Senin, 14 Muharram 1440 / 24 September 2018

Senin, 14 Muharram 1440 / 24 September 2018

TNI Membangun Kekuatan Ketiga

Kamis 05 Juli 2018 07:00 WIB

Red: Agus Yulianto

Prajurit TNI melakukan yel-yel di sela-sela Bhineka Eka Bhakti TNI di Bhumi Marinir Karangpilang, Surabaya, Jawa Timur, Rabu (27/6).

Prajurit TNI melakukan yel-yel di sela-sela Bhineka Eka Bhakti TNI di Bhumi Marinir Karangpilang, Surabaya, Jawa Timur, Rabu (27/6).

Foto: Antara
Selama ini penempatan prajurit TNI lebih banyak dipusatkan di bagian Indonesia barat.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Erik Purnama Putra, Wartawan Republika

 

Potensi ancaman terhadap kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) membuat organisasi Tentara Nasional Indonesia (TNI) bergerak mengikuti zaman. Menyadari betapa pentingnya menjaga wilayah Indonesia dari Sabang sampai Merauke maka pimpinan TNI merancang struktur organisasi sifat militer yang dinamis. Karena itu, kekuatan TNI kini dilakukan pemekaran agar tidak menumpuk di satu titik dan terkesan Jawa centris.

Kalau selama ini penempatan prajurit TNI lebih banyak dipusatkan di bagian Indonesia barat, khususnya Pulau Jawa maka kondisi itu coba ditata ulang. Tidak mengherankan apabila tiga matra TNI melakukan konsolidasi dengan melakukan reorganisasi melalui pembentukan struktur baru yang kekuatannya dipusatkan di Indonesia timur. Pembentukan empat satuan itu baru tertuang dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 10 Tahun 2010 dan Perpres Nomor 62 Tahun 2016.

Hal itu setelah Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto memenuhi janjinya terkait program prioritas dalam 100 hari masa kerjanya sejak dilantik menjadi TNI 1 menggantikan Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo pada 9 Desember 2017. Salah satu program prioritas pembangunan TNI yang dilakukannya adalah dengan meresmikan pembentukan tiga satuan komando baru bagi TNI Angkatan Darat (AD), Angkatan Laut (AL), dan Angkatan Udara (AU), bertempat di Sorong, Papua Barat pada 11 Mei 2018.

Hadi mengesahkan berdirinya Divisi Infanteri (Divif) 3/Kostrad untuk matra AD yang berpusat di Makassar, dan akan menyusul berdirinya Brigade Infateri (Brigif) sebagai penopang organisasi. Adapun kekuatan AL resmi diperkuat Komando Armada (Koarmada) III dan Pasukan Marinir (Pasmar) 3 yang bermarkas di Sorong, serta matra AU diperkuat Komando Operasi AU (Koopsau) III yang bermarkas di Biak.

Mengacu hal itu, mekanisme gelar pasukan ke depannya bakal berubah. Pun dengan operasi tidak hanya bertumpu kekuatan TNI di Pulau Jawa. Kondisi itu merupakan imbas dari implementasi Rencana Strategi II (2014-2019) demi mewujudkan kekuatan pertahanan yang profesional dan disegani di kawasan.

Pemerataan kekuatan

Sekarang TNI AD memiliki tiga Divif Kostrad, yang terdiri Divif 1/Kostrad bermarkas di Cilodong, Kota Depok; Divif 2/Kostrad bermarkas di Singosari, Kabupaten Malang, serta Divif 3/Kostrad berpusat di Kota Makassar. Itu belum termasuk pembentukan tiga Brigif baru yang pastinya membutuhkan ribuan prajurit prajurit berkualifikasi Para Raider. Semua markas itu pasti dibangun tersebar di wilayah Indonesia timur.

Sementara Koarmada III dan Pasmar 3 bermarkas di Sorong maka Koarmada I dan Pasmar 1 yang berada di Jakarta akan ditugaskan mengawal perairan Indonesia bagian barat. Sedangkan Koarmada II dan Pasmar 2 yang berada di Surabaya akan menjaga perairan Indonesia tengah. Selama ini, Koarmada II (sebelumnya bernama Komando Armada Timur) menjaga perairan Laut Jawa bagian tengah hingga perbatasan Papua Nugini, yang wilayahnya terlalu luas. Dengan struktur yang baru maka keberadaan Koarmada III dapat membantu Koarmada II dalam menjaga wilayah lautan yang luasnya dua kali daratan Indonesia.

Adapun Koopsau III yang berpusat di Biak bakal mendapat tugas menjaga wilayah udara mulai Provinsi NTT dan Maluku hingga Papua. Tanggung jawab Koopsau II yang bermarkas di Makassar kini 'lebih ringan' karena wilayah yang dijaga berkurang cukup signifikan, dengan hanya meliputi sebagian Jawa hingga NTB plus Pulau Kalimantan, tidak termasuk Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) hingga Sulawesi. Sementara itu, Koopsau I yang bermarkas di Ibu Kota dibebani menjaga wilayah Sumatra hingga Jawa Tengah bagian barat, serta Kalbar. Yang tak boleh dilupakan, keberadaan Koopsau III juga akan diperkuat Korps Pasukan Khas (Paskhas) yang bertugas mengamankan bandara dan instansi vital lainnya.

Keputusan pembentukan organisasi ketiga bagi tiga matra TNI itu jelas tepat. Saat ini, gangguan keamanan dan ancaman yang muncul tidak hanya berada di bagian barat Indonesia saja. Berbagai gangguan yang cenderung meningkat di kawasan Asia Pasifik dipastikan berimbas pada Indonesia juga. Dengan kata lain, digesernya kekuatan TNI ke wilayah timur membuat wilayah yang selama ini seolah kurang diperhatikan kini memiliki armada baru yang siap menjaga setiap titik rawan ancaman.

Dengan berdirinya organisasi baru secara bersamaan, diharapkan nantinya tercipta sistem operasi Tri Matra terpadu. Pun kekuatan TNI yang selama ini terkonsentrasi di bagian barat bisa mulai didistribusikan agar bisa mengkover semua wilayah dengan baik. Karena kalau semua unsur kekuatan TNI dilakukan pemerataan maka ketika gelar pasukan dapat dilakukan dengan lebih cepat dan efisien. 

Misalnya, ada kebutuhan tambahan pasukan di provinsi bagian timur Indonesia, nantinya cukup disuplai dari markas di Sorong atau Makassar. Karena kalau mengandalkan bantuan dari Jawa, perlu waktu lama dan membutuhkan biaya besar dalam upaya memindahkan pasukan. Alhasil, ketika dilakukan patroli laut maupun udara, kapal perang (KRI) atau pesawat tempur dapat langsung dikerahkan segera dari lokasi pangkalan dan bandara terdekat. Kabar baiknya tentu saja segala ancaman maupun gangguan yang muncul bisa dideteksi sejak dini dan ditangkal lebih cepat.

Deterrent effect

Tentu saja perubahan organisasi TNI tidak semata ditujukan hanya untuk melayani kebutuhan internal semata. Ada satu pesan yang ingin disampaikan TNI selaku garda terdepan penjaga setia kedaulatan negara, yaitu juga ingin menunjukkan kekuatan aslinya kepada negara tetangga. Hal itu sekaligus juga untuk meningkatkan //deterrent effect// alias daya gentar TNI di tengah belum turunnya eskalasi konflik Laut Cina Selatan maupun isu kemerdekaan Papua.

Sebagaimana diketahui, tiga matra TNI terus meningkatkan kemampuan dalam unjuk kekuatan dengan hadirnya alat utama sistem senjata (alutsista) yang baru, sesuai dengan Renstra I (2009-2014), Renstra II (2014-2019), dan Resntra II (2019-2024) hingga tercapai //essential minimum force// (MEF) atau kekuatan pokok minimum pada 2024 mendatang.

Sebagai contohnya, TNI AD sudah memiliki 61 unit MBT Leopard dan terbaru diperkuat delapan heli serang AH-64E Apache. Dua jenis armada yang belum lama ini tiba di Indonesia itu merupakan yang tercanggih di kelasnya dan bisa mendukung pergerakan prajurit matra darat dalam menjalankan operasi khusus.

Berikutnya, TNI AL diperkuat berbagai KRI terbaru berbagai jenis, termasuk hadirnya dua kapal selam terbaru, yaitu KRI Ardadedali-404 dan KRI Nagasapa-403 buatan Korea Selatan. Satu kapal selam lagi sedang dirakit di PT PAL Surabaya dan diperkirakan selesai dibuat dan diluncurkan pada 2019. Dengan kata lain, TNI AL yang sudah mempunyai empat kapal selama bisa menjadi lima kapal selam pada tahun depan.

Berbeda dengan dua matra di atas, penambahan alutsista terbaru TNI AU terbilang paling terlambat. Kementerian Pertahanan (Kemenhan) telah memastikan menekan kontrak pembelian 11 unit Sukhoi SU-35 untuk menggantikan pesawat F-5 Tiger, yang sudah di-//grounded// sejak April 2018. Diperkirakan, Sukhoi dengan teknologi generasi 4,5 ini baru datang pada 2019. Rencana mendatangkan Hercules tipe J untuk memperkuat armada pesawat angkut kelas berat juga terus dimatangkan. Sehingga matra AU harus lebih bersabar dalam menanti hadirnya pesawat yang akan digunakan dalam mengamankan wilayah udara RI yang kadang juga digunakan untuk menunjang misi kemanusiaan itu. 

Meski begitu, TNI AU tidak perlu berkecil hati terlebih dahulu. Hal itu lantaran mereka sebelumnya sudah diperkuat jet hibah dari Amerika Serikat (AS), yaitu 24 unit F16 Block 52ID. Satu skadron Sukhoi SU-30 MK2 dan SU-27SK yang bermarkas di Lanud Hasanuddin juga masih dapat diandalkan untuk patroli menjaga kedaulatan udara NKRI. Belum lagi, sebelumnya TNI AU juga kedatangan 16 unit Super Tocano TT 3108 bermesin turboprop yang keberadaannya bisa mendukung operasi jet tempur Sukhoi dan F16.

Kesemua profil alutsista baru itu pasti ditata ulang agar tidak menumpuk di satu satuan tertentu. Dengan adanya Divisi 3/Kostrad, Koarmada III, dan Koopsau III, tentu saja membuat distribusi senjata mengikuti personel yang mengisi markas masing-masing. Sehingga menjadi sebuah keniscayaan TNI masih membutuhkan berbagai alutsista baru untuk menggantikan yang sudah tua demi meningkatkan moral prajurit dalam bertugas.

Melihat profil kekuatan terkini TNI, jelas daya gentar yang dimiliki bisa menjadi pesan ke negara kawasan untuk tidak lagi main-main, bahkan memandang remeh Indonesia. Dengan peremajaan dan berbagai tambahan alutsista baru maka berdampak pada naiknya kekuatan TNI yang disegani. Bahkan, bukan tidak mungkin keberadaan berbagai alat perang yang menunjang operasi TNI itu akan dianggap menakutkan.

Namun, sebagai negara yang menganut doktrin defensif aktif dan preventif aktif maka TNI tidak akan menggunakan alutsista itu untuk mengagresi negara tetangga. TNI hanya ingin menjadi institusi yang disegani dengan memiliki kekuatan militer mengesankan dalam menunjang tegaknya kedaulatan NKRI. Satu yang pasti, keberadaan TNI meningkatnya alutsista ditujukan untuk menjaga stabilitas negara. 

Karena kalau Indonesia aman dan damai maka pembangunan bisa dilakukan dan kesejahtaran rakyat dapat diciptakan. Kondisi itu hanya terwujud kalau TNI tetap setia mengabdi kepada negara dan tidak lengah sedikit pun terhadap segala bentuk ancaman yang datang, baik dari dalam maupun luar. Bravo TNI!

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES