Friday, 17 Jumadil Akhir 1440 / 22 February 2019

Friday, 17 Jumadil Akhir 1440 / 22 February 2019

Kenangan, Cinta, dan Sejarah di Kota Tua

Ahad 27 Jan 2019 09:06 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

Kenangan, Cinta, dan Sejarah di Kota Tua

Kenangan, Cinta, dan Sejarah di Kota Tua

Foto: Rendra Purnama/Republika
Gdansk, mengingatkan Khalid tentang kenangan dan perjuangannya melintas batas.

REPUBLIKA.CO.ID, Cerpen Oleh: Raidah Athirah

Zofia bersama Khalid berdiri di ujung dermaga kayu di sebuah kota yang mengenalkan mereka pada jejak sejarah. Kota ini bernama Gdansk Polandia. Inilah api semangat pertama yang membawa mereka menjelajah sejarah kota tua di tanah penganut Katolik.

Khalid mengagumi keindahan sungai-sungai jernih karena ini pertama kali ia menjejak di sini. Pantulannya sempurna melahirkan bayangan kembar. Ia pun tak bisa menepis bayang-bayang daun bertebaran menutupi hutan dan taman kota selama akhir musim gugur. Semuanya membentuk kanvas hidup yang memukau. Kini, semua perjalanan itu menetap dalam ingatan.

Khalid Abdullatif, pemuda Suriah ini, hendak mengubur semua kenangan pahit nan berdarah-darah tentang perang yang meluluhlantahkan kota dan cintanya. Kadang, ia berpikir bahwa ia seperti baru keluar dari kuburan. Tidak ada lagi tawa ibu dan kedua adik perempuannya di apartemen yang memiliki dua ruangan. Anak yatim ini selamat ketika bom menutupi seisi kota.

Khalid masih mengingat saat ia melangkah mendekati jendela dan menyi bak kain gorden. Pemandangan yang ia dapati membuatnya hanya bisa menutup mulut setelah sebuah sedan yang dirasuki setan memuntahkan peluru api ke seantero jalanan. Tetangganya, laki-laki tua yang memaki marah kepada pemerintah karena damai tak kunjung tiba, tewas seketika. Dia adalah Alawite yang sudah kadung kesal kepada penguasa yang semena-mena.

Ujian pemuda ini sungguh berat. Ia bercita-cita ingin menjadi dokter agar bisa mengobati manusia, apa pun agamanya. Namun, hari-harinya dipenuhi ujian menyaksikan keluarga yang tewas dan ribuan orang terbunuh. Zofia menghapus air mata Khalid. Ia paham suaminya masih terperangkap dalam memori yang penuh luka.

"Aku baik-baik saja, habibati (kekasihku)," Khalid menghapus tetesan bening itu dari bola matanya agar timbul senyum di bibir istrinya.

"Tidak, hidungmu merah karena sedih." Zofia membalas ucapan Khalid dengan nada serius .

"Oh, hidungku merah karena dingin. Kau lihat ini", Khalid menunjuk hidung mancungnya yang memerah sambil sesekali menggoda Zofia. Pengantin itu berharap, dalam suatu masa, Allah Tuhan Mahapemberi rezeki mengizinkan kaki mereka kembali bersama orang-orang tercinta menjejak rindu di kota ini.

Gdank memang menakjubkan. Gadisgadis berambut pirang dengan postur tubuh tinggi berlalu-lalang di jalanan. Mata mereka menggoda sebagaimana warna-warni atap gedung. Akan tetapi, tak sedikit pun Khalid tergoyah. Hatinya telah tertambat pada perempuan cantik zahir dan hatinya, Anna Zofia Winieska.

Perjalanan mereka kala itu hendak mengisi romantisme. Zofia mengajak suaminya ke kota tua Gdansk untuk menunjukkan padanya bahwa selalu ada harapan di setiap perjalanan. Perlahan, sehelai demi sehelai kenangan tergantikan dengan senyum dan tawa. Mereka hendak mengenang perjalanan ini sebagai keindahan penuh kenangan.

Gdansk atau Danjig dalam dialek Jerman merupakan kota megah di Polandia yang gerejanya berbata merah dan berwarna-warni. Rumah-rumah pun berhias warna. Berjalan-jalan di sepanjang jalan Gdansk seperti melangkah ke dalam telur Faberge. Berkilau. Bercahaya. Zofia mendapati dirinya sebagaimana anak kecil yang baru belajar tentang sejarah masa silam. Terpukau. Rasanya menggebu-gebu.

Setiap kali memandang Khalid seperti sebuah ungkapan penuh syukur ingin keluar dari lidahnya karena cinta telah membawanya ke sini, Gdansk. "Terima kasih, cinta telah mengajarkan kita melang kah bersama dalam satu keyakinan adalah karunia besar menyemai mawadah."

Gdansk memiliki sejarah panjang yang merekat kuat dengan peristiwa Perang Dunia II. Kota ini adalah rumah bagi orang-orang Yahudi Polandia sejak abad ke-11. Satu tahun setelah peristiwa ini, banyak kaum Yahudi bermigrasi besar-besaran ke tanah Palestina.

Entah ini sebuah kebetulan atau tidak, perjalanan Zofia dan Khalid selalu terpaut kisah cinta dan sejarah perang. Di perjalanan, gadis berdarah blasteran ini menceritakan tentang Serock, kota Yahudi yang penuh kenangan kepada Khalid. Tempat keluarga leluhur mendiang ayah Zofia menjalani masa kecil yang indah tak terlupakan. Di pegunungan Serock memang banyak didapati kuburan orang-orang Yahudi.

Salah satunya adalah leluhur Zofia. Dalam darah gadis itu mengalir tiga agama samawi; Yahudi, Kristen, dan Islam. Kakek Zofia dari garis ayah adalah Yahudi. Mendiang bapaknya sebelum memeluk Islam adalah seorang Katolik. Sedangkan, ibunda Zofia yang berparas ayu adalah Muslimah berkebangsaan Indonesia. Kini, takdir mengikatnya bersama Khalid, laki-laki Suriah yang kini berkarier di Darmstad, salah satu kota di Jerman.

Sumber : Pusat Data Republika
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA