Tuesday, 16 Jumadil Awwal 1440 / 22 January 2019

Tuesday, 16 Jumadil Awwal 1440 / 22 January 2019

Dilema Perempuan di Tengah Kapitalisme

Rabu 26 Dec 2012 12:40 WIB

Red: Miftahul Falah

Dilema perempuan (ilustrasi)

Dilema perempuan (ilustrasi)

Foto: Fatimah Azzahra

Mengerikan, rata-rata setiap 6 hari seorang perempuan di Kanada dibunuh oleh pasangannya. Hanya dalam waktu satu tahun, di Kanada 427.000 perempuan yang berusia di atas 15 tahun melaporkan bahwa mereka telah mengalami pelecehan seksual. Pada tanggal 1 Oktober 2000, Belanda telah melegalisasi prostitusi sebagai bentuk penjagaan pemerintah terhadap perempuan dari kekerasan dan kriminalitas.

Sementara di Indonesia, 7,5 juta perempuan Indonesia menjadi tulang punggung keluarga karena kemiskinan. Lebih dari 2,5 juta menjadi TKW meninggalkan keluarga mereka, padahal ancaman kekerasan bahkan pembunuhan berada di depan mata.

Sebagian besar orang beranggapan, bahwa perempuan yang tinggal di Barat hidup dalam kemewahan. Tayangan dari sebuah stasiun TV Inggris mengungkapkan hal yang sebaliknya. Seorang ibu yang meskipun terus bekerja, penghasilannya tetap saja tidak cukup untuk membayar berbagai tagihan, termasuk untuk menutup tagihan makanan untuk seluruh minggu. Sehingga, anak-anaknya pun terpaksa memakan makanan kaleng.

Kondisi yang sama dirasakan perempuan di seluruh belahan dunia. Betapa kemiskinan, pelecehan, penindasan, dan eksploitasi menghimpit kaum perempuan dimanapun ia berada.

Hal ini terjadi tidak lepas dari sistem yang diemban dan diterapkan di berbagai negera. Sistem Kapitalisme sebagai sistem yang diterapkan oleh kebanyakan negara di dunia, termasuk Indonesia, memiliki cara pandang yang khas dan akan mempengaruhi kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah.

Saat ini, perempuan diperlakukan dan dipandang sebagai komoditas dan "mesin pencetak" uang. Oleh karena itu, tidak heran kini kasus trafficking serta pelecehan perempuan kian marak.

Sistem kapitalisme pun memelihara kondisi lingkungan materialistik dan konsumtif agar sistem ini tetap bertahan, salah satunya dengan meluncurkan gempuran serangan propaganda yang mendukung sistem melalui berbagai media. Contoh kasus kecil, perempuan Indonesia yang notabene memiliki kulit berwarna kuning langsat diserbu dengan propaganda bahwa cantik itu berkulit putih. Maka, berlomba-lombalah wanita Indonesia membeli produk-produk pemutih kulit.

Padahal, jika dianalisis lebih jauh sebenarnya kulit orang di Asia, termasuk Indonesia yang terlewati garis khatulistiwa, lebih sehat dan cantik karena paparan sinar matahari yang cukup. Tidak seperti kulit orang Eropa yang cenderung putih pucat karena kurang paparan sinar matahari.

Untuk dapat membeli produk pemutih kulit tersebut tentu perlu uang. Sehingga, para perempuan pun tidak sedikit yang bekerja untuk membeli berbagai barang dan jasa yang telah dipropagandakan oleh para kapitalis. Inilah cara para kapitalis membuat orang terbius propaganda dan akhirnya membentuk kondisi lingkungan yang materialistik di samping konsumtif. 

Kapitalisme pun membuat kemolekan tubuh dan kecantikan perempuan dijadikan aset iklan, model, film, video porno, penghibur, maupun pekerja seks yang dapat menyumbangkan pajak yang besar bagi negara. Kapitalisme terus berusaha untuk mengeksploitasi waktu, tenaga, pikiran, dan tubuh perempuan menjadi uang. Apapun dilakukan untuk menghasilkan dan mendapatkan uang. Kian tumbuh suburlah materialis di dunia.

Standar kebahagiaan pun dikondisikan, agar semua orang mengartikan bahagia itu jika mempunyai banyak uang, gelar, kedudukan yang tinggi, dan hal lain yang berstandar pada materi. Sekilas hal ini mungkin terkesan biasa, namun di balik manisnya propaganda para kapitalis ternyata ada dampak bagi para perempuan, anak-anak, keluarga dan masyarakat.

Perempuan akan semakin banyak yang meninggalkan keluarganya untuk bekerja, baik dalam keadaan terpaksa maupun sukarela. Semakin banyak anak-anak yang kurang mendapat perhatian dan kasih sayang orang tua, sehingga akan semakin marak pula kenakalan anak-anak atau remaja dari mulai berbohong hingga terjerumus dalam kriminalitas serta pergaulan bebas. Angka perceraian pun semakin meningkat karena timbulnya konflik, salah satunya penghasilan istri yang lebih besar dibandingkan suaminya.

Sayangnya, pemerintah di negeri-negeri muslim, termasuk Indonesia justru terkesan mengabaikan fenomena yang menimpa perempuan di dunia ini. Pemerintah bahkan mendukung kondisi yang mendzalimi perempuan ini dengan membiarkan perusahaan-perusahaan mengeksploitasi pekerjanya, melegalisasi prostitusi sebagai jalan untuk pemberdayaan ekonomi perempuan.

Pemerintah sering membanggakan pendapatan yang masuk dari buruh migran perempuan, dan berpendapat bahwa hal ini akan berkontribusi positif bagi pertumbuhan ekonomi negara. Meskipun, pendapatan negara ini banyak dinodai dengan penganiayaan dan kekerasan terhadap kaum perempuan. Pemerintah memperlakukan rakyatnya sebagai sumber pendapatan negara, bertransaksi dengan rakyat sebagai regulator semata, bukan sebagai pelindung, pengayom, dan penanggung jawab nasib setiap individu warga negaranya.

Di Belanda, sejak tahun 2000 pemerintahnya melegalkan prostitusi sebagai bentuk perlindungan terhadap perempuan dari kekerasan dan kriminalitas. Di sisi lain, mereka memandang perempuan yang menutup auratnya sebagai pihak yang tidak memberikan keuntungan bagi pemerintah. Mereka pun dilarang untuk mengenyam pendidikan, mendapatkan pelayanan kesehatan, bahkan berada di tempat umum. Inilah bentuk perlindungan kapitalisme, masihkah berharap padanya?

Dengan mengemban sistem kapitalisme, pemerintah membatasi pembagian kekayaan dan sumber daya. Karena dalam sistem kapitalisme, hanya para kapitalislah yang dapat menguasai kekayaan dan sumber daya alam. Sehingga tidak aneh, jika kini yang kaya akan semakin kaya dan yang miskin akan semakin miskin. Semakin lebarlah jurang pemisah antara si kaya dengan si miskin.

Sebagai makhluk beragama, sudah sepatutnya berkaca dan bertanya bagaimana agama memandang permasalahan di dunia ini, termasuk permasalahan perempuan ini. Islam merupakan satu-satunya agama dan sistem yang mempunyai solusi tuntas atas permasalahan ini, karena ia berasal dari Tuhan yang menciptakan manusia beserta alam semesta ini.

Allah yang sayang kepada hamba-Nya memberikan petunjuk agar selamat di dunia dan akhirat. Petunjuk itu bisa didapat dari Alquran dan Sunnah Rasulullah Saw.

Islam memuliakan perempuan di tengah penghinaan terhadap perempuan. Islam memerintahkan manusia untuk menghormati ibu (perempuan) tiga kali lebih dulu dibandingkan ayah. Melalui lisan Rasulullah Saw, diterangkan bahwa perempuan yang taat kepada suami, pahalanya menyamai orang yang berjihad di jalan Allah. Ketaatan ini bukanlah ketaatan "buta", tapi dengan dilandasi menaati perintah Allah dan keyakinan dalam memenuhi perintah Allah pasti ada jaminan kebaikan dan pahala dari Allah SWT. Dalam riwayat yang lain disampaikan, barang siapa yang diamanati oleh Allah seorang putri, dan dididik secara baik, maka ia mendapat jaminan surga. Islam pun memuji perempuan sholehah sebagai sebaik-baiknya perhiasan dunia.

Peran perempuan di keluarga, masyarakat, bahkan bernegara sangat besar dan berpengaruh. Terutama dalam mendidik anak yang merupakan jembatan masa depan, penentu masa depan dunia. Peran perempuan, terutama ibu sangat menentukan kualitas generasi selanjutnya.

Islam tidak mewajibkan perempuan untuk bekerja, dan tidak pula ada larangan dalam Islam bagi perempuan untuk bekerja. Hanya saja, kini perempuan yang bekerja identik sebagai "alat komoditi" yang justru menguntungkan pihak kapitalis.

Hendaknya perempuan karir berpikir kembali untuk apa sebenarnya mereka bekerja, adakah penyusupan niat meraih prestige. Islam mengizinkan perempuan bekerja, namun tidak dalam kondisi perbudakan, penghinaan, dan penindasan seperti sekarang. Melainkan, dalam kondisi yang terjamin keamanan dan bermartabat sehingga statusnya di masyarakat pun senantiasa terjaga. Inilah bentuk penjagaan Islam terhadap perempuan.

Kebutuhan finansial biasa dijadikan alasan bagi perempuan untuk ikut terjun ke dunia kerja. Islam yang sempurna, mengatur agar kebutuhan finansial setiap individu warganya terpenuhi, termasuk perempuan. Islam yang diterapkan dalam naungan institusi negara, Khilafah, menjamin kebutuhan pokok warganya, mengatur kepemilikan di tengah umatnya, menyediakan lapangan pekerjaan, dan menyediakan layanan pendidikan.

Islam memberikan kewajiban untuk mencari nafkah pada kaum pria, bukan perempuan. Islam juga memberikan kewajiban bagi kerabat dekat untuk membantu saudaranya yang kekurangan. Jika kerabat dekatnya juga tidak mampu untuk membantu, maka negara berkewajiban untuk membantu rakyat miskin dengan memberikan zakat. Islam pun mewajibkan semua kaum muslim untuk membantu orang-orang miskin.

Khilafah berkewajiban untuk menyediakan lapangan pekerjaan bagi rakyatnya. Hal ini pernah dicontohkan oleh baginda Rasulullah Saw yang memberikan uang kepada peminta-minta dengan pesan untuk menggunakan sebagian uang tersebut untuk membeli kapak. Kapak ini digunakan oleh sang peminta-minta untuk bekerja mencari kayu bakar dan menjualnya.

Khilafah pun memperbolehkan warganya mengelola tanah untuk memenuhi kebutuhannya. Di samping itu, Khilafah berkewajiban untuk menyediakan layanan pendidikan. Tercatat dalam sejarah, Rasulullah Saw menjadikan pelajaran baca tulis sebagai tebusan tawanan perang Badar. Hal ini mengindikasikan bahwa negara memang berkewajiban untuk memberikan layanan pendidikan yang terjangkau untuk mencerdaskan warganya.

Islam mengatur kepemilikan di antara manusia untuk pendistribusian kekayaan yang telah Allah anugerahkan. Sehingga tidak akan ada monopoli kekayaan oleh segelintir orang. Melalui pengaturan kepemilikan ini, dana untuk penyediaan lapangan pekerjaan, pelayanan pendidikan, dan pemenuhan kebutuhan primer warga negara pun bukan lagi impian.

Wallahu’alam bish shawab.

Fatimah Azzahra

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA