Tuesday, 13 Rabiul Awwal 1443 / 19 October 2021

Tuesday, 13 Rabiul Awwal 1443 / 19 October 2021

Puluhan Wanita Afghanistan Protes ke Taliban

Senin 20 Sep 2021 06:51 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Teguh Firmansyah

 Reaksi seorang pengungsi Afghanistan saat ia memegang plakat yang berpartisipasi dalam protes di New Delhi, India, Senin (23/8). Ratusan aktivis dari berbagai organisasi kiri dan pengungsi Afghanistan mengadakan protes terhadap pengambilalihan Taliban atas Afghanistan dan menuntut untuk melindungi perempuan Afghanistan.

Reaksi seorang pengungsi Afghanistan saat ia memegang plakat yang berpartisipasi dalam protes di New Delhi, India, Senin (23/8). Ratusan aktivis dari berbagai organisasi kiri dan pengungsi Afghanistan mengadakan protes terhadap pengambilalihan Taliban atas Afghanistan dan menuntut untuk melindungi perempuan Afghanistan.

Foto: EPA-EFE/HARISH TYAGI
Puluhan wanita itu menolak penutupan Kementerian Perempuan Afghanistan.

REPUBLIKA.CO.ID, KABUL --  Puluhan aktivis perempuan melakukan aksi protes di luar Kementerian Perempuan Afghanistan pada Ahad (19/9). Mereka melakukan aksi protes setelah pemerintahan Taliban menutup kementerian tersebut dan menggantinya dengan Kementerian Promosi Kebajikan dan Pencegahan Kejahatan.

Staf wanita mengatakan, mereka telah mencoba untuk kembali bekerja di kementerian selama beberapa minggu sejak Taliban berkuasa. Namun mereka diminta untuk kembali ke rumah. “Kementerian Perempuan harus diaktifkan kembali. Penghapusan (kementerian) perempuan berarti penghapusan manusia," ujar salah satu pengunjuk rasa Baseera Tawana.

Protes itu terjadi sehari setelah beberapa anak perempuan kembali ke sekolah dasar dengan kelas yang dipisahkan berdasarkan gender. Tetapi Taliban belum memperbolehkan sekolah untuk anak perempuan dari sekolah menengah Afghanistan.

Sementara anak laki-laki dan guru laki-laki sekolah menengah diizinkan kembali ke ruang kelas. “Anda tidak dapat menekan suara perempuan Afghanistan dengan mengurung anak perempuan di rumah dan membatasi mereka, serta dengan tidak mengizinkan mereka pergi ke sekolah,” kata seorang pengunjuk rasa, Taranum Sayeedi.

"Wanita Afghanistan hari ini bukanlah wanita (Afghanistan) 26 tahun yang lalu," kata Sayeedi menambahkan.

Ketika Taliban berkuasa dari periode 1996-2001, perempuan dan tidak diizinkan bersekolah dan bekerja. Selama periode itu, Kementerian Promosi Kebajikan dan Pencegahan Kejahatan dikenal sebagai polisi moral Taliban.

Baca Juga

Kementerian tersebut menegakkan interpretasinya terhadap syariah yang mencakup aturan berpakaian dan eksekusi, termasuk hukum cambuk di depan umum.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA