Selasa 06 Dec 2022 07:38 WIB

Prancis Bersiap Pemadaman Listrik Bergilir di Musim Dingin

Presiden Prancis meminta warga tidak panik dengan rencana pemadaman listrik.

Rep: Dwina Agustin/ Red: Friska Yolandha
Pria naik skuter listrik di jalanan kota Paris, Prancis. Utilitas Prancis EDF melihat output listriknya turun ke level terendah dalam 30 tahun.
Foto: EPA
Pria naik skuter listrik di jalanan kota Paris, Prancis. Utilitas Prancis EDF melihat output listriknya turun ke level terendah dalam 30 tahun.

REPUBLIKA.CO.ID, PARIS -- Suhu yang mendekati nol dalam beberapa hari mendatang akan menguji ketahanan jaringan listrik Prancis. Namun Presiden Prancis Emmanuel Macron meminta warga Prancis untuk tidak panik di tengah peringatan kemungkinan pemadaman listrik.

Utilitas Prancis EDF melihat output listriknya turun ke level terendah dalam 30 tahun pada awal 2022 karena rekor jumlah pemadaman reaktor nuklir yang timbul dari masalah korosi. Masalah ini kini berpacu dengan waktu untuk memastikan armadanya dapat berjalan dengan kapasitas penuh untuk memasuki musim dingin.

Baca Juga

Prancis lebih rentan terhadap krisis energi Eropa yang dipicu oleh dampak perang di Ukraina daripada beberapa negara Eropa lainnya. Kondisi itu, menurut Direktur Konsultan Energi EnAppSys Jean-Paul Harreman, disebabkan ketersediaan nuklir yang rendah dan permintaan yang sangat sensitif terhadap suhu.

Setelah November yang sangat sejuk membantu mengurangi penggunaan listrik di Prancis, suhu turun pada Senin (5/12/2022) dan diperkirakan akan bertahan mendekati nol minggu ini dan berikutnya. Padahal ketersediaan nuklir yang lebih rendah dari perkiraan diimbangi oleh impor yang lebih tinggi dari semua tetangga Prancis dan produksi tinggi dari pembangkit listrik berbahan bakar gas.

Aplikasi peringatan EcoWatt RTE tetap hijau. Aplikasi ini telah direkomendasikan pemerintah untuk diunduh oleh warga untuk diperingatkan tentang puncak permintaan atau risiko pemotongan. "Belum cukup dingin untuk itu, tapi kami melihat Prancis mencapai batasan impornya," kata Harreman.

Analis Refinitiv Nathalie Gerl mengatakan, dengan perkiraan yang menunjukkan suhu yang lebih dingin minggu depan, pasokan akan lebih ketat. "Konsumsi akan mencapai puncaknya pada 80 GW (versus 73 GW pada 5 Desember), sementara tenaga angin diperkirakan akan berada di bawah normal. Jika ketersediaan nuklir tetap pada 37-38 GW, risiko kesenjangan pasokan akan jauh lebih parah daripada saat ini," ujarnya.

Para menteri pemerintahan telah memperingatkan kemungkinan pemadaman listrik jika terjadi kesenjangan antara pasokan dan permintaan. Menurut mereka kondisi itu akan berlangsung tidak lebih dari dua jam dan telah ditandai sebelumnya.

Peringatan berlimpah, dengan operator telekomunikasi Orange  mengatakan, panggilan telepon darurat mungkin tidak dapat dilakukan di beberapa bagian Prancis jika terjadi pemadaman listrik yang berkepanjangan. Sedangkan Federasi Perbankan Prancis (FBF) mengakui mesin ATM akan terpengaruh.

"Pertama-tama, mari kita perjelas: jangan panik!" Macron mengatakan kepada televisi TF1 pada akhir pekan.

"Adalah sah bagi pemerintah untuk mempersiapkan kasus ekstrim yang berarti memutus aliran listrik selama beberapa jam per hari jika kita tidak memiliki daya yang cukup," ujarnya.

Sementara itu, penundaan lebih lanjut pada reaktor nuklir diumumkan pada Senin. Sepasang reaktor Dampierre 900 megawatt (MW) di Prancis tengah mengalami pemadaman yang diperpanjang, dengan reaktor kedua di fasilitas tersebut diundur 10 hari hingga 19 Desember dan reaktor ketiga diperpanjang enam hari hingga 12 Desember. 

 

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement