Monday, 5 Syawwal 1442 / 17 May 2021

Monday, 5 Syawwal 1442 / 17 May 2021

Benarkah Pol Pot Membantai 1,5 Juta Rakyat Kamboja? (Bag 2)

Ahad 08 Apr 2012 06:24 WIB

Red: Heri Ruslan

Pol Pot

Pol Pot

Foto: historyplace.com

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Teguh Setiawan/Wartawan Senior Republika 


Siapa Sambath?
Thet Sambath lahir di sebuah desa di tepi hutan, kira-kira seratus kilometer dari Battambang. Ia adalah satu dari bocah-bocah Kamboja yang selamat dari pembantaian.

Ia kehilangan kedua orang tua, seorang kakak, dan menghabiskan empat tahun di kamp kerja paksa ber sama 2.000 anak-anak. Ia ditakdirkan selamat meski setiap hari hanya makan semangkuk bubur. Setelah Vietnam menginvasi Kamboja tahun 1979, Sambath — bersama ribuan anak lainnya — berlari di antara desing peluru Khmer Merah dan pasukan Vietnam. Langkah kakinya terhenti di sebuah kamp di perbatasan Thailand.

Di tempat ini Sambath belajar bahasa Inggris. Ia kembali ke Kamboja tahun 1990, dan menjadi penerjemah freelance untuk petugas PBB, dan wartawan dua koran berbahasa Inggris; Cambodian Daily dan Phnom Penh Post.

Sambath mengenal banyak para petinggi Khmer Merah. Ia selalu bertanya tentang apa yang terjadi, dan mengapa begitu banyak orang terbunuh dalam empat tahun, dan siapa di balik semua ini. Ia tidak mendapat jawaban.

“Saya juga berkenalan dengan banyak perwira rendahan Khmer Merah, yang perlahan-lahan menjadi ramah dan terbuka,” kenang Sambath. Sejak saat itu Sambath mendedikasikan setiap akhir pekan, dan hari-hari libur, untuk proyek pribadinya. Ia berkendara ribuan mil, menyambangi banyak desa di hampir seluruh Kamboja, untuk menemui mantan tentara Khmer Merah.

Setiap kali melakukan perjalanan, Sambath tidak membawa apa-apa kecuali baju di badan dan kantong plastik hitam berisi kamera. Semua ini memakan waktu sepuluh tahun, dan selama itu Sambath telah mewawancarai lebih 1.000 mantan prajurit Khmer Merah. Ia merekam semuanya ke dalam video berdurasi 1.000 jam.

Sambath tidak mendapatkan dana dari mana pun. Ia menghabiskan 10 ribu dolar AS, yang diperoleh saat menjadi penerjemah PBB dan menulis di sejumlah koran luar negeri, untuk membiayai proyeknya. Proyek belum selesai. Sambath masih harus menyelesaikan Suspicious Mind di tengah ancaman kekerasan, atau mungkin pembunuhan, dari orang-orang yang terganggu dengan proyeknya.

“Jika semua ini telah selesai, saya akan katakan kepada anak saya; maaf jika kita tidak bisa berlibur,” kata Sambath. “Saya juga akan mengatakan kepada istri saya, maaf jika saya tidak bisa memberi pakaian bagus dan perhiasan.”

                                                                     ***

Kini, Sambath — yang mengalami stress luar biasa akibat teror — berencana melarikan diri dari Kamboja sebelum Suspicious Mind dirilis. Ia belum mengatakan rencana ini kepada anak dan istrinya.

“Saya hanya ingin secepatnya menyelesaikan film kedua, karena kami tidak punya apa-apa lagi,” ujar Sambath, yang kini harus banyak menggunakan nama palsu dan hidup berpindah-pindah untuk agar tidak kehilangan nyawa. “Kini kami me nyewa rumah, dan tidak punya uang tunai. Jika saya mati, istri dan anak saya tak dapat bertahan hidup.”

Lemkin menyebut Sambath ‘marked man’ yang tidak punya pilihan se lain menyelesaikan ‘kewajiban sejarah’ bagi Kamboja. Film ini, masih menurut Lemkin, adalah kisah terbesar di Kamboja, dan cerita paling mengerikan dalam sejarah pembantaian umat manusia abad ke-20. “Bagi Sambath, film ini bukan kisah sederhana. Film ini mendifinisikan hidupnya dan menjelaskan pengalamannya. Jadi, dia tidak akan pernah menyerah menyelesaikannya,” demikian Lemkin.

Ketika Khmer Rouge, Enemy of the People , yang kini bisa disaksikan secara gratis di internet, diluncurkan Sambath menghadapi tuduhan sedang berusaha menyelamatkan Khmer Merah dari dakwaan melakukan genocide.

Pengadilan terhadap tokoh Khmer Merah, yang dibentuk PBB, juga menekan Sambath dan Lemkin untuk mengajukan film dokumenternya sebagai bukti. Keduanya menolak. Menurut Sambath, Nuon Chea tidak akan berbicara blak-blakan jika dia tahu saya akan menyerahkan film ini ke pengadilan.

Phil Robertson, dari Human Right Watch, mengatakan kekejaman Khmer Merah adalah electric wire yang nyata dalam politik Kamboja. Khmer Merah, dengan segala kekerasannya, adalah bagian dari pemerintah Kamboja saat ini.

“Mereka, mantan Khmer Merah di pemerintahan saat ini, tidak merasa menyesal membungkam siapa saja yang mengemukakan kenyataan,” ujar Robertson. “Mereka tidak segan-segan melakukan apa saja untuk menghentikan orang-orang yang mengungkap korupsi, dinamika politik, atau bagaimana Khmer Merah berakhir.”

Pemerintah Kamboja tidak mengingkari adanya intimidasi terhadap Sambath, dan banyak wartawan lainnya. Phay Siphan, juru bicara pemerintah, mengatakan; “Di mana pun di muka bumi ini selalu ada orang jahat dan baik. Ada polisi baik dan jahat. Wartawan harus cerdas untuk tahu di mana tempat aman dan siapa yang akan melindungi.” Menurut Siphan, Kamboja adalah negara aman dan pemerintah menanggapi serangan terhadap wartawan dengan sangat serius. Kamboja memiliki hukum untuk menjaga kebebasan berekspresi.”

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA