Monday, 9 Rabiul Awwal 1442 / 26 October 2020

Monday, 9 Rabiul Awwal 1442 / 26 October 2020

Alquran Mengandung Segala Ilmu Pengetahuan, Benarkah?

Kamis 01 Oct 2020 08:15 WIB

Rep: Fuji E Permana/ Red: Nashih Nashrullah

Ada dua pendapat soal apakah Alquran mencakup segala ilmu pengetahuan. Alquran/Ilustrasi

Ada dua pendapat soal apakah Alquran mencakup segala ilmu pengetahuan. Alquran/Ilustrasi

Ada dua pendapat soal apakah Alquran mencakup segala ilmu pengetahuan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Ada dua aliran yang memandang Alquran terkait dengan ilmu pengetahuan dan sains. Pertama, aliran yang memandang Alquran mengandung segala macam ilmu pengetahuan. Kedua, aliran yang memandang berbicara tentang sains dalam Alquran sebagai sesuatu yang berlebihan.  

Dekan Fakultas Ushuludin Universitas Al-Azhar Mesir, Prof Abdul Fattah, mengatakan dalam memahami dan memandang Alquran setidaknya ada dua aliran. 

Pertama, mereka yang mendukung penuh dan mengakui ada kemukjizatan Alquran dan mengandung ilmu sains. Kedua, mereka yang menolak dan tidak mempercayai Alquran mengandung segala macam ilmu sains. 

Baca Juga

"Tentu masing-masing dari aliran itu memiliki alasan," kata Prof Fattah saat menjadi narasumber Seminar Internasional bertema 'Menyingkap Mukjizat Ilmiah Alquran' yang diselenggarakan Lajnah Pentashihan Mushaf Alquran (LPMQ) Badan Litbang dan Diklat kementerian Agama (Kemenag) secara virtual pada Rabu (30/9).

Prof Fattah mengatakan, aliran yang mendukung Alquran mengandung ilmu sains menyatakan bahwa banyak ayat-ayat di dalam Alquran yang secara harfiah bisa dipahami bahwa Alquran mencakup segala macam ilmu pengetahuan. Sementara, aliran yang tidak mendukung itu mengatakan bahwa teori-teori atau temuan-temuan ilmiah di dalam Alquran sangat boleh jadi salah dan keliru, karena itu hasil pemikiran manusia. Manusia tidak bisa memastikan temuan-temuan yang sifatnya mistis.

Ulama terdahulu yang mendukung adanya mukjizat Alquran atau percaya Alquran mengandung tema-tema ilmiah di antaranya Imam Al-Ghazali. Mengutip pernyataan beberapa sahabat Nabi SAW yang menyebutkan bahwa Alquran mencakup syair dan segala macam ilmu pengetahuan.

Orang-orang di zaman sekarang ada juga yang berangkat dari dunia kedokteran mengatakan bahwa mungkin pada suatu saat nanti orang yang benar-benar dianggap mulia adalah kalangan saintis yang berhasil menemukan sains-sains baru dengan ayat-ayat Alquran. "Sehingga menambah keyakinan umat terhadap kemukjizatan Alquran," ujarnya.

Prof Fattah mengatakan, aliran yang tidak percaya Alquran mengandung ilmu sains mengatakan bahwa berbicara ilmu sains kekinian di dalam Alquran sebagai sesuatu yang berlebihan dan menisbahkan sesuatu yang bukan Alquran. Menurutnya mereka ini akan mengakibatkan orang semakin menjadi jauh dari tujuan utama Alquran sebagai kitab hidayah. 

Prof Fattah mengungkapkan sikapnya terhadap dua aliran tadi. Ia mengatakan bahwa pandangan Alquran tidak menyentuh persoalan ilmiah itu keliru dan terlalu ekstrem. Sementara, pandangan Alquran mengandung segala ilmu pengetahuan juga berlebihan. 

"Sehingga saya berupaya menggabungkan dua pandangan itu, jadi ada syarat untuk kita bisa menafsirkan tafsir ilmiah di dalam Alquran, jangan sampai kita keluar dari tujuan utama turunnya Alquran sebagai kitab hidayah," jelasnya.

Ia mengatakan, apapun upaya-upaya tafsir ilmiah untuk menunjukkan kemukjizatan Alquran harus diarahkan tujuannya untuk menunjukkan Alquran sebagai kitab suci yang membawa hidayah. 

Harus ada unsur untuk menunjukkan keagungan Alquran, jangan gara-gara menafsirkan ilmiah atau membahas soal ilmiah dalam Alquran, malah muncul anggapan bahwa Alquran rendah dan Alquran tidak seperti ilmu pengetahuan yang sedemikian maju.

"Pasti tidak akan menjadi kontradiksi antara ayat-ayat kauniyah yang menjadi dasar pengembangan ilmu pengetahuan dengan ayat-ayat Alquran yang ada di dalam mushaf, kita boleh menafsirkan Alquran secara ilmiah dan menggali ilmu pengetahuan dari Alquran dan menghubungkan ayat-ayat Alquran dengan ilmu pengetahuan yang berkembang," jelasnya.

Prof Fattah menjelaskan, salah satu alasannya adalah Alquran dulu dibahas  ulama-ulama dari segi aspek kemukjizatan bahasa Arabnya, keindahan bahasanya dan sastranya. Pada masa itu untuk orang yang menguasai bahasa Arab, boleh dikatakan sangat tepat.

Sementara Rasulullah diutus untuk umat lain yang tidak berbahasa Arab. Sehingga umat lain akan kesulitan memahami kemukjizatan Alquran dari aspek kebahasaan. Sementara dari aspek ilmu pengetahuan, orang Arab atau bukan orang Arab bisa punya kesempatan yang sama.

"Sehingga mengaitkan ayat Alquran dengan temuan-temuan ilmiah justru akan membuka peluang bagi umat dan bangsa lain yang tidak berbahasa Arab untuk lebih bisa memahami Alquran secara baik," jelasnya.

 

 

 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA