Thursday, 8 Zulhijjah 1443 / 07 July 2022

Putin Berjanji akan Tingkatkan Keamanan untuk Hadapi Serangan Siber

Sabtu 21 May 2022 04:40 WIB

Rep: Alkhaledi Kurnialam/ Red: Christiyaningsih

Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan jumlah serangan siber di Rusia oleh struktur negara asing telah meningkat beberapa kali lipat saat ini. Ilustrasi.

Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan jumlah serangan siber di Rusia oleh struktur negara asing telah meningkat beberapa kali lipat saat ini. Ilustrasi.

Foto: AP/Mikhail Metzel/Pool Sputnik Kremlin
Tingkatkan keamanan siber, Rusia akan batasi penggunaan perangkat asing

REPUBLIKA.CO.ID, MOSKOW – Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan jumlah serangan siber di Rusia oleh struktur negara asing telah meningkat beberapa kali lipat saat ini. Karenanya, Rusia disebut harus meningkatkan pertahanan sibernya dengan mengurangi penggunaan perangkat lunak dan perangkat keras asing.

Situs web perusahaan milik negara dan situs berita telah mengalami upaya peretasan sporadis sejak Rusia mengirim angkatan bersenjatanya ke Ukraina pada 24 Februari. Sering kali untuk menampilkan informasi yang bertentangan dengan garis resmi Moskow tentang konflik tersebut.

Baca Juga

“Upaya yang ditargetkan sedang dilakukan untuk menonaktifkan sumber daya internet dari infrastruktur informasi penting Rusia,” kata Putin, menambahkan bahwa media dan lembaga keuangan telah menjadi sasaran dilansir Al Arabiya, Jumat (20/5/2022).

“Serangan serius telah diluncurkan terhadap situs resmi lembaga pemerintah. Upaya untuk secara ilegal menembus jaringan perusahaan perusahaan Rusia terkemuka juga jauh lebih sering,"tambahnya.

Dalam pertemuan dengan Dewan Keamanan, Putin mengatakan Rusia perlu meningkatkan keamanan informasi di sektor-sektor utama dan beralih menggunakan teknologi dan peralatan dalam negeri.

“Pembatasan terhadap TI asing, perangkat lunak, dan produk telah menjadi salah satu alat tekanan sanksi terhadap Rusia. Sejumlah pemasok Barat secara sepihak menghentikan dukungan teknis peralatan mereka di Rusia," ujarnya. 

Bank terbesar kedua Rusia VTB dikutip oleh media mengatakan beberapa nomor telepon pelanggan telah bocor tetapi tidak ada risiko untuk dana mereka. Pemain e-commerce Wildberry dan pasar online Avito membantah laporan di media Rusia bahwa data mereka telah bocor. Kebocoran data pada awal Maret mengungkap detail pribadi lebih dari 58 ribu orang di aplikasi pengiriman makanan raksasa teknologi Yandex, Yandex.Eda.

Pesaing Yandex.Eda Delivery Club pada Jumat meminta maaf kepada pengguna setelah mengalami kebocoran data atas pesanan yang dilakukan oleh pengguna. “Data tersebut mencakup informasi tentang pesanan dan tidak memengaruhi detail bank. Kami melakukan yang terbaik untuk mencegah penyebaran data,” kata kantor berita TASS mengutip perusahaan itu. 

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA