapa hari ini. Bayangan laut lepas, dinginnya air dan ombak lautan yang susah ditebak membuatnya memilih mendekap sang buah hati untuk bersamanya dalam satu pelampung.

KM Lestari Maju, yang berlayar dari Pelabuhan Bira, Bulukumba menuju Pamatata, Selayar, sudah dalam posisi miring nyaris 180 derajat. Di foto itu, jelas terlihat, Rini yang ternyata sedang hamil itu, bersama Abizar dalam dekapannya, hanya dipisahkan pagar pembatas kapal. Di belakangnya, lautan lepas.

Entah, siapa penumpang yang sempat mengabadikan dan kemudian menyebarkan foto itu ke media sosial. Yang pasti, dari satu akun ke akun lain, foto Rini mendekap anaknya di atas KM Lestari Maju ramai dikomentari. Kasih ibu sepanjang masa, sepanjang hayat bahkan hingga ajal. Doa-doapun mengalir untuk keselamatan mereka, juga untuk penumpang lainnya.

Tak lebih dari 12 jam setelah foto ibu berbalut rompi pelampung dan anaknya itu menyebar, malam harinya, melalui catatan yang dikeluarkan aparat kepolisian setempat, Rini ditemukan meninggal bersama anak dalam dekapannya. Tentu juga bersama anak dalam kandungannya. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun.

Kemudian muncul foto seorang bayi perempuan dalam balutan pelampung. Bayi yang mungkin belum genap setahun ini, berhasil dievakuasi tim penyelamat. Sempat ramai dikomentari di media sosial, bahwa bayi tak berdaya ini terombang-ambing di lautan lalu ditemukan selamat, adalah sebuah keajaiban. Namun faktanya adalah, sang bayi tetap bersama ibunya berjam-jam terombang ambing di atas kapal sambil menunggu tim penyelemat mengevakuasi mereka.

Ya, ajal hanya akan menjemput mereka yang sudah tiba saatnya. Itu sudah takdir. Di manapun dan bagaimana pun kondisinya, jika sang maut sudah datang, tak ada kuasa yang bisa menghindari.

Begitulah sekelumit kisah sedih penumpang KM Lestari Maju. Kisah sedih ini juga menimpa Nurul Fajri. Ada lima keluarganya yang menumpang kapal tersebut. Tiga di antaranya selamat, dan dua lainnya ditemukan sudah meninggal. Keduanya adalah orangtua Fajri.

Satu keluarga itu, tak seberuntung penumpang lain. Mereka tak kebagian baju pelampung. Akhirnya berlima mereka saling berpegangan pada besi-besi kapal tua itu. Saat ombak datang, ibu Fajri terhempas ke laut. Suaminya melompat untuk menolong sang istri, namun hempasan ombak memisahkan pegangan mereka. Sejak saling terlepas itulah, keduanya tak lagi kembali ke badan kapal. Mereka terbawa arus dan saat ditemukan sudah tak bernyawa. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun.

Tentu masih banyak kisah sedih dari KM Lestari Maju. Kita tentu berharap, kisah sedih seperti ini jangan terulang lagi. Kisah sedih ini, tentu tak lepas dari kondisi penyeberangan yang menghubungkan pulau Sulawesi yang luasnya 174.600 kilometer persegi dengan sebuah pulau kecil seluas 10.504 kilometer persegi, yakni Pulau Selayar. 

Masyarakat Selayar sudah sangat lama mengalami kesulitan jika ingin menyeberang pulau. Kehidupan warganya pun sangat bergantung pada cuaca. Jika sedang musim 'Barat', warga pulau ini seolah terpenjara, terkungkung, tak bisa kemana-mana. Hasil bumi yang akan diantarpulaukan, tak jarang menggunung di tepi pantai. Menunggu cuaca kembali bersahabat, menanti kapal yang akan menyeberang. Saking terpencilnya pulau ini, dengan nada bercanda, dulu kerap muncul omongan: Dimana itu Pulau Selayar? Apakah ada dalam peta? 

Saat ini, selain kapal ferry milik ASDP yang menjadi jembatan lintas pulau, ada dua kapal ferry lain yang juga melayani rute ini. Salah satunya KM Lestari Maju. KM Lestari Maju ini pun sebetulnya sudah cukup uzur mengarungi samudera. Mantan nakhoda kapal ini, menyebut kapal itu buatan 1989. Spesifikasi awalnya adalah kapal roro yang kemudian menjadi kapal penumpang.

Peringatan kepada warga Selayar untuk hati-hati menaiki KM Lestari Maju ini, bahkan pernah disampaikan sang mantan kapten kapal itu, tiga bulan lalu. Peristiwa bocornya lambung kapal, Selasa (3/7), seolah jadi petunjuk agar kapal ini dipensiunkan. Sayangnya, mengapa dengan cara seperti ini, sampai harus menyisakan duka mendalam di perairan Selayar?

Saya jadi teringat, kawan saya, putra asli Selayar yang menyebut memang, sudah lama sekali orang Selayar mengalami kesulitan. Namun kesulitan itu, seharusnya dicarikan kemudahan dan bukan justru menorehkan duka.

Seiring dengan makin berkembang dan bertumbuhnya penduduk Pulau Selayar, namun kemampuan keuangan daerah yang masih terbatas, sebetulnya pengelolaan Pelabuhan Pamatata, Selayar, layak dikelola oleh pusat. Ini agar bisa diupayakan kapal penyeberangan yang lebih besar, lebih nyaman dan aman buat penumpang. Bukan mempertahankan kapal-kapal yang sudah layak dibesituakan.

Sudah lama sekali orang Selayar mengalami kesulitan. Namun mereka tetap pasrah menerima moda transportasi laut meski kondisinya memprihatinkan. Kini, pilihan naik pesawat memang sudah ada. Namun tak semua warga sanggup membeli tiketnya. Karenanya, lagi-lagi, penyeberangan ferry tetap menjadi idola.

Kawan saya bercerita, bahagia dirasakan saat berhasil mengejar ferry pertama yang bisa mengantar mereka menuntaskan rindu, menjalankan tugas, mencari nafkah, atau demi apapun tuntutan duniawi. Saling berdesakan, terhimpit-himpit, demi memburu kursi kosong harus dilakukan. Jika tak kebagian, pilihannya adalah melantai tanpa alas atau kembali ke mobil. Tapi mereka tetap bahagia dan bersabar. Toh, dalam waktu sekitar dua jam, daratan Selayar akan terhampar di depan mata.

Jadi, kalau sudah lama sekali orang-orang Selayar mengalami kesulitan, saatnyalah mengeluarkan mereka dari kesulitan itu. Ikhlaskanlah besi tua itu dengan segala kenangannya. Semoga ini yang terakhir, dan ada sentuhan tangan penguasa yang lebih arif dan bijak di penyeberangan Bira-Pamatata.

*) Penulis adalah redaktur republika.co.id

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES