Tuesday, 6 Zulhijjah 1443 / 05 July 2022

Polisi Iran Bubarkan Massa Pemrotes Insiden Gedung Runtuh

Ahad 29 May 2022 03:13 WIB

Red: Friska Yolandha

Dalam foto ini disediakan oleh Fars News Agency, sebuah bangunan komersial 10 lantai yang sedang dibangun runtuh menewaskan beberapa orang di barat daya kota Abadan, Iran, Senin, 23 Mei 2022.

Dalam foto ini disediakan oleh Fars News Agency, sebuah bangunan komersial 10 lantai yang sedang dibangun runtuh menewaskan beberapa orang di barat daya kota Abadan, Iran, Senin, 23 Mei 2022.

Foto: Mohammad Amin Ansari, Fars News Agency via AP
Runtuhnya gedung disebabkan oleh korupsi dan pengabaian keselamatan.

REPUBLIKA.CO.ID, DUBAI -- Polisi Iran menggunakan gas air mata dan tembakan ke udara untuk membubarkan protes atas gedung yang ambruk di kota Abadan, Khuzestan, menurut kantor berita Fars dan unggahan di media sosial. Para pejabat Iran mengatakan runtuhnya gedung komersial dan permukiman setinggi 10 lantai pada Senin (23/5/2022) itu disebabkan oleh korupsi dan pengabaian keselamatan.

Menurut otoritas di wilayah penghasil minyak tersebut, korban jiwa telah bertambah menjadi 28 orang dan korban luka-luka mencapai 37 orang. Sejauh ini, sudah 13 orang ditangkap atas pelanggaran aturan pembangunan gedung, kata mereka.

Baca Juga

Pihak berwenang yang menyelidiki bencana itu telah menahan wali kota dan beberapa mantan wali kota Abadan atas tuduhan mengabaikan peringatan tentang keselamatan gedung. Fars mengatakan protes di Abadan pada Jumat (27/5) malam berubah menjadi bentrokan ketika massa memaksa mendekati puing-puing bangunan, tempat tim penyelamat sedang bekerja.Polisi menyemburkan gas air mata dan mengeluarkan tembakan ke udara, kata otoritas.

Rekaman video di media sosial memperlihatkan orang-orang berlarian untuk menyelamatkan diri. Teriakan "Jangan tembak, jangan tembak" dan suara tembakan terdengar.

Sebuah video dari kota pelabuhan Mahshahr menayangkan para pemrotes meneriakkan, "Mereka mencuri minyak dan gas, menghisap darah kami."

Aksi dukungan kepada para pemrotes di Abadan juga digelar di beberapa kawasan sekitar di Khuzestan, di Shahin Shahr di Iran tengah dan kota Shiraz di selatan, menurut unggahan di media sosial. Wakil Presiden Mohammad Mokhber pada Jumat mengatakan di televisi pemerintah bahwa dirinya yakin "korupsi yang merajalela" di kalangan badan pengembang, kontraktor, dan pengawas menjadi penyebab insiden itu.

Dalam protes-protes sebelumnya atas kenaikan harga pangan, warga telah melaporkan adanya gangguan layanan internet. Gangguan itu dianggap sebagai upaya pemerintah untuk menghentikan penggunaan media sosial sebagai penggerak unjuk rasa dan penyebaran video. Para pejabat membantah telah menutup akses internet.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA