Thursday, 21 Zulhijjah 1440 / 22 August 2019

Thursday, 21 Zulhijjah 1440 / 22 August 2019

Lapangan Tahrir Kembali Berdarah, 11 Tewas Saat Keamanan Bubarkan Demonstran

Senin 21 Nov 2011 07:43 WIB

Red: Ajeng Ritzki Pitakasari

Demonstran meneriakkan slogan-slogan reformasi di Lapangan Tahrir, Kairo, Mesir.

Demonstran meneriakkan slogan-slogan reformasi di Lapangan Tahrir, Kairo, Mesir.

Foto: AP

REPUBLIKA.CO.ID, KAIRO - Sedikitnya 11 orang tewas di Lapangan Tahrir di ibu kota Mesir, Kairo, pada Ahad (20/11), saat pasukan keamanan membubarkan demonstran yang meminta agar militer menyerahkan kekuasaan kepada pemerintah sipil. Empat orang dilaporkan telah ditembak hingga tewas, AFP melaporkan.

Sebelumnya Dr Mohammed Fatuh yang memimpin sebuah rumah sakit lapangan di lapangan itu, memastikan bahwa tiga mayat lagi telah dibawa dengan menderita luka terkena peluru. Petugas-petugas medis sebelumnya melaporkan empat kematian, satu karena tembakan langsung dan tiga karena sesak nafas akibat kekurangan zat asam dalam darah setelah gas air mata ditembakkan.

Kerusuhan mematikan itu terjadi sepekan sebelum pemilihan legislatif pertama sejak revolusi rakyat menggulingkan pemimpin otokratis veteran Hasni Mubarak. Polisi dan pasukan militer Mesir telah menggunakan tongkat, gas air mata dan tembakan burung untuk membersihkan Lapangan Tahrir dari ribuan demonstran.

Bentrokan terjadi antara demonstran melawan polisi anti-kerusuhan. Militer kemudian mengejar massa aksi jauh dari pintu masuk ke lapangan tersebut dan merintangi jalan yang menuju ke kementerian dalam negeri, tempat bentrokan sepanjang hari terjadi.

Pasukan keamanan kemudian mundur dari lapangan itu tapi situasi tetap tidak stabil. Sepanjang hari itu, bentrokan sporadis meletus dekat kementerian dalam negeri di pinggir Lapangan Tahrir, yang tertutup oleh asap gas air mata dan dikotori dengan batu dan kaca.

Kementerian kesehatan mengatakan 759 orang terluka dalam bentrokan itu. Sekitar 40 polisi juga luka-luka, kata kementerian dalam negeri.

Demonstrasi jalanan belakangan ini telah diwarnai kembalinya polisi anti-huru-hara, bagian dari kementerian dalam negeri. Polisi anti-huru-hara digunakan oleh rezim Mubarak dalam tindakan kerasanya terhadap demonstran tapi jarang digelar sejak tergulingnya Mubarak.

Pada Sabtu, demonstran menyanyikan slogan-slogan menentang Dewan Tertinggi Pasukan Bersenjata yang menerima kekuasaan dari Mubarak dan meminta pemecatan Panglima Tertinggi Hussein Tantawi, menteri pertahanannya dalam waktu lama yang memimpin SCAF.

"Jatuhkan Tantawi," ratusan demonstran berteriak di Lapangan Tahrir. Militer mengatakan mereka akan menyerahkan kekuasaan setelah pemilihan presiden, yang sekarang belum dijadwalkan.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA