Wednesday, 15 Safar 1443 / 22 September 2021

Wednesday, 15 Safar 1443 / 22 September 2021

Sebanyak 21 Penjinak Bom Gugur Saat Bertugas di Yaman

Sabtu 31 Jul 2021 00:50 WIB

Rep: Dea Alvi Soraya/ Red: Nashih Nashrullah

Sebanyak 263.797 ranjau telah dibersihkan di sejumlah wilayah Yaman. Ledakan di ladang ranjau (ilustrasi)

Sebanyak 263.797 ranjau telah dibersihkan di sejumlah wilayah Yaman. Ledakan di ladang ranjau (ilustrasi)

Foto: FLICKR
Sebanyak 263.797 ranjau telah dibersihkan di sejumlah wilayah Yaman

REPUBLIKA.CO.ID, SANA—Sejak beroperasi selama tiga tahun, setidaknya dua puluh satu staf ahli pembersihan ranjau Arab Saudi dan asing yang berbasis di Yaman meninggal dunia saat bertugas. 

Tim pembersih ranjau darat itu sejauh ini telah membersihkan 263.797 ranjau darat yang terdiri dari bom, ranjau anti-tank, dan ranjau anti-personel di Yaman, mencangkup 25 juta meter persegi wilayah di negara yang disebut ladang ranjau terbesar di dunia itu. 

Baca Juga

Korban meninggal tragis terungkap dalam angka-angka yang menunjukkan skala proyek di bawah payung Proyek Arab Saudi untuk Pembersihan Ranjau Darat (Masam). 

Proyek ini diluncurkan Pusat Bantuan dan Bantuan Kemanusiaan Raja Salman (KSrelief) pada 25 Juni 2018, sebagai inisiatif bantuan bagi Masam, sejauh ini telah menelan biaya 133 juta dolar AS (Rp 1,9 triliun), kata Direktur Masam, Osama Al Gosaibi.

Sejak dimulainya program pembersihan ranjau hingga 23 Juli tahun ini, regu penjinak bom telah menangani 169.792 persenjataan yang tidak meledak, 83.943 ranjau anti-tank, dan 3.984 ranjau anti-personil. 

Pemerintah Yaman mengatakan bahwa Houthi yang didukung Iran telah menanam lebih dari 1 juta ranjau darat di negara itu sejak dimulainya konflik pada 2015.

KSrelief baru-baru ini memperpanjang kontrak Masam untuk satu tahun lagi, dengan biaya 33,6 juta dolar AS (Rp 486 miliar). Proyek ini dilakukan ahli Arab Saudi dan internasional melalui tim Yaman yang telah dilatih untuk menjinakkan semua jenis ranjau yang ditanam secara acak oleh milisi Houthi. 

Al Gosaibi menunjukkan bahwa salah satu tantangan utama yang dihadapi tim adalah harus bekerja tanpa peta yang menunjukkan lokasi ranjau. 

Dalam banyak kasus, mereka harus bergantung pada penduduk setempat yang mengidentifikasi area yang dicurigai beranjau, yang secara signifikan memperlambat proses pembersihan, tambahnya.

Pengawas umum KSrelief, Dr Abdullah Al-Rabeeah, mengatakan bahwa pembaruan kontrak Masam adalah bentuk rasa tanggung jawab kemanusiaan pusat terhadap saudara-saudara Yaman. 

Dia menambahkan, “Sangat penting untuk membersihkan wilayah Yaman dari ranjau yang diproduksi dan ditanam milisi Houthi secara acak, tidak terduga, dan disamarkan dan yang telah menyebabkan cacat permanen dan cedera serta kerugian manusia, termasuk wanita, anak-anak, dan manula.”

Menurut statistik yang diterbitkan Observatorium Yaman tentang Ranjau Darat pada bulan Maret, perangkat yang ditanam oleh Houthi di Taiz saja telah membunuh dan melukai 3.263 warga sipil sejak 2015. 

Data dari Koalisi Yaman untuk memantau pelanggaran Hak Asasi Manusia, juga dikenal sebagai Koalisi Rasd, menunjukkan 1.929 warga sipil, termasuk 357 anak-anak dan 146 wanita, telah tewas dalam enam tahun terakhir, dan 2.242 warga sipil, termasuk 519 anak-anak dan 167 wanita, terbunuh karena ranjau darat.

Selama periode yang sama, koalisi mendokumentasikan penghancuran dan kerusakan lebih dari 2.872 fasilitas publik dan swasta di beberapa kegubernuran Yaman, semuanya karena ranjau darat anti-personil dan anti-tank.

 

Sumber: arabnews    

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA