Saturday, 20 Syawwal 1443 / 21 May 2022

Kapan Waktu Membaca Niat Puasa Senin Kamis?

Rabu 19 Jan 2022 17:06 WIB

Rep: Ali Yusuf/ Red: Muhammad Hafil

Kapan Waktu Membaca Niat Puasa Senin Kamis?. Foto:  Ilustrasi Berpuasa

Kapan Waktu Membaca Niat Puasa Senin Kamis?. Foto: Ilustrasi Berpuasa

Foto: Pixabay
Ada perbedaan batas waktu membaca niat puasa Senin Kamis dan wajib.

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Tidak ada perbedaan dalam hal pelaksanaan puasa wajib maupun sunnah, yakni sama-sama tidak makan dan minum sejak adzan shubuh sampai adzan magrib belum dikumandangkan. Namun, ada sedikit perbedaan dalam pelaksanaan niat, puasa sunnah lebih longgar untuk membaca niatnya.

 

Baca Juga

Seperti diketahui niat puasa wajib harus dilafalkan sebelum terbit fajar, sementara puasa sunnah boleh dilafalkan setelah fajar dengan syarat belum makan dan minum. Batas membaca niat puasa sunnah waktunya sampai zhuhur.

"Niat puasa sunnah boleh dilakukan setelah terbit fajar (pagi hari) sampai zawal (waktu zhuhur) dengan syarat sejak terbit fajar ia blm makan apa-apa," kata Peneliti di Rumah Fiqih, Ustadz Ahmad Zarkasih saat berbincang dengan Republika.co.id, Kamis (27/8).

Ustadz Ahmad menyampaikan, membaca niat setelah terbit fajar untuk puasa sunnah itu pernah terjadi pada Nabi Muhammad SAW. Ketika itu Nabi Muhammad tidak menemukan makanan di rumah Sayyidah Aisyah, lalu Beliau SAW niat puasa di hari itu padahal sudah menjelang siang.

Hal tersebut ditegaskan hadits (HR. Muslim). 

 حديث عائشةَ أمِّ المؤمنينَ رَضِيَ الله عنها، حيث قالت: ((دخل عليَّ النبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم ذاتَ يومٍ فقال: هل عِندكم شيءٌ؟ فقلنا: لا. قال: فإني إذًا صائِمٌ))

Dari Sayyidah Aisyah radhiallahu anha beliau mengantakan" Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam masuk ke kediamanku suatu hari lalu beliau bertanya: "Apakah kalian punya sesuatu untuk dimakan?". Kemudian kami Katakan "tidak" lalu Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam mengatakan "kalau begitu saya puasa saja".

Dari sekian banya amalan ibadah puasa sunnah, puada sunnah Senin dan Kamis yang paling populer. KH Syamsul Yakin mengatakan banyak fadhilah mengerjakan puasa sunnah Senin dan Kamis. 

Alasannya, seperti sabda Nabi SAW, “Pintu surga dibuka pada hari Senin dan Kamis.” (HR. Muslim).

Tidak hanya itu, amal kebajikan manusia dihadapkan oleh malaikat ke hadapan Allah SWT pada Senin dan Kamis. Sebagai upaya preventif, seyogyanya pada kedua hari itu kita berpuasa.

Nabi SAW memberi informasi, “Berbagai amalan dihadapkan (kepada Allah) pada hari Senin dan Kamis, maka aku suka jika amalanku dihadapkan pada saat aku sedang berpuasa.” (HR. Turmudzi). Seperti halnya Nabi SAW, kita juga ingin puasa kita pada kedua hari itu dilaporkan kepada Allah SWT, sehingga kita beroleh pahala surga.

Sejatinya pahala puasa secara umum, Allah SWT sendiri yang membalasnya, baik puasa sunah seperti puasa Senin Kamis, puasa Ayyamul Bidh, puasa Nabi Daud atau juga puasa wajib. Nabi SAW bersabda, “Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat.

Allah  SWT berfirman, “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena Aku." (HR. Muslim). Puasa memang amal istimewa. Bagi kita, puasa terasa berat dalam pelaksanaannya, terutama puasa Senin Kamis. Maka wajar kalau berpahala besar.

Secara fisiologis, orang yang berpuasa akan memperoleh hormon kebahagiaan atau endorfin saat berbuka. Hal ini seirama dengan sabda Nabi SAW, “Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Tuhannya.” (HR. Muslim).

Inilah pahala psikologis puasa Senin Kamis. Untuk itu, siapa saja yang ingin hari-harinya bahagia dapat terus memproduksi hormon endorfin dengan cara berpuasa Senin Kamis. Tak hanya itu, bagi yang berpuasa Senin Kamis, hari-harinya diliputi harapan. Karena pada saat Magrib menjelang, ada harapan berbuka puasa.  

Bagi Nabi SAW sendiri, puasa Senin dan Kamis  memiliki dimensi historis. Bersumber dari Qatadah al-Anshari, Rasulullah SAW pernah ditanya mengenai puasa pada hari Senin. Lalu Nabi SAW menjawab, “Hari tersebut adalah hari aku dilahirkan, hari aku diutus atau diturunkannya wahyu untukku.” (HR. Muslim).

 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA