Sunday, 10 Zulqaidah 1442 / 20 June 2021

Sunday, 10 Zulqaidah 1442 / 20 June 2021

Ratusan Orang Tewas di Afrika Tengah

Sabtu 07 Dec 2013 09:21 WIB

Red: Dewi Mardiani

Kelompok organisasi rakyat adi Republik Afrika Tengah berunjuk rasa di Bangui, meminta Prancis mengatasi pemberontakan di sana.

Kelompok organisasi rakyat adi Republik Afrika Tengah berunjuk rasa di Bangui, meminta Prancis mengatasi pemberontakan di sana.

Foto: reuters.com

REPUBLIKA.CO.ID, BANGUI -- Sedikitnya 300 orang tewas dalam kekerasan di Republik Afrika Tengah sejak Kamis (5/12), kata pejabat Palang Merah kepada AFP. Palang Merah memiliki jumlah sementara 281 dari penghitungan mayat di kamar-kamar mayat dan di jalan-jalan, kata pejabat itu.

Dia menambahkan bahwa para petugas medis tidak mampu menjangkau seluruh wilayah yang terkena sasaran kekerasan di mana saksi mengatakan ada beberapa mayat lainnya yang belum diambil.

Prancis Jumat mengerahkan hampir 1.000 tentara untuk membantu memulihkan keamanan yang tengah mendidih di Republik Afrika Tengah pada saat warga mengungsi dari bentrokan sektarian yang Palang Merah katakan telah menewaskan sedikitnya 300 orang.

Menurut laporan AFP yang dikutip Sabtu (7/12), tentara Prancis berpatroli di jalan-jalan ibu kota Bangui dengan kendaraan-kendaraan lapis baja dalam upaya untuk memadamkan ketegangan di bekas koloninya di mana PBB telah mengamanatkan pasukan penjaga perdamaian hingga 1.200 orang.

Bentrokan kekerasan dan pembantaian sejak Kamis telah menewaskan setidaknya 300 orang, kata seorang pejabat Palang Merah. Sementara itu, badan amal medis Doctors Without Borders (MSF) mengatakan 92 orang tewas dan 155 orang lainnya terluka telah terdaftar di salah satu rumah sakit di Bangui. Sementara wartawan AFP di kota itu menghitung 80 mayat di sebuah masjid dan jalan-jalan sekitarnya.

Dalam upaya untuk mencari perlindungan dari pertempuran di lingkungan mereka, ribuan warga telah berkumpul di sekitar bandara Bangui dimana kedua tentara Prancis dan pasukan Afrika berpangkalan. Wilayah yang sama adalah tempat bentrokan pada subuh Kamis antara orang-orang bersenjata dan pasukan Prancis di mana beberapa pejuang Afrika Tengah tewas, menurut tentara Prancis.

Republik Afrika Tengah mengalami kekacauan karena beragam koalisi pejuang yang dikenal sebagai Seleka menggulingkan pemerintah pada Maret dan melantik pemimpin mereka sendiri, Michel Djotodia, sebagai presiden.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA