Tuesday, 14 Zulhijjah 1441 / 04 August 2020

Tuesday, 14 Zulhijjah 1441 / 04 August 2020

Si Buah Hati

Senin 27 Feb 2012 15:53 WIB

Red: Miftahul Falah

Si Buah Hati (Ilustrasi)

Si Buah Hati (Ilustrasi)

Siapa yang tak cinta dengan anak? Demi mereka, kita sebagai orangtua siap melakukan apa saja untuk kebahagiaan dan kegembiraan si buah hati. Anak menjadi pelipur lara di kala galau dan sedih. Sepenat apapun diri kita, apabila melihat "si kecil", maka akan hilang semua kepenatan yang ada pada raga ini. Sebaliknya, jika permata hati sedang mengalami gangguan kesehatan, aduh hati ini menjadi sedih dan pilu melihatnya. Bahkan, kalau bisa biarlah kita yang merasakan derita itu asalkan buah hati kita sembuh. 

Itulah  besarnya perhatian dan kasih sayang untuk anak-anak kita. Senakal dan sebandel apapun mereka tetap saja tak mengurangi kasih sayang kita kepada mereka. Mereka adalah mahluk kecil yang seringkali mencuri sebagian besar perhatian kita.

Setiap kita sebagai orangtua, tentulah mempunyai obsesi dan harapan untuk anak di masa depan. Karakter serta sifat anak biasanya tak jauh dari kreativitas, kemampuan serta kebiasaan kedua orangtuanya. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya, atau Like Father Like Son. Ada anak umur lima tahun lihai memainkan drum, pasti orang tuanya seorang drummer. Ada juga yang pandai olah vokal, ya sudah dapat dipastikan orangtuanya seorang penyanyi. Ada juga yang masih ingusan sudah pandai main sulap, sudah diduga karena ayahnya seorang pesulap. 

Dari berbagai aktivitas serta keahlian anak yang diturunkan dari orangtuanya, ada satu bapak yang menarik perhatian saya. Bapak ini mempunyai tiga orang anak laki-laki yang masih kecil. Yang menjadi perhatian saya adalah, setiap waktu sholat Shubuh tiba, ketiga anaknya selalu dibawa ke masjid. Dan ini bukan sekali atau dua kali, tapi setiap hari. Sampai ada orang lain iba melihat anak-anak yang masih ngantuk sudah harus bangun pagi dan pergi ke masjid. 

Bapak itu memang mempunyai alasan dan pendirian yang luar biasa. “Saya hanya ingin memperkenalkan kepada anak saya sedini mungkin tentang kewajiban manusia kepada Tuhannya. Dan jika sudah besar nanti, mereka sudah terbiasa dan mudah untuk menjalani kebiasaan yang baik ini. Biarlah orang lain menilai apapun terhadap diri saya, tapi yang terpenting adalah penilaian Allah terhadap diri saya. Saya bangga mengorbankan anak saya untuk agama, sebagaimana orang lain senang mengorbankan anaknya untuk dunia,” begitulah penjelasan bapak tersebut.

Menanamkan aqidah yang kokoh merupakan tugas utama orangtua. Orangtualah yang akan sangat mempengaruhi tumbuh kembangnya sendi-sendi agama dalam diri si anak. 

Rasulullah Saw. bersabda, "Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Ibu dan bapaknyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi." (HR al-Bukhari)

Memang, memperkenalkan agama sedini mungkin kepada anak merupakan pekerjaan yang memerlukan contoh dan suri teladan. Tentu saja, anak akan lebih mudah memahami serta mengamalkan agama jika dia melihat contoh riil pada orangtuanya.

Orangtua adalah guru sekaligus orang terdekat bagi si anak yang harus menjadi panutan. Karenanya, orangtua dituntut untuk bekerja keras untuk memberikan contoh dalam memelihara ketaatan serta ketekunan dalam beribadah dan beramal sholeh. Insya Allah, dengan begitu, anak akan mudah diingatkan secara sukarela.

Lihatlah contoh dari seorang sahabat wanita di zaman Rasulullah Saw. yang bernama Al Khanza binti Amru. Khanza, seorang ibu yang begitu taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Dia memiliki empat orang anak laki-laki yang gagah berani hasil didikannya di masa kecil. 

Saat kaum muslimin menghadapi peperangan di Al-Qadisiyyah, Sahabiah Khanza mengirimkan putranya yang pertama dalam peperangan tersebut, dan beberapa hari kemudian dia mendapat kabar dari utusan pasukan muslimin, bahwa anaknya yang pertama syahid di medan pertempuran. Namun, tak ada setetes air matapun yang membasahi pipi dari ibunda Khanza, malah dia memanggil putranya yang kedua untuk pergi bersama utusan kaum muslimin turun kemedan perang. 

Tak lama, utusan itupun datang memberi kabar, bahwa putra keduanya pun syahid. Lagi-lagi Khanza pun tak menampakkan kesedihan yang mendalam atas gugurnya anaknya yang kedua. Maka dipanggillah putranya yang ketiga dengan perintah yang sama, untuk membantu kaum muslimin di medan peperangan. 

Nasib yang sama pun menimpa anaknya yang ketiga, yakni mati syahid. Dan dengan suara sedikit gemetar, dia panggil putranya yang keempat. “Nak, bantu perjuangan kakak-kakakmu. Lanjutkan perjuangannya, dan semoga engkau mendapat kemuliaan di sisi Allah,” nasehat Khanza menyemangati untuk putranya yang terakhir.  

Subhanallah, putra keempatnya pun mati di medan pertempuran. Dan menangislah Khanza di hadapan Allah Azza wa Jala, membuat utusan kaum muslimin ini bingung. “Wahai Khanza, ketika anakmu yang pertama syahid, engkau tak meneteskan airmata. Begitupun anak yang kedua dan yang ketiga, engkau tak menangis. Namun, ketika putramu yang keempat gugur, barulah engkau menangis. Apakah anak yang keempat ini sangat istimewa bagimu?” Kata utusan kaum muslimin. “Bagiku, anak yang pertama, kedua dan seterusnya, semuanya istimewa dalam kehidupanku. Yang aku tangisi bukan kematian mereka, tetapi yang kutangisi adalah saya tak memiliki anak lagi yang bisa aku berikan untuk Allah dan Rasul-Nya demi membela agama ini. Dan kematian putra-putraku telah memuliakanku, dan aku berharap kepada Rabb-ku, semoga Dia mengumpulkan diriku bersama mereka di dalam kediaman yang penuh dengan Rahmat-Nya (surga),” jawab Khanza. (Disebutkan dalam Thabaqat Asy-Syafi’i (1/260), Al-Ishabah (7/6/4))

Semoga dengan kisah di atas, kita sebagai orangtua mulai berbenah dan menata kembali untuk kehidupan masa depan anak-anak kita. Tidak ada salahnya mendidik mereka menjadi orang yang pintar serta memiliki keahlian untuk dunia. Namun, alangkah lebih baik jika pintar ilmu dunia dibarengi juga pintar dan ahli dalam ilmu agama. 

Berapa banyak kita sebagai orangtua, begitu risau dan sedih jika hasil ulangan Matematika atau Bahasa Inggris anak kita di bawah nilai lima? Maka, akan kita panggilkan guru privat untuk mereka. Tapi, sedikit sekali orangtua yang risau dan sedih jika anaknya tidak sholat atau tak bisa membaca Al-Qur’an. 

Bahkan, untuk mengisi waktu luang, mereka kita kursuskan musik, teater, drama atau menari yang tak satupun ada kaitannya dengan agama. Dunia sudah penuh dengan orang yang pintar dan kreativitas tinggi. Jika satu Doktor mati, maka seribu Doktor sudah mengantri sebagai penggantinya. Begitupun selebritis, politikus, teknokrat atau pengusaha sudah banyak penggantinya. Tetapi, sangat sedikit orang yang alim dan berakhlak mulia serta paham ilmu agama sebagai pengganti Ulama di zaman yang sudah semakin maju ini.

Saya baru menyadari, kenapa bapak yang memiliki tiga orang anak laki-laki yang masih kecil tersebut, rajin membawa anaknya ke masjid di waktu Shubuh. Kini, setelah anaknya yang pertama berusia 13 tahun, dan yang kedua 10 tahun, ada atau tidak ada orang tuanya, mereka sudah terbiasa sholat lima waktu datang ke masjid. Subhanallah. Tidak ada kata terlambat dalam hidup ini, mari kita ciptakan generasi muda yang berwawasan dunia dan akherat, yang dimulai dari keluarga kita sendiri.

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian bertanggungjawab atas orang yang dipimpinnya. Seorang ‘Amir (penguasa) adalah pemimpin, seorang suami pun pemimpin atas keluarganya, dan istri juga pemimpin bagi rumah suaminya dan anak-anaknya. Setiap kalian adalah pemimpin dan kamu sekalian akan diminta pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya.” [Hadits shahih, diriwayatkan oleh Bukhari (no. 893, 5188, 5200), Muslim (no. 1829), dan Ahmad (II/5, 54-55, 111), dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma]

Semoga dengan tulisan ini, dapat mengingatkan kepada diri saya dan setiap orangtua, bahwasanya anak merupakan titipan yang harus dijaga. Dan “titipan” itu juga harus dikelola sebaik mungkin agar kelak menjadi “aset” yang bermanfaat bagi kehidupan dunia dan akherat. Maka, tidakkah setiap orangtua menginginkan anak-anaknya menjadi anak-anak yang sholeh, agar kelak dapat mendo’akannya ketika tidak ada lagi satupun “simpanan” yang dimilikinya.

“Apabila manusia telah meninggal, maka terputuslah amalnya, kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak sholeh yang mendo’akan kebaikan baginya.” [Hadits shahih, diriwayatkan oleh Muslim (no. 1631), Ahmad (II/372), Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad (no. 38), Abu Dawud (no. 2880), An-Nasa’i (VI/251), Tirmidzi (no. 1376), dan Al-Baihaqi (VI/278) dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu]

Barakallahu Fiikum


Harinya Aburijal



BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA