Sunday, 1 Jumadil Awwal 1443 / 05 December 2021

Sunday, 1 Jumadil Awwal 1443 / 05 December 2021

Kaligrafi Islam dalam Tinjauan Dua Sarjana Barat

Selasa 19 Oct 2021 05:37 WIB

Red: Ani Nursalikah

Kaligrafi Islam dalam Tinjauan Dua Sarjana Barat

Kaligrafi Islam dalam Tinjauan Dua Sarjana Barat

Foto: AP/Amr Nabil
Kaligrafi lekat dengan sejarah dan tradisi Islam.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Azhar Rasyid, Penilik sejarah Islam

Kaligrafi (dari bahasa Yunani, “kallos” yang artinya “indah” dan “graphein” yang artinya “menulis”) dikenal sebagai teknik untuk menghasilkan tulisan yang elok dan enak dipandang mata. Teknik ini tidak mudah karena penulisnya harus memiliki pengetahuan mumpuni tentang banyak aspek yang berkaitan dengan menulis indah, mulai dari pengetahuan tentang alat tulis yang sesuai, media penulisan yang cocok, jenis-jenis huruf, komposisi, penempatan, warna hingga perpaduan yang tepat dan menarik dari kesemua aspek ini. Dengan kata lain, tidak serta merta orang yang bisa menulis akan mampu menjadi pembuat kaligrafi.

Baca Juga

Kaligrafi sendiri merupakan salah satu bidang seni yang lekat dengan sejarah dan tradisi Islam selama lebih dari satu milenium. Kaligrafi Islam umumnya mengambil teks dari dalam Al Quran sebagai sumber pokok ajaran Islam. Walau akarnya ada di Dunia Arab, Persia hingga ke Turki Usmani, namun kaligrafi Islam dewasa ini telah tersebar hingga ke berbagai penjuru dunia Islam, termasuk Afrika, India dan Asia Tenggara.

Para ahli sejarah Islam percaya bahwa bahasa Arab adalah salah satu unsur yang menyatukan umat Islam yang berbeda secara geografis dan budaya. Bahasa Arab tidak hanya dijadikan sebagai pintu masuk memahami ajaran Islam tapi juga sebagai medium yang dikreasikan secara visual guna menyampaikan pesan-pesan Islam dengan lebih indah dan menyentuh.

Bila dalam sejarah Islam sendiri kaligrafi mendapat perhatian besar, bagaimana dengan pandangan para sarjana Barat terhadap karya seni Islam ini? Salah seorang pengamat Barat yang tertarik dengan seni kaligrafi dalam Islam adalah Annemarie Schimmel.

Lahir tahun 1922 di tengah sebuah keluarga Protestan di Jerman, Schimmel belakangan dikenal sebagai seorang Orientalis ternama yang sangat berminat pada kajian budaya dan mistik Islam. Ia pernah mengajar teologi di Universitas Ankara (Turki) dan menjadi profesor di Universitas Harvard (Amerika Serikat).

 

sumber : Suara Muhammadiyah
Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA