Tuesday, 9 Rajab 1444 / 31 January 2023

Heinrich XIII, Pangeran yang Ditangkap Atas Rencana Kudeta

Kamis 08 Dec 2022 10:05 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Friska Yolandha

Petugas polisi bertopeng memimpin Heinrich XIII Prince Reuss, tengah, ke sebuah kendaraan polisi selama penggerebekan terhadap apa yang disebut

Petugas polisi bertopeng memimpin Heinrich XIII Prince Reuss, tengah, ke sebuah kendaraan polisi selama penggerebekan terhadap apa yang disebut

Foto: Boris Roessler/dpa via AP
Kelompok sayap kanan ingin mengembalikan kekuasaan monarki, menghapus demokrasi.

REPUBLIKA.CO.ID, BERLIN -- Pangeran Heinrich XIII dari Reuss salah satu dari keturunan terakhir kekaisaran yang berkuasa di Jerman timur. Ia tersangka rencana kudeta mengembalikan kekuasaan monarki dengan menggulingkan pemerintahan demokratis.

Pada Rabu (7/12/2022), pria 71 tahun itu salah satu dari 25 anggota dan pendukung kelompok sayap kanan yang ditangkap pihak berwenang Jerman. Selama empat tahun terakhir ia mengkampanyekan teori di seluruh dunia negara lebih baik di bawah pemerintahan monarki.

Pengembang real estate itu itu berasal dari Keluarga Bangsawan Reuss yang selama berabad-abad menguasai daerah yang kini masuk Negara Bagian Thueringen sampai revolusi 1918 yang memicu berdirinya Republik Weimar. Baik Keluarga Reuss maupun kantor Pangeran Reuss merespons permintaan komentar.

Dalam pidato di World Wide Forum pada tahun 2019 lalu ia mengatakan ia menyatukan pemikiran progresif dengan mendorong perubahan radikal yang positif. Kerajaan Reuss, katanya, akan membiarkan masyarakat "hidup bahagia" karena pajak hanya 10 persen dan strukturnya "langsung dan transparan."

"Bila hal-hal tidak berjalan mulus, anda tinggal mendatangi pangeran? Hari ini pada siapa anda mengadu? Parlemen kalian, pemerintah lokal, federal atau tingkat Uni Eropa? Semoga berhasil!" katanya.

Dalam pidato yang dibumbui konspirasi anti-Semit itu ia mengatakan Jerman negara bawahan sejak Perang Dunia II. Ia mengatakan Jerman harus mendapatkan kembali kedaulatannya melalui perjanjian damai.

Ia mengatakan monarki di seluruh dunia termasuk Prancis telah digulingkan karena campur tangan asing yang ingin mendirikan struktur korporat untuk keuntungan. Hasilnya, katanya, rakyat menderita.

Jaksa mengatakan Heinrich menghubungi perwakilan Rusia yang kelompoknya agap pusat kontak untuk mendirikan tatanan baru. Mereka mengatakan tidak ada bukti perwakilan itu memberikan respon positif pada kelompok sayap-kanan tersebut.

Kremlin mengatakan tidak terlibat dalam rencana menggulingkan pemerintahan demokratis Jerman. Heinrich ditangkap di rumahnya di Frankfurt.

Polisi yang memakai balaclva memborgolnya, ia terlihat memakai celana kudoroi, jaket bermotif tartar dan rambut abu-abu panjang. Polisi juga menggeledah pondok berburunya di Thueringen.

Surat kabar Ostthueringer melaporkan polisi menduga ia menyimpan dan menimbun senjata-senjaa di pondok tersebut. Negara Bagian Thueringen sudah lama dikenal sebagai kantong kelompok sayap-kanan.

Kantor kejaksaan federal menolak memberikan komentar tentang laporan itu. Mereka mengatakan hanya tiga penyerbuan di daerah tersebut. Mereka juga menolak berkomentar tentang bagaimana Heinrich dalam gerakan Reichsbuerger.

Gerakan tersebut menolak mengakui pemerintahan demokratis modern Jerman. Setelah abad ke-12 Dinasti Reuss menamakan semua putranya Heinrich atau Henry untuk menghormati Herny IV, Kaisar Suci Roma yang mewariskan mereka perkebunan Wieda dan Gera yang kini kota-kota di Negara Bagian Thueringen.

Resminya sudah tidak ada lagi pangeran atau putri di Jerman modern. Tapi beberapa keturunan bangsawan seperti Heinrich masih menggunakan gelar pangeran. Ia menamakan perusahaan real estate dan jasa keuangan di Frankfurt, Buero Prinz Reuss.

Media setempat melaporkan kepala keluarga Reuss, Heinrich XIV yang tinggal di Austria sebelumnya menjaga jarak dari Heinrich XIII. Ia menyebutnya pria 71 tahun itu orang bingung yang menjajakan teori konspirasi. 

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA