Thursday, 18 Rajab 1444 / 09 February 2023

Rusia tak akan Terima Batasan Harga Minyak yang Ditetapkan Barat

Ahad 04 Dec 2022 01:30 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Ilham Tirta

Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov.

Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov.

Foto: AP Photo
Batasan harga yang diinisiasi AS bermuatan memotong perekonomian Rusia.

REPUBLIKA.CO.ID, MOSKOW -- Kremlin mengatakan Rusia tidak akan menerima batas harga minyak yang ditetapkan negara-negara Barat. Moskow akan menganalisa bagaimana merespon langkah yang bertujuan membatasi sumber pendapatan Rusia untuk perang di Ukraina.

Kantor berita Tass melaporkan, juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan, Moskow sudah siap pada pengumuman batas harga minyak yang ditetapkan negara kaya yang tergabung dalam G-7, Uni Eropa dan Australia. "Kami tidak akan menerima batasan itu," kata Peskov seperti dikutip kantor berita Rusia, RIA, Sabtu (3/12/2022).

Baca Juga

Ia menambahkan, Rusia akan menggelar analisa cepat kesepakatan itu dan segera meresponnya. Rusia sudah berulang kali tidak akan memasok minyak pada negara yang mengimplementasikan batasan itu.

Sikap ini ditegaskan kembali Duta Besar Rusia untuk organisasi internasional di Wina, Mikhail Ulyanov di media sosialnya. "Mulai tahun ini Eropa tidak akan mendapatkan minyak Rusia," katanya.

Batas harga minyak G-7 akan mengizinkan negara non-Uni Eropa terus mengimpor minyak mentah Rusia yang dikirimkan lewat laut. Tapi melarang pengiriman, asuransi, dan asuransi ulang perusahaan untuk menangani kargo minyak mentah Rusia ke seluruh dunia.

Kecuali Rusia menjualnya dengan harga 60 dolar per barel. Ini akan memperumit pengiriman minyak mentah Rusia yang harganya diatas itu, bahkan bagi negara yang tidak ikut kesepakatan G-7.

Pada Jumat (3/12/2022), minyak mentah ural Rusia diperdagangkan 67 dolar AS per barel. Menteri Keuangan AS, Janet Yellen mengatakan, batasan ini akan menguntungkan negara pendapatan rendah dan menengah yang menanggung beban harga energi dan pangan tertinggi.

"Dengan perekonomian Rusia yang sudah berkontraksi dan anggaran yang semakin menipis, batasan harga akan segera memotong sumber pendapatan perang (Presiden Vladimir) Putin," kata Yellen dalam pernyataannya.

Dalam komentar yang diunggah di Telegram, Kedutaan Besar Rusia untuk Amerika Serikat mengkritik apa yang disebut langkah "berbahaya" Barat. Kedutaan mengatakan, Moskow akan terus mencari pembeli minyaknya.

"Langkah-langkah seperti ini akan menambah ketidakpastian dan menaikan harga bahan mentah untuk konsumen. Terlepas godaan dengan instrumen berbahaya dan tidak sah ini, kami yakin minyak Rusia masih terus diminati," kata kedutaan.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA