Saturday, 3 Syawwal 1442 / 15 May 2021

Saturday, 3 Syawwal 1442 / 15 May 2021

Duterte, Presiden Filipina Terpilih yang Merengek di Makam Ibu

Rabu 11 May 2016 16:11 WIB

Rep: Gita Amanda/ Red: Teguh Firmansyah

Rodrigo Duterte

Rodrigo Duterte

Foto: AP/Bullit Marquez

REPUBLIKA.CO.ID, MANILA -- Beberapa jam setelah pemungutan suara ditutup, Rodrigo Duterte, hampir dipastikan menjadi presiden Filipina. Pada pukul 21.00 malam waktu setempat, ia telah unggul dari lawan-lawannya.

Seperti dilansir Aljazirah, Rabu (11/5), walikota itu pada Senin (9/5) malam menggelar makan malam kemenangan sebelum berziarah ke makam orangtuanya. Di sana ia menangis merengek-rengek, meminta bimbingan mamanya.

Itu merupakan pemandangan kontras dengan persona walikota 71 tahun itu selama ini. Salah satu tim kampanye Duterte Jeffrey Tupas mengatakan makian memang sudah menjadi bagian dari kosa kata Duterte. Tupas mengakui, 'bosnya' merupakan laki-laki yang penuh dengan kontradiksi. "Dia sulit untuk dijelaskan karena ia tidak terprediksi," kata Tupas.

Duterte hidup sebagai seorang anak di rumah ayahnya di Cebu, Filipina tengah. Menjadi seorang pengacara, Duterte bergabung dengan kantor jaksa pada 1977. Dia berhasil merebut pos wali kota Davao pada 1986. Sejak saat itu, ia memerintah yang digambarkannya sebagai kediktatoran yang budiman. Dalam tiga dekade, Kota Davao berubah dari kota geng menjadi kota yang paling aman di wilayah tersebut.

Duterte pernah mengklaim telah membunuh 1.700 orang untuk menjaga kota tercintanya. Ia mengataka telah 'menggorok' semua penjahat.

Duterte memang mendulang dukungan dengan janji-janji kontroversialnya. Kiprahnya dalam memimpin Davao selama 22 tahun juga menjadi pertimbangan banyak pemilih. Duterte memang dikenal mampu 'mengusir' para penjahat, meski ia dituduh melakukan ratusan pembunuhan ekstra-yudisial.

Selama kampanye tiga bulannya, Duterte membuat janji-janji berani. Mulai dari memberantas kejahatan dan korupsi dalam waktu enam bulan, hingga menantang Cina dengan menempatkan bendera Filipina di wilayah yang diklaim Cina di Laut Cina Selatan.

Baca juga, Trump Filipina Unggul dalam Perhitungan Pemilu Presiden.

Duterte menarik perhatian domestik dan internasional dengan pidatonya yang dibumbui lelucon tentang pemerkosaan. Ia juga sempat menuai kritik atas komentar kurang bijaksananya tentang Australia, Amerika Serikat dan Cina yang merupakan pemain kunci dalam politik negara.

Di dalam negeri, ia sempat mengancam akan menerapkan 'aturan satu orang' jika legislator menjegalnya di Kongres. Duterte pun mengatakan akan membuat pemerintahan revolusioner jika parlemen memperlambat pemerintahannya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA