Tuesday, 5 Syawwal 1439 / 19 June 2018

Tuesday, 5 Syawwal 1439 / 19 June 2018

Piala Dunia 2018, Mimpi, dan Antusiasme Warga Kita

Rabu 13 June 2018 09:13 WIB

Red: Endro Yuwanto

Endro Yuwanto

Endro Yuwanto

Foto: Republika/Daan Yahya
Kita tak akan pernah maju jika selalu mendasarkan diri pada kebanggaan masa lalu.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Endro Yuwanto *)

 

Piala Dunia adalah gelaran sepak bola terbesar di dunia, tidak terkecuali bagi penggemar si kulit bundar di Indonesia. Negara ini merupakan kandang bagi lebih dari 150 juta fan sepak bola.

Sangat wajar, lantaran sepak bola merupakan olah raga terpopuler di negeri berpenduduk mayoritas Muslim ini. Tak ada waktu yang lebih baik bagi penggemar sepak bola di Indonesia karena pembukaan Piala Dunia pada 14 Juni 2018 antara tuan rumah Rusia menghadapi Arab Saudi jatuh di malam takbiran menjelang hari raya umat Islam, Hari Raya Idul Fitri atau Lebaran.

Pada Piala Dunia 2014 Brasil lalu, Indonesia menjadi negara pertama dengan rating tertinggi yang menyiarkan Piala Dunia, rata-rata 120 hingga 150 juta penonton. Bahkan laga final antara Jerman kontra Argentina disaksikan 195 juta penonton secara akumulatif.

Nantinya, Trans TV dan Trans 7 berstatus sebagai Licensed Broadcaster Television Piala Dunia 2018. Sementara, Transvision berstatus sebagai Licensed Satellite Television untuk Piala Dunia 2018. Selama kurang lebih satu bulan, ada 32 negara yang bersaing untuk menjadi juara.

Piala Dunia 2018 tentu akan menyedot perhatian besar penikmat sepak bola Indonesia. Apalagi jam kick-off pertandingan sangat bersahabat dengan warga Indonesia. Pasalnya, banyak pertandingan kick-off di waktu prime time. Seluruh pertandingan fase grup akan kick-off bervariasi, yakni pukul 17.00 WIB, 20.00 WIB, 21.00 WIB, 22.00 WIB, dan 01.00 WIB.

Bisa jadi dengan jam tayang seperti itu, seluruh sudut kepulauan di Indonesia bisa menyaksikan pesta sepak bola di Rusia itu. Rekor negara pertama dengan rating tertinggi yang menyiarkan Piala Dunia yakni rata-rata 120 hingga 150 juta penonton pada 2014, bisa saja terpecahkan kembali di Indonesia.

photo

Trofi Piala Dunia

Memang sejak jauh-jauh hari antusiasme warga Indonesia menyambut Piala Dunia 2018 begitu tinggi. Sampai-sampai Presiden Republik Indonesia Joko Widodo meminta agar warga tak melupakan perhelatan Asian Games 2018 yang akan digelar di negeri sendiri. Sejak awal tahun ini, Presiden merasa gaung Asian Games 2018 kalah dengan Piala Dunia 2018.

Kondisi seperti ini adalah ironi. Meski ratusan juta penggemar sepak bola ada di Indonesia, meski telah berpuluh-puluh tahun terlewati, Indonesia masih saja bermimpi memiliki tim nasional (timnas) sepak bola yang kuat dan disegani di level internasional. Bagi sebagian kalangan pencinta sepak bola di Tanah Air, mimpi-mimpi berbicara di tingkat dunia itu seakan menjelma menjadi sebuah mimpi buruk yang terus saja berulang.

Kondisi ironis ini menimbulkan kegetiran tersendiri. Padahal, sejak lama Indonesia berkoar-koar sebagai negara Asia pertama yang menembus putaran final Piala Dunia. Ketika masih dalam masa penjajahan Belanda, Indonesia memang sempat tampil di Piala Dunia 1938 Prancis dengan menggunakan nama "Hindia Belanda".

Tapi, itu dulu. Sepak bola Indonesia tak akan pernah maju jika selalu mendasarkan diri pada kebanggaan masa lalu. Tentu kita sudah bosan mendengar cerita keberhasilan Ramang dan rekan-rekannya yang menahan imbang 0-0 Uni Soviet di Olimpiade Melbourne 1956. Atau kisah sedih saat kita tinggal selangkah lagi menuju Olimpiade Montreal Kanada 1976.

Sudah menjadi rahasia umum sepak bola adalah olahraga paling digandrungi sedunia, termasuk di Indonesia. Kompetisi sepak bola dalam negeri pun sudah berjalan bertahun-tahun dan jumlah pendukung olahraga ini terus bertambah. Ada masalah di sana-sini, terutama soal manajemen liga dan internal PSSI. Namun, semua itu tak pernah mengendurkan semangat olahraga ini untuk terus berkembang di Indonesia.

photo

Suporter timnas Indonesia menyanyikan lagu Indonesia Raya saat laga persahabatan melawan Fiji di Stadion Patriot Chandrabaga, Bekasi (ilustrasi)

Buktinya, setiap laga timnas Indonesia, tribun-tribun penonton tak pernah sepi. Pun, ketika skuat Garuda--dan ini kerap terjadi--tak memiliki kesempatan menikmati kemenangan, pendukung timnas tetap setia mendukung tim kebanggaannya berlaga. Pun ketika persiapan timnas Indonesia ke Asian Games 2018 masih jauh dari memuaskan. Para pendukung itu seperti tak lelah bermimpi menanti kejayaan sepak bola negeri sendiri.

Mimpi-mimpi itu terus terpupuk saat era Ricky Yakobi dan rekan-rekannya memperkuat timnas. Tentu masih banyak yang mengingat saat Ricky dan rekan-rekan mampu menahan klub elite Belanda PSV Eindhoven, 3-3, dalam laga uji coba di Jakarta pada 14 Juni 1987 silam. Kala itu PSV diperkuat calon pemain bintang AC Milan dan Belanda, Ruud Gullit.

Pada tahun yang sama, Indonesia mampu menjuarai Piala Kemerdekaan dengan menundukkan tim kuat Aljazair di final. Dan, kemudian berlanjut menjadi juara SEA Games 1987 dan SEA Games 1991. Setahun sebelumnya, skuat Garuda juga mampu menembus semifinal Asian Games X Seoul Korsel 1986. Indonesia pun hampir lolos ke putaran final Piala Dunia 1986 Meksiko. Nyaris...

Akan tetapi, sejak itu, mimpi itu seolah enggan membumi. Kita harus kembali bermimpi, melayang-layang tak tentu arah, dan berangan-angan melihat timnas Indonesia disegani di dunia. Mimpi yang harus terus membuai kita hingga puluhan tahun. Mimpi-mimpi panjang yang melebihi tumbuh kembang seorang anak yang baru mengenyam pendidikan usia dini hingga ia memiliki anak dan istri. Kita pun terus saja bermimpi.

Mimpi-mimpi itu sempat menjelma menjadi asa agar terealisasi prestasi di era Kurniawan Dwi Yulianto dan rekan-rekannya yang menimba ilmu di Primavera Italia. Kurniawan dan beberapa rekannya juga menjadi pionir para pesepak bola Indonesia yang merumput di liga-liga Eropa. Namun, kehadiran Kurniawan tetap tak mampu menjadikan mimpi-mimpi pencinta sepak bola di Tanah Air yang ingin melihat prestasi tinggi timnas terealisasi.

Jika dirunut agak ke belakang, muara kegagalan timnas Indonesia selama ini sebenarnya bisa dikatakan akibat mutu atau kualitas klub dan kompetisi di Indonesia yang jauh dari standar. Entah apa pula yang terjadi dengan pembinaan sepak bola di Indonesia. Berbagai proyek pembinaan usia dini yang dirintis sejak bertahun-tahun silam belum juga membuahkan hasil memuaskan. Akibatnya, jangankan di level dunia dan Asia, di level Asia Tenggara pun Indonesia semakin tertatih-tatih.

Sebenarnya, tak ada salahnya memiliki mimpi setinggi mungkin asal kita bisa mengubahnya menjadi sebuah hasrat dan komitmen yang kuat untuk menggapainya. Namun, untuk sepak bola Indonesia, meski antusiasme warga terhadap sepak bola begitu tinggi, sepertinya kita harus banyak-banyak bersabar dan terus bermimpi. Entah sampai kapan.

 

*) Jurnalis Olahraga Republika Online

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES